Jaga Budaya

Anak-anak Rentan Depresi karena Ditekan Belajar, Kak Seto: Orangtua Perlu Lebih Peduli

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – “Orangtua perlu sangat peduli dengan pengamatan yang sangat serius terhadap putra-putrinya. Kalau biasanya ceria, sinar matanya, wajahnya penuh senyuman, tiba-tiba dia berubah redup, hanya diam saja, kadang melakukan perilaku aneh, tengah malam teriak-teriak atau tidak mau makan, mengunci diri di kamar dan sebagainya, maka itu salah satu tanda depresi,” kata psikolog anak Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto dalam konferensi pers virtual, Kamis (9/9/2021), dikutip dari Kompas TV, Jumat (10/9/2021).

Ya, risiko depresi di tengah pandemi Covid-19 tidak hanya rentan terjadi pada orang dewasa, ternyata juga rentan terjadi pada anak-anak. Salah satunya, menurut Kak SEto, penyebab depresi pada anak terjadi karena dipicu oleh cara mendidik dan mengajar orang tua yang terlalu menekan. Padahal, belajar bukanlah kewajiban, melainkan hak anak.

Selain itu, Kak Seto juga menyebut apabila depresi pada anak didiamkan saja ternyata berpotensi terhadap kerentanan fisik anak untuk terpapar infeksi virus Covid-19. Oleh karena itu, Kak Seto mengimbau kepada orangtua untuk lebih memperhatikan anak di masa pandemi.

Seto Mulyadi alias kak Seto. (Foto: liputan6.com_

Jika anak terlihat mengalami perubahan perilaku, orangtua diminta untuk tidak semakin menekan dengan tuntutan belajar. Sebab, pada dasarnya anak-anak senang belajar.

Namun jika prosesnya ditekan dengan cara dimarahi atau dibentak, justru tinggi risiko anak untuk mengalami depresi dan perubahan perilaku. “Bukan wajib belajar, tetapi hak belajar karena semua anak senang belajar. Dari kecil belajar tengkurap, duduk, berjalan, belajar berbicara. Itu kan tidak ada yang dibentak-bentak. Semua senang belajar,” jelas Kak Seto.

Kak Seto yang juga Kepala Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menyebut apabila orangtua terus memaksa anak dalam belajar dan menggunakan kekerasan. Maka menurutnya hal itu dapat disebut sebagai kekerasan terhadap anak atas nama pendidikan.

“Kalau orangtua memaksakan target-target kurikulum kepada putra-putrinya dengan cara kekerasan, maka tanpa disadari ini adalah kekerasan terhadap anak atas nama pendidikan,” pungkasnya.

Comment here