Opini

Budiman “Sayu” Sudjatmiko, Anak Perawan di Sarang Penyamun

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Banyak yang mengaitkan dukungan Budiman Sudjatmiko kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden 2024 dengan fenomena “Stokholm Syndrome”, di mana sandera jatuh cinta kepada penyanderanya.

Dikutip dari sebuah sumber, Stockholm Syndrome atau Sindrom Stockholm adalah gangguan psikologis pada korban penyanderaan yang membuat mereka merasa bersimpati atau bahkan menyayangi pelaku.

Stockholm Syndrome diperkenalkan oleh seorang kriminolog yang juga psikiater, Nils Bejerot, berdasarkan kasus perampokan bank yang terjadi pada 1973 di Stockholm, Swedia. Dalam kasus ini, para sandera justru membentuk ikatan emosional dengan para pelaku meski telah disekap selama enam hari. Sandera bahkan menolak bersaksi di pengadilan dan justru mengumpulkan dana bantuan hukum untuk membela pelaku.

Lain Swedia, lain pula Indonesia. Di Indonesia, ada cerita mirip Stockholm Syndrome, dan cerita itu tertuang dalam novel “Anak Perawan di Sarang Penyamun” karya Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan angkatan Poedjangga Baroe, yang terbit tahun 1940.

Dikutip dari sebuah sumber, kisah dalam novel ini bermula ketika seorang saudagar kaya bernama Haji Sahak melakukan perjalanan ke Palembang, Sumatera Selatan. Saat itu Haji Sahak juga mengajak sang istri dan anak gadisnya yang bernama Sayu.

Karyudi Sutajah Putra. (KABNews.id)

Namun di tengah perjalanan, rombongan Haji Sahak dibegal oleh sekawanan penyamun/perampok yang dipimpin Medasing. Serombongan tewas dibunuh oleh kawanan Medasing, kecuali Sayu yang kemudian diculik dan dibawa ke markas atau sarang penyamun. Sayu akhirnya terpaksa tinggal bersama para penyamun dan tak bisa melarikan diri.

Konflik lain datang ketika anak buah Medasing bernama Samad muncul dan jatuh cinta kepada Sayu. Diam-diam Samad berusaha membawa kabur Sayu dan berjanji akan memulangkan gadis itu ke tempat asalnya.

Sayu yang merasa curiga akhirnya menolak Samad dan memilih untuk tetap tinggal di tempat Medasing. Hal ini rupanya membuat Samad sangat kecewa. Samad kemudian berkhianat kepada Medasing dan berusaha menggagalkan semua usaha perampokannya. Caranya, dengan membocorkan rencana perampokan tersebut kepada saudagar-saudagar kaya yang jadi target Medasing. Perampokan yang dilakukan Medasing pun selalu gagal.

Tak hanya itu, anak buah Medasing banyak yang terluka parah karena para saudagar kaya itu sudah mempersiapkan diri dan melakukan perlawanan. Sampai pada suatu hari Medasing pulang dengan luka yang sangat parah, sementara seluruh anak buahnya tewas. Saat itulah Sayu merasa iba dan mulai mengobati Medasing.

Keduanya perlahan-lahan menjadi lebih dekat dan Sayu mulai mengenal Medasing lebih jauh. Sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta dan Medasing menyadari dosa-dosanya. Mereka kemudian menikah.

Budiman Sudjatmiko, korban penculikan aktivis 1996-1997 yang melibatkan Prabowo Subianto, pun akhirnya “menikah” dengan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI yang diduga memerintahkan penculikannya itu. “Pernikahan” itu mereka wujudkan dalam bentuk deklarasi relawan Prabu yang merupakan singkatan dari “Prabowo-Budiman Bersatu” di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8/2023).

Lalu, apa alasan Budiman “jatuh cinta” kepada Prabowo laiknya Sayu jatuh cinta kepada Medasing? Seperti Sayu dan juga korban penyenderaan di Stockholm, mungkin Budiman merasa “berutang nyawa” kepada Prabowo. Sebab, Budiman merupakan segelintir dari sekian korban penculikan yang ditemukan selamat. Sebagian lainnya tewas dan ada yang hilang hingga kini seperti penyair Widji Thukul.

Atau seperti Sayu kepada Medasing, mungkin Budiman tidak tega melihat Prabowo yang selalu “dikuyo-kuyo” setiap menjelang pilpres dengan mengungkit kembali isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Mungkin! Yang jelas, Budiman mengaku tidak ada dendam kepada Prabowo. Hal itu sudah ia renungkan selama 23 tahun, akunya.

Ihwal dukungan Budiman kepada Prabowo sebagai capres, mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu mangaku karena Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan itu menguasai isu geostrategis yang menjadi tantangan Indonesia ke depan.

Apakah dukungan yang diberikan Budiman kepada Prabowo terkait rasa sakit hatinya kepada PDI Perjuangan, karena merasa dijegal ketika akan diakomodasi Presiden Joko Widodo untuk duduk di kabinet, dan di sisi lain ia mendapat tawaran masuk kabinet jika Prabowo menang? Budiman mengaku tidak demikian.

Pun, apakah dukungannya kepada Prabowo juga karena Prabu mendapat proyek senilai Rp200 miliar dari Kementerian Pertahanan seperti diisukan? Budiman juga mengaku tidak demikian.

Padahal, jikalau Budiman mengakui mendapat tawaran kursi kabinet dari Prabowo, dan Prabu mendapat proyek dari Kemenhan, itu sah-sah saja, karena politik itu “take and give” (menerima dan memberi). “No lunch free” (tak ada makan siang gratis) di politik.

Kini, akibat dukungannya kepada Prabowo, Budiman telah dipecat dari keanggotaan PDI Perjuangan yang telah memberinya kesempatan menjadi anggota DPR RI selama dua periode. Mungkin Budiman akan semakin “jatuh cinta” kepada Prabowo, sebagaimana Sayu kepada Medasing. Mungkin!

Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).

Comment here