Ekonomi

Ini Alasan Mengapa Kondisi Tanah Pekalongan Lebih Gawat daripada Jakarta

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa yang mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) paling tajam bukanlah DKI Jakarta, melainkan Kota Pekalongan, Jawa Tengah.


Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rokhis Khomarudin mengungkapkan hal ini dalam webinar, dikutip dari Kompas.com, Jumat (17/9/2021).


“Kota Pekalongan ini cukup paling besar (turun muka tanahnya) berkisar 2,1 sampai 11 cm per tahun,” jelas Rokhis.
Sedangkan DKI Jakarta mengalami penurunan muka tanah 0,1 cm-8 cm per tahun, lalu Bandung sekitar 0,1 cm-4,3 cm, dan Surabaya berkisar 0,3 cm-4,3 cm.


Sementara kota lainnya seperti Semarang dan Cirebon, muka tanah per tahunnya turun berkisar 0,9 cm hingga 6 cm dan 0,1 cm hingga 4,3 cm.
Dilihat dari satelit tahun 1993-2021, Pekalongan menjadi wilayah dengan pertumbuhan permukiman yang cukup besar dan berada di tanah lunak.

Warga mencari udang di pesisir Pantai Jakarta, Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (4/12/2019). Hasil tangkapan udang ini untuk dikonsumi. (Foto: Kompas.com)


Hal ini menjadi berbahaya karena membuka potensi peningkatan banjir rob di wilayah tersebut.
“Kalau banjir terjadi di daerah permukiman, pasti orang akan ribut karena di situ banyak yang beraktivitas,” paparnya.


Sementara jika terjadi banjir rob di luar permukiman, kata Rokhis, tidak akan menjadi permasalahan yang besar.


Lalu, mengapa Pekalongan mengalami penurunan muka tanah lebih dalam ketimbang DKI Jakarta?
Rokhis mengungkapkan, pihaknya masih mencari tahu mengapa penurunan muka tanah Pekalongan sangat drastis ketimbang DKI Jakarta.
Padahal, kondisi geologi dari kedua wilayah tersebut sama-sama memiliki tanah lunak karena berada di Pantura Jawa.


Namun demikian, ada satu kajian yang pernah dilakukan BRIN yang menyebabkan luasnya banjir rob di Pekalongan.
Penyebabnya adalah hilangnya beting gisik karena aktivitas manusia untuk usaha tambak dan terkait penurunan muka tanah.


Beting gisik sendiri merupakan suatu perbukitan yang berada di dekat pantai.


Menurut Rokhis, hilangnya beting gisik sekaligus penurunan muka tanah akhirnya memperparah banjir rob di Pekalongan.


Hal ini kemungkinan berbeda dengan Jakarta, walaupun mengalami banjir rob, tidak meluas seperti halnya di Pekalongan.


Selain penurunan muka tanah, Pantura Jawa sendiri mempunyai masalah lain, seperti perkembangan dan eksploitasi pemanfaatan lahan yang relatif cepat.


Selanjutnya, perubahan permukiman, perubahan hutan mangrove (hutan bakau), dan perubahan garis pantai.
Selain itu, wilayah ini juga didominasi tanah lunak yang tersusun oleh endapan aluvial.

Comment here