Politik

Agun Gunandjar dan Pilihan Jalan Sunyi Seorang Politisi

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Seorang politisi harus banyak berkontemplasi. Kalau perlu menempuh jalan sunyi. Itu kalau mau terhindar dari polusi.


Polusi itu bisa berarti memperkaya diri. Polusi itu bisa berarti mau menangnya sendiri. Polusi itu bisa berarti caci maki. Polusi itu bisa berarti sensasi tanpa kontribusi.


Kontemplasi dan jalan sunyi itulah yang kini banyak dilakukan dan menjadi pilihan politisi Partai Golkar Agun Gunandjar Sudarsa.


Terpilih sebagai anggota DPR RI sejak 1997 hingga kini, Agun Gunandjar telah terbukti sebagai politisi “sakti”. Rezim penguasa partai boleh datang silih berganti, sejak Harmoko, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Setya Novanto hingga kini Airlangga Hartarto, tapi kursi legislatif Agun tetap aman.

Agun Gunandjar Sudarsa. (Foto: Dokumen pribadi)

“Karena yang memilih anggota DPR itu rakyat. Elite partai hanya perantara urusan administrasi. Sepanjang kita amanah dan dekat dengan rakyat, insya Allah akan aman,” ujar Kang Agun, panggilan akrab urang Sunda itu, kepada KABNews.id yang menghubunginya dari Jakarta, Ahad (26/9/2021).


Agun pun mengirimkan foto diri bersama sang istri yang sedang beristirahat selepas salat di musala sebuah SPBU di Tasikmalaya, lanjut ke Garut, Jawa Barat. Mereka sedang memempuh perjalanan usai mengunjungi konstituen di daerah pemilihannya, Jawa Barat X yang meliputi Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran.


Agun banyak melakukan kegiatan sosial di dapilnya, termasuk membagikan sembako di masa pandemi Covid-19 ini. Apalagi di masa reses.


“Ini juga jalan sunyi untuk menyapa rakyat setiap saat. Tanpa publikasi. Tanpa sensasi. Yang penting bisa berkontribusi bagi rakyat atas masalah-masalah yang mereka hadapi,” kata Agun.


“Saya di dunia politik ini juga harus bisa memberikan kemanfaatan atas segala apa yang dimilki,” lanjut Anggota Komisi XI DPR RI ini.


Di parlemen pun Agun tampak mengurangi, bahkan cenderung menghindari media. Tak perlu publikasi dan sensasi dengan banyak bicara di depan media, yang penting ia menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai legislator dengan baik, dalam hal pengawasan, legislasi, dan pengusunan anggaran. Dalam rapat-rapat dengan mitra kerjanya dI Komisi XI DPR, Agun tergolong aktif menyampaikan pendapat atau sekadar bertanya. Agun juga temasuk wakil rakyat yang rajin hadir rapat. Bahwa aktivitasnya terliput oleh media atau tidak, “Itu bukan urusan saya,” cetus Agun.


Terbukti, rakyat selalu memilih pria low profile kelahiran Jakarta 13 November 1958 ini sebagai wakil rakyat. Artinya, Agun mendapat amanah dari rakyat dari satu pemilu ke pemilu lain.


Agun kemudian berbicara tentang dua kunci suksesnya dalam hidup, yang telah ia bukukan dalam “Hidup Sukses dengan Lima Jari”.


“Toleransi dan kolaborasi merupakan dua kunci dalam hidup. Namun, saya biasa menerjemahkan itu dengan bahasa populer yaitu salam sukses lima jari,” jelas “anak kolong” ini.


Menurut dia, manusia bisa menghargai, menghormati dan mengakui keberadaan orang lain dengan cara toleransi. Toleransi, katanya, harus dimulai dari sendiri.


“Toleransi bukan dilakukan dengan cara kita menuntut orang lain harus mengakui keberadaan kita. Namun, kita harus memberikan ruang untuk mengakui dan menghormati keunikan masing-masing. Kita harus memberikan ruang kepada mereka untuk berinteraksi,” paparnya.


Selain toleransi, lanjut Agun, kolaborasi juga penting dalam kehidupan agar posisi kita tetap setara. “Bila kita tidak bisa berkolaborasi, kita selalu merasa posisi kita lebih tinggi dari orang lain,” jelasnya.


Menurutnya, jika berkolaborasi, maka kita akan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berbicara atau mengutarakan pikirannya.


Agun juga menekankan kolaborasi di dalam raga kita juga tidak kalah penting. “Kita juga harus memposisikan semua organ dalam raga kita penting. Jangan tangan lebih penting dari kaki atau sebaliknya. Semuanya penting, setiap organ tubuh saling berkolaborasi satu sama lain,” ungkapnya.


Cara bertoleransi juga harus diterapkan pada raga. “Kita harus disiplin waktu. Contohnya seperti kita harus tahu kapan waktu tidur, kerja dan istirahat,” tegasnya.


Kini, mantan Ketua Fraksi Partai Golkar MPR itu lebih banyak berkontemplasi dan menempuh jalan sunyi. Ia lebih intens beribadah, mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. “Semua ada batasnya. Umur kita pun terbatas. Di usia yang tak muda lagi ini, sudah saatnya kita mengurangi urusan duniawi,” tandas Agun.

Comment here