Jaga Budaya

Fenomena Antariksa Ujung November 2021: Nadir Ka’bah

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Pada pekan keempat November 2021, sejumlah fenomena antariksa diprediksi bakal terjadi, termasuk Nadir Ka’bah.

Dilansir situs LAPAN, dikutip dari cnnindonesia.com, Selasa (23/11/2021), Nadir Ka’bah adalah fenomena astronomis ketika matahari berada tepat di nadir atau titik terbawah saat tengah malam bagi pengamat yang berlokasi di Ka’bah, Mekkah, Arab Saudi.

Akibat bentuk Bumi yang bulat, Matahari akan berada tepat d atas titik antipode Ka’bah (titik yang terletak di belahan Bumi yang berlawanan terhadap Ka’bah) ketika tengah hari. Hal itu berujung bayangan matahari pagi, siang dan sore akan mengarah ke kiblat.

Fenomena ini disebut akan berlangsung dua kali dalam setahun. Untuk 2021, fenomena ini sebenarnya sudah terjadi pada 13 Januari lalu pukul 00.20 waktu Arab Saudi atau 6.29 WIT dan akan kembali terjadi pada 29 November pukul 00.09 waktu Arab Saudi atau 06.09 WIT.

Fenomena ini biasanya dimanfaatkan untuk meluruskan arah kiblat. Tapi, cara itu hanya bisa digunakan di wilayah yang terkena ketika matahari berada di atas ufuk.

Wilayah Indonesia yang terkena fenomena ini adalah Provinsi Maluku (kecuali Pulau Buru), Provinsi Papua Barat, Papua, juga Timor Leste (kecuali distrik Oecussi) dan Papua Nugini. Berlaku juga di Selandia Baru, sebagian besar Australia, negara-negara di Oseania, Amerika Serikat, sebagian besar Kanada, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Terdapat sejumlah fenomena antariksa di penghujung November atau pekan keempat November 2021, termasuk Nadir Ka’bah. (Foto: 128flashfire/Wikipedia)

Untuk melakukan pengukuran kiblat, pastikan tiga hal telah dilakukan sebelumnya. Pertama, tegak lurus, baik tongkat maupun bandul diletakkan tegak lurus dengan permukaan bumi.

Kedua, tempat meletakkan benda maupun jatuhnya bayangan matahari harus rata. Terakhir, tepat waktu, yakni penunjuk waktu harus terkalibrasi dengan baik dan pengukuran dilakukan pada waktu yang ditentukan.

Meskipun demikian, pengukuran dapat dilakukan 40 menit sebelum dan sesudah waktu yang ditentukan dengan toleransi setengah derajat jika cuaca kurang mendukung.

Para astronom mengatakan kepada Alarabiya bahwa Nadir Ka’bah sebelumnya terjadi pada 28 Januari lalu di Mekah, Arab Saudi.

Fenomena langka tersebut akan terjadi pada hari Kamis pukul 12:43 waktu setempat di mana masyarakat Mekkah dapat melihat dengan mata telanjang bulan purnama yang muncul secara vertikal di atas Masjidil Haram.

“Bulan akan terbit dengan Matahari terbenam dari ufuk utara/timur laut, dan terbenam di ufuk utara/barat laut, yang berarti akan mensimulasikan jalur tinggi matahari musim panas setelah enam bulan melintasi langit malam, tetapi di utara bulan Lingkaran Arktik, bulan berada 24 jam di atas cakrawala, seperti Matahari tengah malam di musim panas,” kata Majed Abu Zahira, Presiden Asosiasi Astronomi Jeddah, dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya.

“Bulan akan tetap terlihat di langit selama sisa malam sampai terbenam dengan terbitnya Matahari, Jumat,” tambahnya.

Abu Zahira menambahkan fenomena langit dapat digunakan untuk menemukan arah kiblat (arah menuju Ka’bah) secara sederhana dari beberapa wilayah di seluruh dunia.

Umat Islam di lokasi geografis yang jauh dari Masjidil Haram dapat mengandalkan arah Bulan yang menunjuk ke Mekah dengan cara yang sebanding dengan keakuratan aplikasi ponsel pintar.

Selain itu, Nadir Ka’bah di pekan keempat November juga bakal terjadi fenomena Konjungsi Bulan-Pollux. Pollux merupakan bintang utama di konstelasi Gemini yang berkonjungsi dengan Bulan dan puncaknya terjadi pada 24 November 2021 pukul 10.22 WIB atau 11.22 WITA dan 12.22 WIT.

Pada 27-28 November 2021 juga bakal terjadi fenomena fase Bulan perbani akhir, yakni salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku dan terjadi setelah fase bulan purnama.

Puncak hujan meteor Orinoid juga bakal menjadi fenomena yang terjadi di penghujung November, tepatnya tanggal 28-29 mendatang. Orinoid November adalah hujan meteor yang titik radiannya berada di konstelasi Orion.

Ilustrasi hujan meteor. (Foto: Getty Images via AFP/ETHAN MILLER)

Bedanya dengan Orinoid Oktober yakni Orinoid November merupakan hujan meteor minor karena intensitas maksimumnya saat di zenit hanya 3 meteor per jam. Sumber hujan meteor ini pun disebut belum diketahui dengan pasti.

Pada 29 November juga disebut bakal terjadi fenomena konjungsi Supersior Merkurius di mana Matahari, Bumi dan Merkurius berada di satu garis lurus. Konjungsi superior ini menandai pergantian ketampakan Merkurius yang semula terjadi ketika fajar menjadi senja.

Comment here