Hankam

7 Pahlawan Revolusi Korban G30S/PKI, Ini Profil Lengkapnya

Editor: Dwi Badarmanto

Jakarta, KABNews.id – Sebanyak 7 Pahlawan Revolusi korban Pemberontakan Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) atau G30S/PKI menjadi saksi bisu kekejaman di masa lalu. Mereka diculik, disiksa hingga dibunuh oleh para anggota PKI pada 1 Oktober 1965.

Jasad mereka kemudian ditemukan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan. Pembunuhan para perwira tinggi dan perwira pertama militer itu dilakukan PKI dalam sebuah upaya kudeta.

Dikutip dari detik.com, Rabu (29/9/2021), dalam Surat Keputusan Presiden RI No III/Koti/Tahun 1965 tanggal 5 Oktober 1965, mereka yang gugur dinyatakan sebagai Pahlawan Revolusi dan mendapatkan pangkat anumerta atau kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. Kemudian sejak berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2009, gelar pahlawan revolusi juga termasuk Pahlawan Nasional.

Patung 7 Pahlawan Revolusi. (Foto: Museum Nusantara)


Sebagian besar dari para perwira itu merupakan jenderal yang punya pengaruh kuat di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Lalu siapa saja mereka? detikcom merangkum informasinya seperti dilansir dari buku berjudul ‘Ensiklopedia Pahlawan Nasional’ tulisan Julinar Said dan Triana Wulandari dan diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

7 Pahlawan Revolusi Korban G30S/PKI:

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani

Jenderal Anumerta Ahmad Yani lahir 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah. Di masa pendudukan Jepang, dia mengikuti pendidikan Heiho di Magelang, Jateng, dan pendidikan tentara pada Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, Jawa Barat.

Setelah terbentuknya TKR, Ahmad Yani diangkat sebagai komandan di Purwokerto, Jateng. Ahmad Yani juga turut terlibat dalam penumpasan pemberontak PKI Muso di Madiun, Jawa Timur, pada 1948.

Dia menjabat sebagai Komandan Wehrkreise II daerah Kedu, Jateng, di masa Agresi Militer Belanda II dan membentuk pasukan ‘Banteng Raiders’ selama bertugas menumpas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jateng. Ia kemudian berangkat ke Amerika Serikat (AS) untuk belajar pada Command and General Staff College.

Pada 1958, dia diangkat sebagai Komandan Komando Operasi 17 Agustus di Padang, Sumatera Barat, untuk menumpas pemberontak PRRI/Permesta atau Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta.

Pada 1962, Yani diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Kemudian dia difitnah oleh PKI ingin menjatuhkan Soekarno.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari dia diculik oleh PKI dan dibunuh. Jasadnya ditemukan di Lubang Buaya dan kemudian dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional Kalibata.

Letjen TNI Anumerta Raden Suprapto

Letnan Jenderal (Letjen) TNI Anumerta Suprapto lahir pada 20 Juni 1920 di Purwokerto. Ia mengikuti pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan di Bandung, Jabar, namun terputus lantaran Jepang mendarat di Indonesia. Di masa Jepang, Suprapto mengikuti kursus pada Pusat Latihan Pemuda dan bekerja pada Kantor Pendidikan Masyarakat.

Di awal kemerdekaan, dia aktif merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap, Jateng. Kemudian bergabung dengan TKR di Purwokerto dan ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Jateng, sebagai ajudan Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Karir di dinas kemiliteran antara lain sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang, staf TNI Angkatan Darat (AD) di Jakarta, Deputi Kepala Staf TNI AD di Sumatera, dan Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat di Jakarta.

Suprapto menentang keras rencana PKI membentuk Angkatan Kelima atau petani yang dipersenjatai, setelah TNI AD, TNI Angkatan Laut (AL), TNI Angkatan Udara (AU) dan Kepolisian RI (Polri). Pada 1 Oktober 1965 dia dibunuh. Jasadnya ditemukan di Lubang Buaya dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono

Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Anumerta MT Haryono lahir di Surabaya 20 Januari 1924. Pada masa pendudukan Jepang, ia belajar di Ika Dai Gaku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta.

Usai proklamasi, MT Haryono ikut bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Mayor. Karena pandai berbahasa Belanda, Inggris dan Jerman, MT Haryono kerap mengikuti perundingan antara RI dan Belanda atau antara RI dan Inggris.

MT Haryono menjabat sebagai Sekretaris Delegasi RI dan Sekretaris Dewan Pertahanan Negara, kemudian jadi Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan urusan Gencatan Senjata.

Saat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, MT Haryono jadi sekretaris delegasi militer Indonesia. Ia menjadi Atase Militer RI untuk Belanda pada 1950 dan terpilih sebagai Direktur Intendans dan Deputi III Menteri/Panglima AD (1964).

MT Haryono menjadi korban kekejaman G30S/PKI. Pada 1 Oktober 1965 dini hari ia diculik dan dibunuh di daerah Lubang Buaya dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Letjen TNI Anumerta Siswondo Parman

Letjen TNI Anumerta Siswondo Parman atau S Parman lahir 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jateng. Di masa pendudukan Jepang, dia bekerja pada Jawatan Kenpeitai.

Ia pernah ditangkap karena dicurigai Jepang, namun dilepaskan. S Parman juga dikirim ke Jepang untuk memperdalam ilmu intelijen pada Kenpei Kasya Butai.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI, dirinya masuk TKR dan diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta. Pada Desember 1939, ia diangkat sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya.

