Opini

Cerita Dua Lukisan Lama Djoko Pekik

Oleh: Hairus Salim

Jakarta, KABNews.id – Djoko Pekik (lahir 1939), maestro lukis Indonesia, meninggal pada Sabtu, 11 Agustus 2023, pkl 08.00. Dunia seni Indonesia kehilangan seorang tokoh yang karya-karya rupanya kuat dan tajam menggambarkan masalah sosial, dengan sikap, pandangan, dan perjalanan hidupnya yang unik dan menarik.

Sudah luas diketahui, Djoko Pekik adalah pelukis anggota Sanggar Bumi Tarung (SBT) yang berafiliasi dengan Lekra. Karena keterkaitannya ini pulalah tak lama setelah peristiwa G30S/1965, ia turut ditangkap dan harus mendekam beberapa tahun dalam penjara. Sekeluar dari penjara, ia terus melukis sembari menjadi penjahit.

Namanya sebagai pelukis mencuat pada 1990-an ketika karyanya diikutkan dalam pameran KIAS (Kerjasama Indonesia-Amerika Serikat). Keikutsertaannya ini mendapat protes sejumlah seniman lantaran dia dianggap sebagai mantan Lekra. Tetapi Astri Wright, kurator bidang pameran seni rupa acara itu bergeming. Karya Djoko Pekik tetap diikutkan.

Kemudian menjelang jatuhnya rezim Orde Baru, namanya menjulang lagi setelah lukisannya yang berjudul Berburu Celeng terjual dengan harga satu miliar rupiah. Sebuah harga yang spektakuler dan fantastis saat itu. Setelah itu, namanya tegak kokoh sebagai perupa dengan gaya dan temanya yang khas.

Pelukis Djoko Pekik. (detik.com)

Saya beberapa kali berkunjung ke kediamannya yang luas untuk menyaksikan pameran atau mengikuti acara lainnya. Meski demikian saya hanya kenal tapi tidak dekat. Saya sama sekali bukan orang lingkarannya. Tetapi ketika saya hendak menyusun biografi Misbach Tamrin, kameradnya di SBT, beberapa tahun lalu, saya berkesempatan mewawancarai dan mengobrol dengan Pak Pekik beberapa kali.

Dalam kesempatan itu juga saya bertanya beberapa hal yang selama ini membuat saya penasaran. Misal bagaimana Pak Pekik bisa menyimpan dan mengoleksi dua lukisannya yang dibuat sebelum tahun 1965. Dua lukisan itu adalah Dik Tik (1961) dan Tuan Tanah Kawin Muda (1964). Lukisan Dik Tik saya lihat pertama kali dalam pameran Jejak Langkah: Pameran Seni Rupa Era 1960-an pada 2003 digelar di kediamannya.

Sedangkan, Tuan Tanah Kawin Muda sering disebut misal dalam buku Antariksa (2005). Bahkan Antariksa mengangkat lukisan itu sebagai judul sekaligus cover bukunya. Lukisan ini diikutsertakan lagi dalam pameran tunggalnya Zaman Edan Kesurupan di Galeri Nasional, Jakarta pada 2013.

Tuan Tanah Kawin Muda melukiskan derita seorang tuan tanah yang tua yang tengah sekarat di pembaringannya dan istri mudanya yang tampak melengus tak menggubrisnya. Sedangkan Dik Tik berupa potret seorang perempuan muda kebanyakan yang berwajah sendu dan manis. Gaya Djoko Pekik yang naif, polos, dan pelukisan bagian tubuh yang tidak anatomis tampak dalam kedua lukisan itu. Dua lukisan itu masih tersimpan di galeri di komplek rumahnya yang asri dan rimbun.

Seperti sudah lazim diketahui terhadap nasib siapa pun yang dikaitkan dengan PKI saat itu, ketika terjadi penangkapan, banyak milik mereka, termasuk karya-karya seni yang disita, dirusak, dibakar, atau dihancurkan. Atau, tak jarang karya-karya itu dimusnahkan sendiri oleh pemiliknya untuk menghilangkan jejak keterkaitan apa pun yang membuat mereka dituduh sebagai antek PKI.

Pramoedya Ananta Toer misalnya, dalam beberapa catatannya mengeluhkan beberapa draf naskah bukunya yang dirampas dan kemudian hilang tak terlacak lagi ketika terjadi penangkapan. Karya sutradara film Bachtiar Siagian bahkan sama sekali tak ada lagi. Demikian juga dengan karya Misbach Tamrin, tak tersisa sama sekali. Karena itu menjadi pertanyaan menarik, bagaimana Djoko Pekik bisa menyimpan dua koleksi itu dengan baik?

Dua karya itu penting dan menarik. Dalam suatu tulisannya (2013), pengamat seni Agus Burhan menyebut lukisan Tuan Tanah Kawin Muda (plus mestinya Dik Tik) itu sebagai representasi berkarya Pekik pada masa Orde Lama, yang menunjukkan konsistensi dengan karyanya pada masa Orde Baru dan masa Reformasi yang bergaya naif dan polos, serta bertema kerakyatan. Sesungguhnya bukan hanya untuk Pekik, karya itu juga bisa menjadi jejak dan bukti otentik kekaryaan SBT secara umum.

