Opini

Arteria Dahlan di Persimpangan Jalan

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id.

Bak menghadapi buah simalakama: dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Itulah yang terjadi dengan Arteria Dahlan, anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Ia ada di persimpangan jalan antara mempertahankan atau kehilangan kursi dewan. Antara pragmatisme atau idealisme.

Simalakama itu bermula dari keributannya dengan seorang wanita yang mengaku sebagai putri seorang jenderal bintang tiga TNI di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Ahad (21/11/2021). Keduanya baru saja landing dengan pesawat yang sama. Bedanya, Arteria dan ibundanya di kelas ekonomi, wanita itu di kelas bisnis. 

Saat hendak keluar pesawat, wanita itu merasa terhalangi jalannya oleh Arteria dan ibundanya. Arteria mengklaim, wanita itu memaki dirinya dan ibundanya. Insiden kecil pun tak terelakkan. Akhirnya kedua pihak sama-sama melapor ke Polresta Bandara Soetta dengan tuduhan pasal yang sama: pencemaran nama baik! 

Arteria memgklaim, saat dirinya menyampaikan jati dirinya sebagai anggota DPR, wanita itu malah menantang dengan mengaku mengenal ketua umum-ketua umum partai. Arteria pun diancam akan diadukan ke ketua umum partainya supaya namanya hancur.

Usai insiden kecil itu, Arteria mendapat telepon dari Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi. Politikus PDIP itu bermaksud melerai perselisihan, setelah sebelumnya mendapat telepon dari wanita yang konon putri jenderal itu.

Tak sampai di situ. Bambang “Pacul” Wuryanto, Ketua Komisi III yang juga Sekretaris Fraksi PDIP DPR menyatakan perselisihan Arteria dengan putri jenderal itu tak perlu diperpanjang. Konflik keduanya akan diselesaikan dengan baik, sebagai sesama anak bangsa. 

Di titik inilah klaim wanita itu mengaku kenal dengan ketua umum-ketua umum parpol menemukan relevansinya, termasuk mungkin dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Indikasinya, Arteria langsung mengaku takut dengan ketua umum partainya. Arteria menyatakan loyalitasnya tegak lurus kepada Megawati.

Dari titik inilah, klaim wanita itu putri seorang jenderal juga kian menemukan relevansinya. Yang pasti, putri jenderal atau bukan, dia adalah wanita kuat. 

Kalau bukan wanita kuat, bagaimana mungkin ia berani melawan anggota DPR? Kalau bukan wanita kuat, bagaimana mungkin Ketua DPRD DKI mencoba melakukan intervensi kasus yang cuma ranah privat, bukan ranah publik?

Kalau bukan wanita kuat, bagaimana mungkin namanya tidak serta-merta tersebar luas? Sampai tulisan ini disusun, penulis belum mendapat informasi siapa nama terang wanita arogan itu.

Dari hasil penelusuran Wakil Ketua Komisi I DPR dari PDIP Tubagus Hasanuddin diketahui wanita tersebut dijemput dengan mobil dinas TNI bernomor 75194-03. Mobil itu milik anggota TNI berpangkat brigadir jenderal (bintang satu) yang kini bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN). Wanita arogan itu diketahui bersama brigjen tersebut.

Kalau bukan wanita kuat, bagaimana mungkin PDIP tidak menempuh langkah hukum? Pacul adalah orang dekat Megawati. Suara Pacul patut dipercaya sebagai suara Megawati. Pacul penyambung lidah putri Bung Karno itu. 

Lazimnya, Pacul akan menyatakan, PDIP akan melakukan pendampingan kepada kadernya, Arteria Dahlan, dalam menghadapi persoalan dengan wanita itu. Biarkan proses hukum berjalan. Selain menjunjung tinggi supremasi hukum, juga demi menjaga marwah DPR. Senayan jangan sampai takluk melawan wanita arogan. 

Tapi itu tidak dilakukan Pacul. Orang dekat Puan Maharani itu malah menghendaki perselisihan Arteria dengan wanita itu diselesaikan secara adat. Di titik inilah Arteria menghadapi buah simalakama. Ia ada di persimpangan jalan, antara menempuh langkah hukum dan solusi adat. Semua ada konsekuensinya. 

Suara Arteria pun mulai melemah. Bila sebelumnya gahar, kini mulai lembek. Ia menyerahkan kasusnya itu ke polisi dan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Saya cuma anggota DPR, kata Arteria. Anggota DPR kok cuma? Anggota DPR itu pejabat tinggi negara, bahkan setara dengan Presiden.

Padahal, bekas pengacara itu biasanya bersuara lantang. Simak saja, misalnya, baru-baru ini ia menyerukan agar polisi, jaksa dan hakim tidak boleh dilakukan operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena mereka adalah simbol-simbol negara dalam penegakan hukum, kendati logika ini salah kaprah.

Usai insiden kecil itu, Arteria juga menyerukan agar Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman mengikapi arogansi wanita yang mengaku putri jenderal itu. Arteria kelihatan bertenaga. Tapi kenapa tiba-tiba kini ia lemah? 

Suara Arteria mendadak parau. Ia menyerahkan kasusnya ke polisi dan MKD. Di sisi lain, pihak Polresta Bandara Soetta siap melakukan mediasi. Inilah sinyal kuat adanya penyelesaian secara adat itu. 

Robohnya Marwah Parlemen Kami

Apakah Arteria benar-benar takut kepada Megawati? Kalau takut berarti rasional dan realistis. Selain di TNI dan Polri, di partai juga ada garis komando. Apalagi PDIP. Setiap kader harus loyal dan tegak lurus dengan garis komando partai. Jika tidak, bisa didepak.

Beranikah Arteria mempertaruhkan kursinya demi idealisme? Berani taruhan potong kuku jari, dia pasti tak akan berani. Soal ibundanya dimaki-maki, biarlah itu urusan nanti. 

Pada akhirnya Arteria akan mengikuti garis komando partainya. Pragmatisme pun tak terelakkan lagi. Sebab, tujuan akhir dari poltikus adalah kursi eksekutif atau legislatif. Kini ketika kursi legislatif sudah ada di dalam genggaman tangan Arteria, masak mau dilepaskan?

Dengan itu, marwahnya sebagai anggota DPR pun akan runtuh. Bahkan mungkin anggota DPR secara keseluruhan. Mereka ternyata kalah melawan arogansi. Lalu terjadi apa yang disebut “robohnya marwah parlemen kami”.

Kecuali bila nanti wanita arogan itu minta maaf, tanpa proses hukum pun marwah DPR tak akan runtuh. Tapi mungkinkah wanita kuat itu akan minta maaf? Akankah Arteria Dahlan meneruskan proses hukum kasus ini? Kita tunggu saja episode selanjutnya.

Comment here