Opini

Aziz Syamsuddin Pun “Pecah Telur”

Oleh: Karyudi Sutajah PutraPemimpin Redaksi KABNews.id

Seperti iklan teh botol, apa pun kasusnya, nama Aziz Syamsuddin nyaris selalu ada. Tapi sesering namanya disebut, sesering itu pula Aziz tak tersentuh. Ia licin bagai belut. Ia lincah bagai tupai. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan kawal juga. Sampai akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan menetapkannya sebagai tersangka suap Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah. Aziz pun “pecah telur”.

Akankah terjadi efek domino, yakni Wakil Ketua DPR RI itu ditetapkan sebagai tersangka kasus-kasus lain? Terutama yang nama dia disebut dalam persidangan. Paling mutakhir adalah kasus suap lelang jabatan di Pemerintah Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, yang melibatkan Walikota Tanjungbalai M Syahrial dan penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju.

Dihimpun dari berbagai sumber, dalam kasus dugaan suap mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari terhadap Robin Pattuju pun nama Aziz disebut-sebut.

Jauh sebelumnya, tahun 2012, nama Aziz terseret dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Kawasan Pusat Kegiatan Pengembangan dan Pembinaan Terpadu Sumber Daya Manusia Kejaksaan di Ceger, Jakarta Timur. Azis disebut membantu Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin meloloskan usulan proyek Kejaksaan Agung sebesar Rp 560 miliar di Komisi III DPR RI. Nazaruddin menyebut Azis menerima US$ 50.000 sebagai fee meloloskan proyek.

Tahun 2013, nama Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu disebut terlibat dalam kasus korupsi Simulator SIM yang melibatkan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo.

Kini, KPK dikabarkan telah menetapkan Aziz Syamsuddin sebagai tersangka. Dia tidak hadir saat hendak diperiksa, “Jumat Keramat” (24/9/2021) ini. Akankah Aziz ditahan jika datang?

Kita tidak tahu pasti. Seperti kita juga tidak tahu apakah KPK benar-benar serius menangani kasus Aziz. Sebab saat ini KPK bisa menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Terbukti KPK pernah menerbitkan SP3 kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dengan tersangka Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim.

Sampai ke pengadilan pun belum tentu Aziz divonis bersalah. Buktinya, mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung pun pernah lepas.

Apalagi Aziz dikenal sebagai orang kuat. Kalau bukan orang kuat, bagaimana bisa ia memanggil penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju ke rumahnya? Bagaimana pula ia tahu kalau KPK sedang menyelidiki perkara tertentu?

Beringin Dihantam Badai

Ditambah Aziz Syamsuddin, maka hanya dalam waktu sepekan dua kader terbaik Partai Golkar ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Sebelumnya adalah anggota DPR RI yang juga mantan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Alex ditetapkan Kejaksaan Agung dalam dua kasus korupsi sekaligus hanya dalam waktu enam hari, yakni korupsi pembelian gas bumi oleh BUMD Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Pemprov Sumsel periode 2010-2019, dan korupsi dana hibah Masjid Sriwijaya, Palembang.

Partai berlambang Beringin itu pun ibarat dihantam badai. Benarkah? Tidak. Bagi Golkar, apa yang menimpa dua kadernya itu hanya ibarat badai di dalam gelas yang guncangannya sangat kecil. Sebagai partai senior, Golkar selalu punya cara untuk menyelesaikan masalahnya.

Patah tumbuh hilang berganti. Banyak kader yang siap menggantikan keduanya, baik Aziz sebagai Wakil Ketua DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, maupun Alex sebagai anggota DPR RI.

Bahkan bagi kalangan internal Golkar, apa yang menimpa Aziz dan Alex merupakan “blessing in disguise” atau berkah di balik musibah. Mereka tak pernah mengharapkan musibah itu terjadi. Tapi kalau sudah terlanjur terjadi, harus diambil hikmahnya. Bahkan ada kader yang akan mendapat berkah dengan menggantikan Aziz dan Alex di posisi masing-masing.

Kini yang harus kita kawal adalah keseriusan KPK. Kalau lembaga antirasuah ini benar-benar serius, akan ada efek domino dari dikabarkannya penetapan Aziz Syamsuddin sebagai tersangka.

Juga terhadap kasus-kasus lain, seperti kasus suap politikus PDIP Harun Masiku. Kalau Aziz dijerat namun Masiku tidak, KPK bisa dituduh tebang pilih.

Comment here