Opini

Ganjar dalam Kesunyian

Oleh: Arie Putra

Jakarta, KABNews.id – David versus Goliath merupakan narasi yang umum digunakan untuk menjelaskan kekuatan kuda hitam yang berhadapan dengan musuh yang superpower. David yang tak dibebani harapan besar dapat bergerak lentur dan cekatan, sementara Goliath adalah raksasa yang kokoh dan besar.
Di dalam pertarungan politik, narasi tersebut sangat sering dipakai untuk meraih simpati publik. Mayoritas orang ingin menjadi “zero to hero”, layaknya David yang dipandang sebelah mata. Yang pertama merupakan protagonis, sementara yang kedua adalah antagonisnya.
Setelah Prabowo Subianto dideklarasikan oleh empat partai politik untuk mencalonkan diri pada Pilpres 2024, narasi David vs Goliath kembali dimainkan. Prabowo dengan dukungan empat partainya mendapat label sebagai koalisi raksasa.

Sementara, Ganjar Pranowo baru didukung oleh PDI Perjuangan dan PPP. Sisanya, pendukung Ganjar adalah partai nonparlemen. Koalisi Ganjar sangat kecil layaknya tubuh David. Memori publik diajak kembali bertamasya ke tahun 2014 ketika Presiden Jokowi maju Pilpres untuk pertama kali.
Apakah situasi Ganjar saat ini mirip dengan apa yang dialami oleh Presiden Joko Widodo ketika mencalonkan diri pada 2014? Silang pendapat tidak dapat dihindari untuk menjawab pertanyaan ini.

Arie Putra. (detik.com)

Jika dilihat dengan kasat mata, jumlah partai pendukung Ganjar tampak mirip situasinya dengan apa yang terjadi pada Presiden Jokowi hampir satu dekade yang lalu. Pada tahun 2014, Presiden Jokowi didukung oleh empat partai parlemen, yakni PDI Perjuangan, PKB, Nasdem, dan Hanura. Sementara Prabowo Subianto didukung oleh raksasa-raksasa Senayan, yakni Partai Golkar, PAN, PKS, PPP, dan tentunya Partai Gerindra.

Seperti yang kita ketahui semua, David yang kecil, efektif, dan efisien berhasil keluar sebagai pemenang. Di sisi lain, Goliath terpaksa harus bertekuk lutut, di mana Prabowo yang berpasangan dengan besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, harus mengakui kemenangan Presiden Jokowi.

Namun jika dilihat dari sisi yang lain, Ganjar hari ini berbeda dengan Jokowi pada 2014. Ketika itu, Jokowi merupakan anak bawang dari daerah, yang kemudian diusung oleh partai oposisi. Gairah perubahan terasa kuat, sebab kekuasaan Presiden SBY diterpa oleh badai politik kencang.

Kekuatan partai politik yang minim didukung oleh gerakan masyarakat sipil membuat dukungan terhadap Jokowi yang orang biasa tampak beragam. Masyarakat Indonesia dipertontonkan oleh berbagai gerakan relawan, baik yang benar-benar muncul organik, maupun dimobilisasi.

Saat itu, penggunaan media sosial juga merupakan arena bertarung baru. Pendukung Jokowi non-partai betul-betul unggul dalam arena permainan ini. Sementara itu, Prabowo sebagai lawan tanding dianggap sebagai representasi dari elit lama yang konvensional.

PDI Perjuangan saat itu adalah sebuah kekuatan oposisi yang konsisten. Mereka menjadi kanalisasi dari keresahan publik. Kader-kader PDI Perjuangan berdialog dengan segala elemen masyarakat sipil untuk mengimbangi kekuatan penguasa.

Akhirnya, keresahan publik tersebut tumpah ruah bersama euforia kemunculan pemimpin yang dianggap bagian dari rakyat. Harus diakui, Jokowi adalah tawaran di waktu yang tepat. Tanpa mengecilkan peran partai politik, kemenangan Jokowi adalah hasil orkestrasi berbagai kekuatan.