Nah ketika saya kemukakan pertanyaan itu, Pekik menjawab dan menceritakan panjang lebar, yang saya narasikan ulang berikut ini:

Ketika terjadi peristiwa politik pada 1965 itu, Pekik tinggal di Jakarta. Di antara kegiatannya, ia bersama teman-teman seniman muda membantu pembuatan poster-poster, misalnya poster-poster tamu kepala negara yang akan berkunjung ke Jakarta atau poster-poster acara baik yang diselenggarakan pemerintah maupun partai saat itu.

Tidak seperti yang banyak diceritakan, menurut Pekik, setelah peristiwa itu ia tidak langsung ditangkap. Ia masih sempat beberapa waktu tinggal di Jakarta. Baru ketika kondisi mulai ia rasakan tidak aman dan tidak nyaman, ia pun memutuskan untuk pulang ke Yogya. Tapi beberapa hari sebelum pulang, ia mampir dulu ke sebuah kedutaan salah satu negara Eropa Timur yang memberitahukan bahwa lukisannya telah tiba dan bisa diambil di kantor kedutaan.

Pekik tidak menyebutkan persis dan mengaku lupa nama negaranya. Tapi saat itu memang sering berlangsung acara-acara olah raga, kesenian, dan lain-lain yang merupakan kerja sama dengan negara-negara Eropa Timur. Salah satunya adalah sebuah pameran seni rupa yang di antaranya menyertakan karyanya Tuan Tanah Kawin Muda itu. Demikianlah, karya itu ia ambil. Waktu itu karyanya tergulung rapi dalam sebuah tas tabung lukisan/gambar.

Ketika pulang ke Yogya berkereta, lukisan dalam tas tabung itu turut ia bawa. Di stasiun, menurut Pekik, tentara yang bertugas jaga sempat menanyakan benda apa yang dia bawa itu, karena cara membawanya seperti orang memanggul senapan. Tapi setelah tahu itu ‘hanya’ sebuah lukisan, mereka mempersilakannya.

Di Yogya, Pekik tinggal menumpang di rumah seniman Batara Lubis di Sorosutan. Lukisan itu ia simpan dengan baik. Bersama Batara Lubis, ia sempat membantu pemerintah desa untuk memotret ulang warga karena waktu itu sedang ada semacam registrasi kependudukan lagi. Saat itu, ia sudah punya kamera yang lumayan bagus yang ia beli dari hasil bekerja di Jakarta.

Tapi seorang seniman, anggota sebuah sanggar lukis yang lain, yang (mungkin bukan) kebetulan juga seorang aparat, mengenalnya sebagai anggota SBT. Seniman itu lalu melaporkan ke kantor polisi. Ia bersama Batara Lubis kemudian ditangkap. Untungnya dalam penangkapan itu tidak ada perampasan, sehingga lukisan Tuan Tanah Kawin Muda selamat. Ketika ia ditahan dan dipenjara, lukisan itu disimpan dengan hati-hati oleh keluarganya, serta terpelihara dan terjaga hingga sekarang.

Lalu bagaimana dengan lukisan Dik Tik?

Salah satu ‘hikmah’ dari protes keikutsertaannya dalam KIAS adalah melambungnya namanya sebagai perupa. Banyak kolektor kemudian yang memperhatikan dan mengapresiasi karyanya. Cuan pun datang menghampiri. Demikianlah (usaha) pelarangan dan pencekalan seseorang atau sebuah karya selalu pada saat yang sama menjadi promosi gratis.

Pada 1994, ketika ia mulai menapaki tangga kejayaannya, datang seorang lelaki asing ke rumahnya. Lelaki itu membawa dan menunjukkan sebuah lukisan tak seberapa besar. “Ini karya Pak Pekik kan?” Pekik kaget karena itu lukisan Dik Tik karyanya. Ia ingat, karya itu pernah ia ikutkan dalam sebuah pameran bersama yang diadakan oleh kantor pemerintah. Waktu itu, cerita Pekik, karya pameran langsung dimiliki oleh penyelenggara pameran dengan membayar ‘ongkos’ pembuatan secukupnya.

Pekik tidak tahu lelaki itu siapa dan bagaimana ia bisa mendapatkan lukisan tersebut. Yang jelas, lelaki itu bilang bahwa bila Pekik ingin memilikinya, bisa mengganti dengan sejumlah uang. Akhirnya disepakati harga Rp 40 juta. Harga yang lumayan tinggi saat itu. Demikianlah, sang pelukis membeli karyanya sendiri. Tapi ia mengaku sangat senang karena bisa memiliki lagi karya lamanya.

Demikianlah cerita dua karyanya para periode sebelum 1965 yang sekali lagi memiliki nilai estetis dan historis yang sangat penting. Ini menurut versi Pak Djoko Pekik sendiri.

Hairus Salim HS, penulis dan peneliti.

Dikutip dari detik.com, Senin 14 Agustus 2023.

Comment here