Opini

Bahkan Khalifah Harun Ar-Rasyid Pernah Disamakan Firaun

Oleh: Muchus Budi R

Jakarta, KABNews.id – Siapa tidak kenal keagungan dan kehebatan Harun Ar-Rasyid, khalifah kelima dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Pada masa pemerintahannya, Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaan dan ilmu pengetahuan berkembang pesat di Timur Tengah.

Namun demikian, khalifah yang sangat dikenal kesalehan, kecerdasan, dan kedermawanannya itu pun pernah disamakan dengan Firaun, raja lalim dari Mesir kuno.
Cerita tentang hal itu sangat masyhur diceritakan di pesantren-pesantren tradisional. Abu Khalid dalam buku Seribu Kisah: Nabi Khidir dan 9 Tokoh Sufi juga memasukkan cerita tersebut sebagai kisah keteladanan para sufi dalam menjalani kehidupannya.

Diceritakan bahwa pada saat itu Khalifah Harun Ar-Rasyid sedang merasa gundah dan suntuk. Dia merasa jenuh dengan segala kebesaran dan kemegahannya sebagai seorang khalifah yang agung. Selain itu dia juga merasa bahwa sebagai amirul mukminin atau pemimpin kaum mukmin, merasa masih banyak melakukan kekurangan dan kesalahan.

Puncaknya, suatu malam dia memanggil Fazl Bermesid, orang kepercayaan yang diangkatnya sebagai penasihat kerajaan. Harun Ar-Rasyid memerintahkan kepada Fazl agar mengantarkannya untuk bisa bertemu dengan orang alim yang bisa memberikan pencerahan atas segala kegundahannya itu.

Oleh Fazl, Harun Ar-Rasyid diajak mengunjungi kediaman Syeikh Sufyan bin Uyaynah, seorang alim yang sangat terkenal di masa itu. Namun Syeikh Sufyan mengaku bukan orang yang tepat untuk ikut membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi Sang Khalifah itu. Dia justru menyarankan Sang Khalifah datang dan meminta nasihat kepada Syeikh Fudhail bin Iyadh.

Siapakah Fudhail? Dia adalah seorang pengamal tasawuf yang hidup sezaman dengan Syeikh Abu Nuwas, Syeikh Sufyan bin Uyaynah. Dia juga dikenal pengetahuannya yang luas di bidang ilmu hadits yang dia pelajari dari ahli hadits, Syeikh Sufyan ats-Tsauri.

Sepanjang hidupnya, Fudhail bin Iyadh terkenal sangat tegas memasang jarak dengan kemewahan dunia dan kekuasaan. Fudhail pernah menyampaikan peringatan tegas kepada para ulama di masa itu, “Tidakkah seseorang dari kalian malu kepada Allah bila datang kepada para penguasa lalu mendapatkan harta dari mereka, sementara dia tidak mengetahui dari mana asalnya harta itu.”

Bahkan dia disebut pernah membuat pernyataan sangat keras, “Seseorang mendekati bangkai yang berbau busuk jauh lebih baik dari pada mendekati penguasa.”

Ketika Harun Harun Ar-Rasyid dan Fazl tiba di depan rumahnya, Fudhail menutup rapat pintunya. Dia tetap berpegang pada pendapatnya untuk enggan berurusan dengan penguasa, meskipun sang penguasa itu yang datang kepadanya, bukan sebaliknya. Namun Fazl tetap memaksa, bahkan mengancam akan mendobrak pintu rumah Fudhail jika tetap menolak kehendak Sang Khalifah untuk bertemu.

Ketika Harun Ar-Rasyid melangkah masuk rumah, Fudhail langsung mematikan lampu rumah agar dia tak memandang wajah Sang Khalifah. Fudhail segera membeberkan pesan Nabi Muhammad kepada Al-Abbas, leluhur Sang Khalifah, tentang pertanggungjawaban seorang pemimpin di hari perhitungan kelak. Diceritakan pula kegundahan dan kesedihan Umar bin Abduk Aziz, ketika diangkat menjadi khalifah.

Selanjutnya, Fudhail terus mencecar Harun Ar-Rasyid dengan sejumlah nasihat dan peringatan keras terutama terkait kewajiban-kewajiban yang selama ini masih belum dilaksanakannya sebagai khalifah. Terus dicecar dengan berbagai kebenaran yang dilontarkan Fudhail, membuat Sang Khalifah terpukul dan menangis sejadi-jadinya, bahkan hingga limbung karena beban kepedihannya.

Melihat kondisi tersebut Fazl memotong pembicaraan Fudhail, “Cukup! Engkau telah membunuh Amirul Mukminin!”

Namun Fudhail membalas interupsi Fazl. “Diamlah Haman! Engkau dan orang-orang seperti engkau inilah yang telah menjurumuskan dirinya. Kemudian engkau katakan aku membunuhnya. Apakah yang kulakukan ini suatu pembunuhan?

Tangis Harun Ar-Rasyid semakin menjadi-jadi. “Dia menyebutmu Haman,” kata Harun Ar-Rasyid memandangi Fazl. “Karena dia mempersamakan diriku dengan Firaun,” lanjutnya.

Haman adalah penasihat Firaun dan pelaksana proyek-proyek pembangunan kerajaan.

Khalifah Harun meminta Fudhail untuk meneruskan nasihat-nasihatnya. Dia merasa mendapatkan pencerahan. Saat hendak pulang, dia meninggalkan kantong uang dinar untuk Fudhail. Di luar dugaannya, Sang Sufi melemparkan kantong uang itu ke luar sembari berseru, “Engkau memberikan kepada yang tidak pantas menerimanya. Percuma saja aku memberi nasihat-nasihat kepadamu tadi.”

Apakah Khalifah Harun Ar-Rasyid menjadi murka atas tindakan Fudhail yang mempersamakan dia dengan Firaun, si raja lalim dan terkutuk? Ternyata tidak! Justru Sang Khalifah berterima kasih. Nasihat frontal dan keras itu justru diterimanya sebagai siraman rohani dan pembuka mata hatinya yang sedang gundah.

Harun Ar-Rasyid saat itu memang sedang ingin membuka hati bahkan rela datang sendiri menemui Fudhail untuk menerima kritik dan masukan sekeras apapun kritik itu akan disampaikan. Bahkan setelah pertemuan itu, Sang Khalifah berkata tentang Fudhail, “Dia sangat blak-blakan dan dunia ini terlampau kecil dalam pandangannya.”

Hal lainnya adalah Fudhail melontarkan kritik-kritik pedasnya ketika berhadapan-hadapan, secara pribadi, bukan disemburkan sebagai cercaan di hadapan publik. Fudhail menjaga martabat sang pemimpin.

Fudhail, seorang alim yang selalu menapaki jalan sepi dalam kehidupannya. Dia tak pernah punya ambisi tampil sebagai bintang panggung atau menjaga citra diri sebagai pesohor yang akan disambut gemuruh tepuk tangan ketika pernyataannya semakin keras dan berani.

Syeikh Fudhail bin Iyadh telah paripurna mengelola nafsu dan kontrol diri sehingga tanpa pamrih apa pun ketika sedang menyampaikan pendapatnya. Fudhail juga tidak pernah punya keinginan mempertontonkan keberanian-keberaniannya bersikap agar disaksikan atau dicatat oleh khalayak luas bahwa dia seorang pemberani.

Muchus Budi R, wartawan detik.com; tulisan ini pendapat pribadi.

Dikutip dari detik.com, Sabtu 21 Januari 2023.

Comment here