PDI Perjuangan yang dulu mendukung Presiden Jokowi sudah sangat berbeda dengan yang mendukung Gubernur Ganjar hari ini. PDI Perjuangan hari ini adalah partai pemenang pemilu dua kali beruntun, sementara PDI Perjuangan yang mendukung Jokowi pada 2014 adalah partai oposisi dua kali beruntun.

Sebuah partai dengan kekuatan terbesar seharusnya sangat menentukan permainan. Namun yang terjadi, koalisi usungan PDI Perjuangan belum menarik perhatian partai lainnya. Sampai saat ini, Ganjar Pranowo masih didukung oleh 147 kursi di parlemen. Angka tersebut tentu jauh di bawah dukungan terhadap Prabowo Subianto, sekitar 265 kursi.

Bahkan hingga saat ini, jumlah dukungan partai yang sudah mendeklarasikan Anies Baswedan masih lebih besar daripada partai pendukung Ganjar, yakni 163 kursi. Di sini anomalinya, kekuatan penguasa yang menjadi pemilik sah Presiden Jokowi tidak menarik perhatian rekan koalisi sendiri.

Ketimbang membangun narasi-narasi pembenaran seperti David versus Goliath, tim bakal calon Presiden Ganjar perlu mengevaluasi komunikasinya. PDI Perjuangan perlu mencari cara untuk menggairahkan kekuatan politik yang ada.

Bahkan, PPP yang sudah mendeklarasikan diri mendukung Ganjar pun mulai goyang. Sebagian dari kader PPP ingin pindah koalisi bila Sandiaga Uno tidak dicalonkan sebagai pasangan Ganjar Pranowo.

PDI Perjuangan tampak berjarak dengan partai-partai lainnya. Komunikator elitenya belum mampu membangun solidaritas dengan kekuatan politik lain. Bukan tidak mungkin, Ganjar akan ditinggal sendirian.

Apalagi, hubungan antara PDI Perjuangan dan Presiden Jokowi masih panas-dingin. Meski mendukung Ganjar, Presiden Jokowi tetap memberikan asa kepada Prabowo. Tampak hari ini, partai pendukung pemerintah lebih memilih jalannya sendiri, ketimbang kandidat usungan ketua kelas koalisi.

Pilihannya bisa jadi PDI Perjuangan memperbaiki hubungan dengan berbagai partai politik atau PDI Perjuangan bisa saja mengambil langkah eksperimental. Langkah eksperimental apa? Menguji keyakinan tentang efek ekor jas dalam sistem multipartai. PDI Perjuangan mencalonkan Ganjar tanpa partai lainnya.

Mereka bisa memasangkan Ganjar Pranowo dan Puan Maharani, misalnya. Walaupun bakal kalah dalam pertarungan, duet ini dapat jadi strategi memperbesar kekuasaan di parlemen. Jika mengikuti elektabilitas Ganjar yang berada pada angka 35%, PDI Perjuangan bisa saja menembus angka 30%. Angka tersebut sangat menakutkan bagi siapa pun penguasanya nanti.

Kembali mengacu pada David vs Goliath, pertarungan 2024 lebih tepat dikatakan sebagai Goliath vs Goliath. Semua kekuatan pendukung sangat berimbang, bahkan Anies yang berada pada urutan ketiga survei pun memiliki pendukung yang cukup meyakinkan.

Semua kandidat bergerak dengan beban dan ekspektasi masing-masing. Maka, Pilpres nanti akan dimenangkan oleh tim kandidat yang paling mampu mengurangi beban pertarungan. Kemenangan bukan milik siapa yang paling banyak benar, tapi akan semakin mendekat pada yang paling sedikit salah.

Arie Putra, Co-founder Total Politik/Host acara Adu Perspektif detikcom X Total Politik.

Dikutip dari detik.com, Rabu 16 Agustus 2023.

Comment here