Opini

Gegara Ganjar, Ada Bebek dan Celeng di Kandang Banteng

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id

Semua gegara Ganjar. Jika popularitas dan elektabilitas Gubernur Jawa Tengah bernama lengkap Ganjar Pranowo itu tidak melejit, maka tak akan ada “ontran-ontran” di kandang Banteng. Akibat ontran-ontran itu, berbagai macam binatang bermunculan. Ada Celeng (Babi), Bebek dan Beo alias 3B.

Babi dikonotasikan buruk, sebagai binatang perusak tanaman. Babi juga binatang jorok dan kotor. Bahkan bagi muslim, Babi diharamkan.

Bebek atau Itik dikonotasikan sebagai binatang penurut. Digiring ke mana pun akan ikut. Bebek tak pernah membantah.

Beo adalah burung yang suka menirukan suara tuannya. Jika tuannya bersiul, ia akan bersiul. Bila tuannya bernyanyi, ia akan ikut bernyanyi.

Adalah Bambang Wuryanto, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PDIP sekaligus Ketua DPD PDIP Jateng, yang mula-mula mengusung adagium “Celeng”. Politikus yang akrab disapa Pacul itu mengatakan, para kader partainya yang dukung-mendukung calon presiden, bukan lagi Banteng, melainkan Celeng.

Mereka sudah keluar dari barisan Banteng. Pasalnya, Kongres V PDIP mengamanatkan urusan capres 2024 kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sejauh ini putri Bung Karno itu belum memutuskan soal capres. Mereka yang mendahului bicara capres, baik dicalonkan maupun mencalonkan, berarti telah keluar dari barisan. Yang keluar dari barisan berarti bukan Banteng lagi, melainkan Celeng. Mereka akan dipecat.

Sontak, ancaman pedas Pacul itu direspons sejumlah kader, di antaranya Albertus Sumbogo, Wakil Ketua DPC PDIP Purworejo yang beberapa waktu lalu menggelar deklarasi dukungan bagi Ganjar sebagai capres 2024.

Sumbogo yang mengaku tak takut dipecat PDIP itu menyatakan, model kepemimpinan Pacul telah melahirkan kader-kader bermental Babu (pesuruh), Bebek dan Beo alias hanya ikut-ikutan belaka.

Apa yang salah dengan Pacul? Tak ada yang salah. Setiap parpol punya aturan masing-masing. Disiplin akan garis komando adalah mutlak di PDIP. Atau dalam bahasa Pacul disebut “tegak lurus”. Sejauh ini PDIP belum menetapkan siapa capres-cawapres partai berlambang kepala Banteng itu untuk Pilpres 2024.

Jika kader tidak membebek dan membeo, bisa didepak dari partai. Ini ancaman kiamat bagi mereka yang duduk di kursi eksekutif dan legislatif, termasuk Ganjar sendiri. Membangkang berarti harus siap kehilangan kursi.
Soal disiplin partai, PDIP memang sangat keras. Presiden Jokowi saja dianggap sebagai petugas partai. Begitu pun Ganjar.

Namun, secara implisit Pacul lebih menjagokan Puan Maharani ketimbang Ganjar. Ini tercermin dari pernyataan-pernyataannya. Tapi, itu pun sah-sah saja. Kecuali jika Pacul menggelar deklarasi mendukung Puan sebagai capres, sehingga dianggap keluar dari barisan Banteng.

Sebaliknya, apa yang salah dengan Sumbogo? Sebenarnya tak ada yang salah pula. Kader punya aspirasi itu wajar-wajar saja. Apalagi ia punya misi “suci” menyelamatkan partai. Jika tak mencalonkan Ganjar, PDIP bisa rontok pada Pemilu 2024. Pasalnya, dalam berbagai survei, nama Ganjar selalu ada di tiga besar bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Bahkan di kelompok milenial, Ganjarlah sang jawara.

Tapi, PDIP sudah terlanjur mengeluarkan titah. Kader yang mendukung atau didukung sebagai capres, harus angkat kaki.

Dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), elektabilitas Ganjar bahkan nyaris menyalip Prabowo yang tren elektabilitasnya cenderung menurun. Dalam survei IndEX, Ganjar justru bertengger di puncak, disusul Prabowo dan Ridwan Kamil.

Saat menghadiri upacara pembukaan PON XX/2021 di Papua, sambutan warga setempat terhadap Ganjar luar biasa. Begitu pun di daerah-daerah lain.

Popularitas dan elektabiitas Ganjar yang mentereng itulah yang menjadi biang kerok ontran-ontran di kandang Banteng.

Reaksi Ganjar Analog dengan Anies

Lalu, bagaimana reaksi Ganjar yang popularitas dan elektabilitasnya menjadi pemicu ontran-ontran di PDIP? Mungkin pria 51 tahun itu sedang senyum-senyum simpul. Betapa magnet politiknya demikian membahana. Kerja kerasnya sebagai gubernur, dan hobinya bermedia sosial ternyata membuahkan hasil. Ia sedang memanen buah itu.

Atau bisa pula ia sedang tertawa geli. Mengapa mereka yang mendukungnya dipersalahkan bahkan diancam? Bukankah aspirasi itu hak asasi?

Tapi, sebagai fatsoen politik, atau juga karena takut kehilangan kursi, Ganjar mengaku “ora ngurus” soal dukung-mendukung dirinya sebagai capres itu. Ia mengaku fokus bekerja dan mengatasi pandemi Covid-19 ini.

Akan tetapi siapa tahu jika diam-diam Ganjar sedang menikmati situasi tersebut? Buktinya, Ganjar tidak melarang mereka yang mendukungnya. Bahkan hampir dapat dipastikan diam-diam ia berharap dukungan itu terus membesar bak bola salju.

Reaksi Ganjar ini analog dengan sikap Anies Baswedan saat musim kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017. Ketika ada pendukungnya yang mengampanyekan tidak akan menyalatkan warga pendukung Ahok jika meninggal dunia, Anies yang saat itu menjadi rival Ahok sebagai calon gubernur, diam saja. Bahkan diam-diam Anies mungkin menikmati situasi tersebut, sambil berharap black campaign itu bertambah masif.

Akankah Ganjar akhirnya menang seperti Anies? Jika menang, meskipun analog, tetap ada bedanya. Anies menikmati black campaign, Ganjar tidak.

Comment here