Opini

Cuaca Panas Ekstrem dan Kesehatan Mental

Oleh: Laurentius Purbo Christianto, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Jakarta, KABNews.id – Beberapa hari terakhir, muncul berita tentang Jambore Pramuka Dunia 2023 di Korea Selatan yang terdampak cuaca panas ekstrem.

Kompas.com (4/8/2023) memberitakan bahwa 43.000 peserta dari 158 negara, menghadapi cuaca panas ekstrem dengan suhu udara mencapai 38 derajat celcius disertai kelembapan tinggi. Kondisi cuaca ini membuat 400 peserta dibawa ke rumah sakit, dengan gejala sakit kepala dan kelelahan.

Di luar berbagai alasan lain yang membuat pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia 2023 dianggap berjalan tidak baik, cuaca panas yang sangat tingggi di tempat perkemahan adalah salah satu alasan yang membuat beberapa negara mengevakuasi kontingen mereka. Cuaca panas dianggap sangat berbahaya.

Beberapa literatur mencatat bahwa cuaca panas ekstrem berpengaruh kepada fisik dan mental manusia. Suhu udara yang tinggi tidak hanya dapat memengaruhi kebugaran fisik, tetapi juga kesehatan mental kita. Aryn Baker (16/5/2023), di Time.com, menuliskan bahwa saat suhu udara meningkat, jumlah kasus bunuh diri, kekerasan, dan kriminalitas juga meningkat.

Ilustrasi cuaca panas ekstrem. (Kompas.com)

Ia mencatat, dari penelitian, peningkatan suhu udara sebesar satu derajat saja di atas suhu udara normal, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya depresi dan kecemasan.

Tahun 2015, Ding, Berry, dan O’Brien mempublikasikan hasil penelitian mereka terkait dampak cuaca panas ekstrem pada kesehatan mental di Australia. Hasil penelitian mereka menemukan bahwa semua aspek kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis dapat menurun karena cuaca panas ekstrem. Hasil yang menarik dari penelitian mereka ialah bahwa secara psikologis wanita ternyata lebih rentan terdampak cuaca panas ekstrem daripada pria.

Tahun 2021, Liu dkk. mempublikasikan artikel penelitian meta analisis mereka. Penelitian ini menganalisis semua publikasi penelitian tentang paparan suhu udara panas dan kesehatan mental periode 1990 hingga 2020 dari seluruh dunia.

Ada lima poin hasil penelitian yang menarik. Pertama, semua penelitian melaporkan bahwa suhu udara panas yang tinggi dapat membuat kesehatan mental menjadi buruk. Kedua, setiap suhu udara naik 1 derajat celsius, maka akan ada 2,2 persen peningkatan risiko kematian yang terkait dengan kesehatan mental.

Ketiga, setiap suhu udara naik 1 derajat celsius, maka akan ada 0,9 persen peningkatan risiko morbiditas yang terkait kesehatan mental. Morbiditas adalah kondisi yang menyebabkan seseorang tidak sehat/tidak nyaman, tetapi tidak sampai meyebabkan kematian.

Keempat, saat terjadi gelombang udara panas (cuaca yang sangat panas dan kering) risiko terjadinya depresi, kecemasan, dan gangguan tidur pada individu akan semakin besar.

Kelima, orangtua yang tinggal di iklim tropis maupun subtropis sama-sama rentan mendapatkan dampak negatif dari cuaca panas. Suhu udara panas yang tinggi ternyata berpengaruh pada aktivitas mental manusia; dalam bahasa lain, suhu udara panas yang ekstrem memiliki dampak signifikan pada otak manusia. Inilah yang menjelaskan kenapa suhu udara yang begitu panas akan memengaruhi kesehatan mental kita.

Liu dkk. (2021) menjelaskan bahwa suhu udara panas yang tinggi dapat memengaruhi tingkat dan keseimbangan neuro-transmiter serotonin dan dopamine di otak. Kadar serotonin dan dopamine akan memengaruhi suasana hati, fungsi kognitif, dan performansi kerja manusia.

Saat suhu udara menjadi sangat panas, suasana hati akan mudah menjadi buruk, lebih sulit berpikir, mengingat, atau belajar, serta kerja menjadi kurang optimal. Saat berada di cuaca yang sangat panas, orang akan mudah marah, cemas, atau sedih.

Kondisi seperti ini yang menjelaskan kenapa saat cuaca menjadi sangat panas, angka kriminalitas, kekerasan, dan kasus bunuh diri meningkat.

Suhu udara panas yang tinggi akan membuat otak bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tubuh kita tetap normal. Otak bekerja mendinginkan tubuh antara lain dengan meningkatkan denyut jantung, meningkatkan laju pernapasan, dan mengeluarkan keringat. Kondisi ini membuat kita akan lebih cepat merasa lelah dan sulit konsentrasi saat berada di cuaca yang sangat panas.

Dengan demikian, semua pihak harus bahu-membahu melakukan sesuatu agar bumi dan lingkungan sekitar kita tidak menjadi semakin panas. Ini bukan hal mudah. Langkah ini adalah program jangka panjang yang butuh waktu lama.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan saat berada di cuaca yang sangat panas. Pertama, menjaga tubuh agar tidak dehidrasi dengan minum banyak air. Kedua, hindari beraktivitas di luar ruangan saat cuaca panas, sehingga tidak terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu lama. Ketiga, kenakan pakaian longgar. Keempat, jika ada, gunakan pendingin udara atau kipas angin untuk mendinginkan suhu ruangan. Kelima, istirahat yang cukup. Hal-hal ini dapat menjaga kita tetap “sadar” saat berada di suhu udara yang sangat panas.

Berbagai laporan yang menunjukkan bahwa rata-rata suhu bumi naik dari tahun ke tahun seharusnya kita waspadai. Perlu sosialisasi massal tentang perubahan iklim dan bumi yang semakin panas, serta dampak dari semua perubahan iklim ini.

Bercerita tentang dampak suhu udara yang panas pada manusia, akan lebih efektif daripada sekadar memaparkan bahwa bumi semakin panas. Semua usaha kita terkait peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis dalam aspek ekonomi akan sia-sia jika bumi tempat tinggal kita semakin panas.

Merawat bumi adalah usaha terbaik untuk menjaga kesehatan mental kita saat ini dan masa depan.

Dikutip dari Kompas.com, Senin 14 Agustus 2023.

Comment here