Opini

Balada Petualangan Robin Pattuju dan Robin Hood

Penulis: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id.

Kisah petualangan terdakwa korupsi Stepanus Robin Pattuju mengingatkan kita akan petualangan Robin Hood, legenda masyarakat Inggris. Mereka sama-sama membegal harta orang kaya nan jahat. Bedanya, Robin Hood harta hasil rampasannya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkan, sedangkan Robin Pattuju untuk sementara patut diduga buat diri sendiri.

Berdasarkan cerita rakyat Inggris, dikutip dari berbagai sumber, Robin Hood adalah tentara Salib yang memiliki keahlian dalam hal memanah. Usai berperang dan kembali ke rumah, tanah miliknya sudah diambil Sheriff of Nottingham. Peristiwa yang menimpanya ini membuat kehidupan Robin berubah. Ia menyadari banyaknya pejabat yang korupsi di Inggris. Akibat korupsi itu, para pejabat melalaikan tugas utama mereka untuk membahagiakan rakyat, dan menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan pribadi. Robin kemudian bertemu dengan John (dalam film ‘Robin Hood’ oleh diperankan Jamie Foxx), yang membantunya untuk melawan dan menggulingkan pemerintahan.

Selama menjalankan aksinya, Robin selalu mengenakan tudung kepala sehingga mendapat julukan Robin Hood. Robin Hood selalu mengincar orang kaya nan jahat untuk dibegal harta bendanya, lalu hasilnya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkan.

Jeruk Makan Jeruk

Adapun Robin Pattuju adalah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP). Robin terlibat dalam kasus suap Walikota Tanjung Balai, Sumatera Utara, M Syahrial, agar kasus dugaan korupsi dalam jual-beli jabatan di Tanjung Balai tidak disidik KPK. Pertemuan dan perkenalan antara Syahrial dan Robin Pattuju disebut-sebut berlangsung di rumah dinas Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsuddin. Kini Robin Pattuju tengah menjalani serangkaian persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta.

Robin Pattuju “membegal” harta para pejabat, yang tentu saja kaya, yang terindikasi korupsi. Para pejabat itu menyetor uang ke Robin supaya kasusnya tidak diproses KPK. Lalu, berapa uang suap yang diterima Robin dari para pejabat?

Menurut KPK, total uang suap yang diterima Robin dan Maskur Husain, temannya, mencapai Rp 11.025.077.000 dan 36.000 dolar Amerika Serikat. Hal ini diketahui dari petikan dakwaan KPK yang tertera di situs SIPP Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (3/9/2021), seperti dilansir berbagai media.

Dikutip dari berbagai sumber, sejumlah nama pejabat disebut-sebut menyetor uang kepada Robin, mulai dari Walikota Cimahi, Jawa Barat, Ajay M Priatna, Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rita Widyasari, hingga Aziz Syamsuddin.

Dari Ajay Muhammad Priatna disebut sejumlah Rp 507.390.000, dari Usman Effendi sejumlah Rp 525.000.000 dan dari Rita Widyasari sejumlah Rp 5.197.800.000. Adapun dari Syahrial disebut sejumlah Rp 1.695.000.000, serta dari Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado sejumlah Rp 3.099.887.000 dan 36.000 dolar AS.

Ada banyak nama lain yang disebut-sebut menyetor uang ke Robin agar yang bersangkutan atau orang tertentu tidak diperiksa KPK.

Apakah uang puluhan miliar rupiah yang dibegal Robin dari para pejabat terindikasi korupsi itu dikuasai sendiri? Sementara ini demikian, sampai kemudian terbukti bahwa uang itu juga mengalir ke pihak lain. Inilah tugas KPK untuk menelusuri ke mana saja uang Robin itu mengalir.

Apakah ke oknum-oknum di KPK? Inilah simalakama atau dilema bagi KPK. Tak mungkin “jeruk makan jeruk”. Sebab itu, perlu dilibatkan institusi lain untuk menyelidiki ke mana saja uang Robin mengalir.

Apakah KPK juga akan mengusut tuntas pemberi dan penerima suap terkait Robin? Sejauh ini Ketua KPK Firli Bahuri keukeuh akan mengusut siapa saja yang diduga terlibat, tak pandang bulu, termasuk Aziz Syamsuddin. Benarkah?

Kita tidak tahu. Sebagaimana kita juga tidak tahu apakah Robin Pattuju akan “bernyanyi” untuk menyebut siapa-siapa saja pihak lain yang ikut berpetualang dengan dirinya. Untuk sementara, petualangan Robin terjeda di Pengadilan Tipikor.

Kita tunggu perkembangannya.

Comment here