Opini

Ilusi PKI Gatot dan Tantangan Senayan

Oleh: Dwi Badarmanto, Direktur Kajian Hankam Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Maka hanya ada satu kata untuk Gatot Nurmantyo: naif!

Hanya gara-gara patung Soeharto, AH Nasution dan Sarwo Edhie Wibowo tidak ada di Museum Kostrad lagi, lalu dia simpulkan Partai Komunis Indonesia (PKI) telah menyusup ke TNI.

Sontak, kesimpulan naif mantan Panglima TNI itu dibantah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman. Keduanya membantah PKI telah menyusup ke TNI.

Maka tuduhan Gatot itu pun tak lebih dari sebuah ilusi bahkan halusinasi di siang hari. Apalagi sebagai ideologi, komunisme sudah bangkrut di seluruh dunia. Hanya Korea Utara yang masih setia dengan komunismenya. Hanya orang-orang bodoh saja yang percaya komunisme bangkit di Indonesia. Apalagi menyusup ke TNI. Jauh panggang dari api.

Kini, ilusi Gatot soal PKI itu mendapat tantangan dari Senayan. Anggota Komisi I DPR RI dari PDIP Tubagus Hasanuddin manantang Gatot berdebat untuk membuktikan tuduhannya.

Lodewijk Paulus, sesaat setelah dilantik sebagai Wakil Ketua DPR RI menggantikan Aziz Syamsuddin, juga langsung melontarkan tantangan yang sama. Gatot harus bisa membuktikan tuduhannya. Gatot jangan asbun (asal bunyi). Sebagai mantan Komandan Jenderal Kopassus, Lodewijk Paulus juga bertestimoni tak ada PKI yang menyusup ke TNI.

Beranikah Gatot membuktikan tuduhannya itu secara ilmiah dan akademik disertai bukti faktual dan fakta empirik? Atau minimal datang ke DPR untuk.menyerahkan bukti-bukti otentik terkait tuduhannya itu? Jika tidak, tampaknya DPR yang perlu berinisiatif memanggil Gatot untuk didengar keterangannya soal tuduhannya yang menghebohkan dan memancing kegaduhan politik itu.

Akan halnya patung Soeharto, Nasution dan Sarwo Edhie yang tidak lagi berada di Museum Kostrad pun telah dijelaskan langsung oleh panggagas pembuatan patung diorama itu, yakni Letjen TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution semasa menjabat Pangkostrad. AY Nasution sebagai insan beragama merasa berdosa telah membangun patung itu. Sebab itu, ia sendirilah yang minta kepada Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman untuk memindahkan patung itu dari Museum Kostrad.

Karena patung itu dibangun bukan dengan anggaran negara, Letjen Dudung pun tak berdaya ketika AY Nasution meminta kembali patung-patung yang ia buat itu. Dudung tak bisa mencegah.

Kini, ketika tuduhannya itu telah memantik kegaduhan politik dan kehebohan publik, Gatot pun bergeser ke tema lain yang ia lontarkan. Yakni menjamurnya patung-patung Bung Karno di satu pihak, dan musnahnya patung-patung Soeharto di pihak lain. Itu pun ia asumsikan sebagai indikator bangkitnya PKI.

Sesungguhnya keberadaan jejak sejarah atau patung seorang tokoh bergantung pada suasana kebatinan masyarakatnya. Lalu terjadi seleksi alam.

Ini adalah era reformasi. Era reformasi mengoreksi Orde Baru, seperti Orde Baru mengoreksi Orde Lama. Karena Soeharto ikon Orde Baru, dan karena Orde Baru sedang dalam proses koreksi oleh era reformasi, maka wajar jika patung Pak Harto tidak banyak bertebaran di seantero negeri. Bahkan jika ada orang berani membuat patung baru Pak Harto, bukan tidak mungkin dia akan ditentang. Masyarakat masih punya sisa-sisa trauma Orde Baru. Jadi wajar jika simbol-simbol Orde Baru pun tak banyak bermunculan. Itu seleksi alam. Bukan karena ada kebangkitan PKI.

Bukti lain, partai-partai politik yang berdiri dengan mengusung “Soehartoisme” ternyata tidak pernah laku di pemilu. Mereka tak mendapat tempat di hati rakyat. Sebut saja Partai Berkarya yang sempat dipimpin Tommy Soeharto. Juga Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang didirikan Siti Hardiyanti Indra Rukmana alias Tutut Soeharto.

Di titik inilah justru Gatot Nurmantyo blunder dan menghadapi bumerang. Gatot kemudian dituding sedang berupaya membangkitkan sentimen Orde Baru untuk kepentingan elektoralnya setelah ia kehilangan panggung di mana-mana.

Di titik ini pula Gatot mengalami anomali. Bagaimana bisa ia yang suka bergandeng tangan dengan Amien Rais di KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan) Indonesia), misalnya, menghidupkan kembali arwah Orde Baru yang bergentayangan, sedangkan Amien Rais sejak dulu hingga kini menjadi seteru bebuyutan keluarga Cendana?

Jadi, kalau memang Gatot sedikit cerdas, hendaklah ia mencari isu lain untuk dijual kepada publik, bukan isu PKI yang sudah terbukti tak laku jual. Komunisme sudah bangkrut. Hanya orang-orang bodoh saja yang masih terpikat ideologi komunisme.

Kita pun mengutuk aksi biadab PKI pada Affair Madiun 1948 dan Gerakan 30 September 1965 di Jakarta, supaya tragedi serupa tak terulang lagi kini dan nanti.

Akan tetapi tidak berarti di saat yang sama kita berupaya membangkitkan sentimen Orde Baru. Jujurlah dan lihatlah, kebanyakan masyarakat masih trauma.

Alhasil, kita mengalir saja. Alamlah yang akan menyeleksi kita semua secara adil dan obyektif. Termasuk mereka yang jualan isu PKI. Jika ternyata jualannya tidak laku, jangan salahkan pasar. Apalagi sambil menuduh “pedagang” lain curang.

Comment here