S Parman juga mendapat tugas belajar di Military Police School, AS pada 1951. Pada 1959, dia diangkat sebagai Atase Militer RI di London, Inggris.

Selang lima tahun kemudian, S Parman diserahi tugas sebagai Asisten 1 Menteri/Pangliman AD dengan pangkat Major Jenderal. Sebagai perwira tinggi AD, dia sangat tahu seluk-beluk usaha pemberontakan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima.

Pada pada 1 Oktober 1965, dia diculik dan dibunuh. Jasadnya ditemukan di Lubang Buaya dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Mayjen TNI Anumerta Donald Ignatius Panjaitan

Mayjen TNI Anumerta Donald Ignatius (DI) Panjaitan lahir 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli, Sumatera Utara. Di masa Jepang, ia melalui pendidikan militer Gyugun dan kemudian ditempatkan di Pekanbaru, Riau, sampai Proklamasi Kemerdekaan RI.

DI Panjaitan ikut serta membentuk TKR dan diangkat sebagai Komandan Batalyon. Pada 1948, ia menjabat Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, Sumbar. Kemudian DI Panjaitan juga terpilih sebagai Kepala Staf Umum IV Komandan Tentara Sumatera.

Pada Agresi Militer Belanda II, dia bertugas sebagai pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintahan Darurat RI (PDRI). Kemudian menjabat Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan di Medan, Kepala Staf Tentara dan Teritorium II Sriwijaya di Palembang, dan bertugas ke luar negeri sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Selanjutnya DI Panjaitan diangkat menjadi Asisten IV Menteri/Panglima AD dan dapat tugas belajar di AS.

Pada 1 Oktober 1965 dia diculik dan dibunuh oleh PKI. Jasadnya dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional Kalibata.

Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo lahir 28 Agustus 1922 di Kebumen, Jateng. Pada masa pendudukan Jepang, dia belajar di Balai Pendidikan Pegawai Tinggi di Jakarta dan kemudian jadi pegawai negeri di Kantor Kabupaten Purworejo.

Pasca Indonesia merdeka, dia bergabung dengan TKR bagian kepolisian lalu menjadi anggota Corps Polisi Militer (CPM).

Sutoyo Siswomiharjo diangkat sebagai ajudan Kolonel Gatot Subroto dan kemudian dipilih sebagai Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara di Purworejo. Dia kemudian berkarier di CPM di Yogyakarta hingga Surakarta, Jateng.

Lantaran tidak setuju dengan pembentukan Angkatan Kelima PKI, Sutoyo diculik dan dibunuh pada 1 Oktober 1965. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlaman Nasional Kalibata.

Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean (Ajudan Jenderal AH Nasution)

Kapten TNI Anumerta Piere Tendean lahir 21 Februari 1939 di Jakarta. Ia lulus dari Akademi Militer Jurusan Teknik pada 1962.

Setelah lulus, Piere Tendean menjabat Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Komando Daerah Militer II/Bukit Barisan di Medan. Ia turut bertugas menyusup ke Malaysia saat Indonesia berkonfrontasi dengan negeri jiran itu.

Pada April 1965, Pierre Tendean diangkat sebagai ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris Nasution. Pada 1 Oktober 1965, saat PKI mengepung rumah AH Nasution, ia turut ditangkap dan dibunuh. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Selain 7 Pahlawan Revolusi korban G30S/PKI di atas, sebenarnya ada sejumlah pahlawan lainnya yang menjadi saksi bisu kekejaman G30S/PKI. Antara lain:

AIP II Anumerta Karel Satsuit Tubun

Saat bertugas sebagai pengawal kediaman resmi dr J Leimena, yang berdampingan dengan rumah Jenderal AH Nasution, Ajun Inspektur Polisi (AIP) II Anumerta Karel Satsuit Tubun ikut melawan gerombolan PKI yang datang. KS Tubun melawan dan ditembak oleh PKI hingga gugur. Jenazahnya juga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata dan mendapat gelar Pahlawan Revolusi dan Pahlawan Nasional.

Ade Irma Suryani (Putri Jenderal AH.Nasution)

Ade Irma Suryani Nasition adalah putri dari Jenderal AH Nasution. Gadis kecil itu meninggal dunia saat gerombolan PKI masuk ke kediaman orangtuanya.

Kolonel TNI Anumerta Sugiyono

Saat kembali dari Pekalongan, Jateng, Kolonel TNI Anumerta Sugiyono ditangkap di Markas Korem 072/Pamungkas oleh PKI pada 1 Oktober 1965. Ia dibunuh di daerah Kentungan, Yogyakarta.

Jenazahnya ditemukan pada 22 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia mendapat gelar Pahlawan Revolusi dengan gelar Anumerta. Kolonel Sugiyono juga masuk dalam daftar Pahlawan Nasional

Kolonel TNI Katamso Darmokusumo

Saat menjabat Komandan Komando Resort Militer (Korem), Kolonel TNI Katamso Darmokusumo diculik dan dibunuh oleh PKI pada 1 Oktober 1965. Jenazahnya ditemukan 22 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia mendapat gelar Pahlawan Revolusi dengan gelar Anumerta. Katamso juga masuk dalam daftar Pahlawan Nasional.

Comment here