Opini

Biong yang Menjadi Biang Kerok Kasus Rocky Gerung

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id

Ada “biong” di balik kasus sengketa lahan antara Rocky Gerung dan Sentul City di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bahkan biang kerok dari kasus itu adalah “biong”.

Jejak biong dapat dirunut ke belakang, usai pemerintahan Hindia Belanda membangun Istana Bogor pada 1745 di kawasan Puncak. Sejak itu, alhih fungsi lahan merajalela. Lahan-lahan yang semula berupa hutan banyak menjelma menjadi permukiman. Biong-biong pun bergentayangan.

Dikutip dari sejumlah sumber, setiap tahun berdiri vila-vila baru di bekas perkebunan teh Ciliwung, misalnya, yang menyebabkan alih fungsi lahan sekitar 600 hektare. Lahan-lahan ini dijarah oleh warga, baik penduduk asli maupun pendatang. Konon sudah sejak 1970-an perkebunan Ciliwung, yang luasnya sekitar 300 hektare, dikuasai oleh penggarap.

Alih fungsi lahan pun erat kaitannya dengan keberadaan biong. Biong adalah istilah untuk makelar yang menjadi perantara petani penggarap dengan kalangan berduit, yang ingin memiliki vila di kawasan Puncak. Biong sendiri artinya Biang Bohong. Ada pula yang menyebut “Bisnis Omong”. Biong biasanya melibatkan RT/ RW, kepala desa dan aparat setempat, pihak perkebunan, dan notaris untuk melakukan pengalihan fungsi lahan menjadi vila atau rumah.

Hingga kini keberadaan kawanan biong masih tetap eksis. Mereka menjadi penjaga vila sekaligus menjalankan profesinya sebagai makelar. Jika bukan menjadi makelar tanah, biasanya para biong juga menjadi makelar wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) yang siap melayani pria hidung belang penyewa vila.

Nah, Biong inilah yang menjadi pangkal mula perseteruan antara Rocky Gerung dan Sentul City. Simak saja apa kata Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor.

Dikutip dari sebuah media, BPN menyatakan, surat oper alih garapan tidak serta-merta menentukan kepemilikan lahan seseorang, apalagi mendirikan bangunan atau memperjualbelikan lahan. Pernyataan tersebut untuk merespons sengketa lahan yang melibatkan aktivis Rocky Gerung dengan Sentul City atas lahan di Bojong Koneng.

Kepala Kantor BPN Kabupaten Bogor Sepyo Achanto menegaskan, kepemilikan hak atas tanah tetap mengacu kepada sertifikat atau izin yang dikeluarkan oleh BPN, seperti Sertifikat Hak Milik (SHM), Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU), dan Sertifikat Hak Pakai (SHP).

Hanya saja, jika pemilik SHGB bekerja sama dengan pihak lain untuk memanfaatkan atau menggarap lahan, maka hal tersebut tidak menjadi persoalan. Asalkan proses pemanfaatan lahan tersebut masih sejalan dengan tata ruang yang diajukan.

Hal tersebut disampaikan lantaran selama ini banyak makelar tanah (biong) yang kerap menjualbelikan lahan tanpa sertifikat kepada masyarakat pendatang. Kondisi ini pula yang ditengarai BPN menjadi alasan utama atau biang kerok maraknya kasus sengketa lahan, termasuk antara Rocky Gerung dan Sentul City. Sebab antara pemegang sertifikat kepemilikan tanah dan penguasaan lahan secara fisik merupakan pihak yang berbeda.

Dalam sengketanya dengan Rocky Gerung, pihak Sentul City mengklaim telah memperoleh SHGB hingga 2034 di Blok 026 Gunung Batu, Bojong Koneng. Orang yang diberi hak garap tidak bisa memiliki hak untuk mendirikan bangunan hingga memperjualbelikan.

Di lahan Blok 026 itu kata Farhan, ada 105 pemilik bangunan yang disomasi karena menduduki lahan Sentul City di Bojong Koneng dengan nomor sertifikat HGB 2411 dan 2412, termasuk Rocky Gerung.

Sebanyak 69 pemilik bangunan sudah mengakui lahan tersebut milik Sentul dan melakukan kerja sama sewa pakai. Ada 23 pemilik bangunan yang minta tenggat pembongkaran dan 7 bangunan sudah rata. Sisanya tinggal 6 yang masih mengklaim lahan dan melawan. Artinya di lahan seluas 1.100 hektare berdasarkan SHGB 2411 dan 2412 diberikan izin menggarap, hanya menggarap misalnya untuk perkebunan singkong atau sayuran.

Terkait, klaim kepemilikan Rocky Gerung, Centul City prihatin karena aktivis itu tertipu makelar tanah. Rocky membeli dari Andi Junaedi, terpidana yang Pengadilan Negeri Cibinong dalam kasus pemalsuan surat tanah.

Sebaliknya, Rocky Gerung, mengklaim sebagai pemilik sah lahan yang kini ia tempati berdasarkan penguasaan lahan secara fisik dan surat pernyataan oper alih garapan. Surat itu, tercatat di Kelurahan Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor dengan nomor 592/VI/2009 tertanggal 1 Juni 2009.

Rocky juga mengaku telah menjadi penguasa fisik tanah dan bangunan di lokasi itu sejak 2009. Sebelum Rocky, tempat itu juga sudah dikuasai oleh Andi Junaedi sejak 1960.

Lantas, klaim siapa yang benar? Pembuktiannya ada di pengadilan. Kita tunggu saja tanggal mainnya. Yang jelas, biang kerok dari perseteruan antara Rocky Gerung dan Sentul City adalah biong.

Comment here