Jaga Budaya

Amanda Manopo yang Kristen Mau Bangun Masjid, Islam Perbolehkan

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Artis yang terkenal lewat sinetron “Ikatan Cinta” mau membangun masjid, rumah ibadah umat Islam. Padahal ia sendiri orang Kristen. Bagaimana menurut hukum Islam?

Sebagai ungkapan rasya syukur atas rezeki berlimpah yang diterimanya, Amanda Manopo mengutarakan niatnya membangun masjid melalui unggahan Insta Story-nya di akun Instagram @amandamanopo. “Bismillahirrahmanirrahim, atas izin Allah SWT dan rezeki yg diberikan dengan segala kerendahan hati berencana ingin membangun mesjid,” tulis Amanda Manopo.

Amanda Manopo bahkan membuka kesempatan kepada warganet untuk memberi informasi tempat mana yang membutuhkan rumah ibadah. Amanda Manopo mempersilakan warganet untuk memberi tahu daerah tersebut.

Jika berkenan adakah rekomendan daerah/wilayah/tempat yang bisa dijadikan tempat ibadah atau ingin adanya tempat ibadah di daerah tersebut. Terimakasih sebelumnya,” tulis Amanda Manopo, dikutip dari viva.co.id, Ahad (19/9/2021).

Ia berpesan, informasi soal lokasi calon masjid tersebut agar dikirim ke manajernya, Ricco.

Amanda Manopo. (Foto: Liputan6.com)

Islam Tak Melarang

Sementara itu, Imam dan Direktur Komunitas Muslim di Western Suburbs, Canton, Amerika Serikat, Ali Suleiman Ali mengatakan tidak ada salahnya menerima sumbangan dari tetangga Kristen untuk menyelesaikan pembangunan masjid.

“Anda dapat menerima sumbangan dari tetangga Kristen untuk membangun masjid,” kata Ali yang juga anggota Dewan Pengawas Institut Pembelajaran Amerika untuk Muslim (ALIM), dikutip dari Republika.co, Selasa (22/6/2021).

Ali menjelaskan hukum boleh tersebut berdasarkan pada kisah Nabi Muhammad SAW yang juga menerima hadiah dari Muqawqis, Raja Mesir, serta Raja Roma pada saat mereka non-Muslim. Donasi adalah hadiah. 

“Para ahli hukum Muslim dengan suara bulat setuju Anda dapat menerima hadiah dari non-Muslim sama seperti Anda dapat memberikan hadiah kepada non-Muslim,” ujar Ali.

Begitu juga dengan empat ahli hukum terkemuka tidak berbeda dalam menerima wasiyyah (warisan) dan wakaf (wakaf) dari seorang dhimmi (non-Muslim yang hidup dalam masyarakat Muslim). Kemudian Al Quran juga tidak melarang umat Muslim berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memusuhi Muslim. 

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari rumahmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil,” (QS Al Mumtahanah ayat 8).

Namun demikian, Ali menambahkan, ada beberapa ulama yang berbeda pendapat dalam hal ini. Mereka menyarankan tidak mengambil sumbangan dari non-Muslim untuk membangun masjid. “Saya tidak akan menyajikan argumen mereka di sini karena ini bukan makalah penelitian, ini hanya menjawab pertanyaan,” ujar Ali.

Dikutip dari buku M Quraish Shihab Menjawab, Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya berada di Makkah selama 13 tahun. Mereka berhubungan dagang atau jual beli dengan non-Muslim tanpa memandang kehalalan hasil usaha mereka.

Demikian juga di Madinah, menurut M Quraish, Nabi Muhammad juga berinteraksi dengan mereka (khususnya orang-orang Yahudi) dalam bentuk mengambil dan memberi serta saling menghadiahi tanpa mempertimbangkan keabsahan usaha mereka. Padahal, orang-orang Yahudi sangat populer sebagai orang-orang yang melakukan riba (yang diharamkan).

Menurut M Quraish, ulama-ulama keempat mazab menetapkan bolehnya kaum Muslim bermuamalah dengan non-Muslim serta menerima hadiah mereka dan wasiat-wasiat mereka, termasuk dalam pembangunan atau pemakmuran masjid.

Menurut M Quraish, hal ini karena kaidah-kaidah umum dalam Islam membenarkan segala bentuk transaksi dan akad-akad keuangan antara kaum Muslim dengan selain mereka. Menurut dia, hal itu difatwakan oleh Mufti Mesir, almarhum Syekh Jad al-Haqq.

M Quriash mengatakan, kebolehan ini tentu selama tidak ada dampak negatif dari muamalah itu, baik dalam bentuk dugaan keras membenarkan atau merestui ajaran yang sesat maupun merugikan umat.

Comment here