Hukum

Agun Gunandar: Kebakaran Lapas Tangerang Bukan Karena Kelebihan Penghuni

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Anggota DPR RI Agun Gunandjar Sudarsa menyatakan, kasus kebakaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Rabu (8/9/2021) dini hari yang menewaskan 44 orang narapidana tidak terkait dengan jumlah penghuni yang melebihi kapasitas atau over capacity.

“Bukan masalah overcrowded (terlalu penuh), karena overcrowded itu masalah umum yang terjadi di seluruh lapas,” ungkap politikus Partai Golkar itu dalam rilis yang diterima KABNews.id, Kamis (9/9/2021).

Agun, yang pernah menjadi sipir di Lapas Kelas I Tangerang tahun 19821985 setelah lulus dari Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP), atau jauh sebelum menjadi politisi dan berkantor di Senayan, ini menyakini ada Standard Operating Procedure (SOP) pengamanan lapas yang tidak dijalankan secara benar, sehingga terjadi kebakaran.

Dia menyebut lapas punya SOP dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi selama mengawasi warga binaan, termasuk kebakaran. Salah satu prosedur pencegahan itu adalah kontrol rutin untuk mencegah masalah di blok-blok yang dihuni narapidana.

Agun Gunandjar Sudarsa. (Foto: FokusJabar)

“Saya pernah laksanakan kontrol malam-malam di deras hujan, tanpa paying, tanpa jas hujan, bawa senter dijinjing. Kontrol blok muterin seluruh kamar, seluruh blok, seluruh pos penjagaan, butuh waktu 1 jam lebih. Keesokan paginya kertas yang tercetak di control clock ditempel di buku laporan, diperiksa atasan untuk diteruskan ke Kalapas,” jelas Agun.

Selain SOP, Agun menyebut ada masalah terkait kualitas dan mentalitas petugas, juga kontrol berjenjang mulai dari bawah yang tidak maksimal. “Permasalahan di lapas harus didekati secara legal dan factual. Yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan narapidana yang meskipun dihilangkan kemerdekaannya, tetapi merupakan manusia yang tetap memiliki hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan manusiawinya,” papar Agun.

Secara teoritis, kata Agun, narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana, hilang kemerdekaannya di lapas, seperti dimaksud Pasal 1 angka 7 Undang-Undang (UU) No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. “Narapidana tetap manusia biasa yang memiliki kebutuhan, yang hakikatnya sebagai manusia yang manusiawi dan memiliki hak, di antaranya hak mendapat perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani; hak mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak,” terang Agung merujuk ketentuan dalam Pasal 14 ayat (1) huruf b dan d UU No 12/1995.

Prosedur

Lantas, bagaimana jika kebakaran terjadi di lapas? Langkah pertama, kata Agun, adalah mengevakuasi napi. “Evakuasi dilakukan setelah lapor Kalapas dan saat itu juga lapor kepolisian setempat. Buka-tutup kunci sudah ada protap (prosedur tetap) dan tahapan dalam SOP,” tukas wakil rakyat dari Jawa Barat ini.

Napi, lanjutnya, tak otomatis kabur saat pintu kamar dibuka karena ada beberapa pintu kunci yang bertahap dan terintegrasi. Mulai pintu kamar, pintu blok, pintu brandgang, pintu portir dalam, lalu pintu portir luar.

“Berlapis, pembukaannya tidak sekaligus. Mulai dari faktor penyebab kebakaran, langkah awal buka kunci-kunci kamar. Berkumpul di blok, apabila kebakaran tak teratasi terus melebar, buka kunci blok. Juga lebih melebar baru buka pintu berikutnya, dan seterusnya. Itu cukup untuk langkah-langkah antisipasi korban yang lebih banyak,” bebernya.

Karena itu, Agun heran ada 44 napi meninggal di lokasi saat api membesar di Lapas Kelas I Tangerang, jumlah yang amat besar dan perlu penjelasan secara kronologis serta lokasi bangunan, blok, kamar serta fasilitas dijelaskan secara detail.

“Apakah mereka terkunci oleh satu kunci? Dalam satu blok atau lebih atau bagaimana?

Apakah sama sekali tidak ada upaya pemadaman cepat, pembukaan kunci, dan upaya sebagainya untuk menyelamatkan warga binaan? Siapa-siapa saja warga binaan di dalamnya? Adakah biang atau bandar narkoba?” tanya Agun. “Ini penting agar tidak berkembang ke hal-hal yang di luar teknis, apalagi sampai menjadi isu politik,” sambungnya.

Agun turut menyampaikan prihatin dan berduka cita mendalam atas meninggalnya 44 warga binaan dalam kebakaran Lapas Kelas I Tangerang. “Saya mengusulkan untuk dijelaskan kronologinya, disertai lokasi dan sarana prasarannya, secara jujur. Pasti publik menerimanya, tidak jadi riuh perdebatan di publik,” pungkasnya.

Insiden kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang, Banten, terjadi pada Rabu (8/9/2021) dini hari sekitar pukul 1.45 WIB. Insiden tersebut hingga kini telah menewaskan 44 napi korban, dan lima di antaranya dirawat intensif. Dugaan sementara, kebakaran terjadi akibat korsleting listrik,, namun pihak kepolisian menyebut ada dugaan tindak pidana dalam kejadian tersebut.

“Karena diduga terjadi tindak pidana, maka kami mengumpulkan alat bukti,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Adi Hidayat, Rabu (8/9/2021).

Comment here