Jaga Budaya

Ini Profil AA Navis, Sastrawan Asal Padang Panjang yang Hari Lahirnya Ditetapkan UNESCO sebagai Hari Perayaan Internasional

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Ali Akbar Navis atau yang lebih dikenal dengan AA Navis adalah sastrawan termasyur Indonesia. Dikutip dari Badanbahasa.kemdikbud.go.id, seperti dilansir Tempo.co, Rabu (6/12/2023), Navis lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. Ia tumbuh dan besar dalam lingkungan budaya Minangkabau.

Diberitakan, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau UNESCO resmi menetapkan hari kelahiran sastrawan Indonesia AA Navis sebagai salah satu hari perayaan internasional. Penetapan itu diumumkan oleh Direktur Jenderal UNESCO di hari penutupan Sidang Umum ke-42 UNESCO di Paris, Prancis, 22 November 2023.

Sastrawan Ali Akbar (AA) Navis, 1991. (Dok/TEMPO)

Profil AA Navis

Kesenangan Navis terhadap sastra dimulai dari rumah. Orang tuanya, pada saat itu, berlangganan majalah Panji Islam dan Pedoman Masyarakat yang memuat cerita pendek dan cerita bersambung di setiap edisinya.

Ayahnya, Sutan Marajo Sawiyah, kemudian membelikan buku bacaan kegemarannya. Inilah yang menjadi modal awal Navis untuk menekuni dunia sastra. Navis menyelesaikan pendidikan terakhirnya pada 1946 di perguruan Indonesische Nederlandsche School (INS) Kayutanam selama 11 tahun.

Selama di INS, Navis manfaatkannya perjalan panjang ke sekolahnya untuk membaca buku sastra yang dibelinya. Sementara di sekolah, Navis juga mendapat pelajaran kesenian dan berbagai keterampilan, di samping mengikuti pelajaran utama.

Seiring waktu, Navis mulai menunjukkan bakat sastranya. Ia kemudian menulis kritik dan esai. Navis berusaha menyoroti kelemahan cerpen Indonesia dan mencari kekuatan cerpen asing. Ia pun memperbaiki cerpen Indonesia dengan memadukannya dengan kekuatan cerpen asing.

Navis memulai kariernya sebagai penulis saat menginjak usia 30-an. Ia aktif menulis sejak 1950, namun karyanya baru diakui sekitar 1955 sejak cerpennya banyak muncul di beberapa majalah, seperti Kisah, Mimbar Indonesia, Budaya dan Roman.

Navis juga menulis naskah sandiwara untuk beberapa stasiun RRI, seperti Stasiun RRI Bukittinggi, Padang, Palembang (Sumatera Selatan) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Selanjutnya, ia mulai menulis novel dengan tema bernafaskan kedaerahan dan keagamaan sekitar masyarakat Minangkabau.

Tak sampai di situ, Navis juga berkeinginan menulis peristiwa kemiliteran yang pernah dihadapi bangsa Indonesia dan tentang kebangkitan umat Islam. Akan tetapi, keinginan itu diurungkannya mengingat sulitnya mencari penerbit yang mau menerbitkan cerita yang berisi kedua peristiwa tersebut.

Selain menjadi pengarang, Navis bekerja sebagai pemimpin redaksi di harian Semangat (harian angkatan bersenjata edisi Padang), Dewan Pengurus Badan Wakaf INS, dan pengurus Kelompok Cendekiawan Sumatera Barat (Padang Club). Navis juga sering menghadiri berbagai seminar masalah sosial dan budaya sebagai pemakalah atau peserta.

Selama berkarya, Navis menghasilkan puluhan karya. Dikutip dari publikasi “Laki-Laki Dan Pernikahan Dalam Kumpulan Cerpen Jodoh Karya A. A. Navis Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran Sastra Di SMA”, karya-karya Navis di antaranya adalah Gerhana (2004), Di Lintasan Mendung (1983), Di sepanjang Pantai Purus (1971), dan Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi (1970). Serta Dermaga Lima Sekoci (2000), dan Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi.

Kemudian ada pula Padang Kota Tercinta (1969), Kemarau (1967), Kembali dari Alam Barzakh (1967), Pak Kantor (1957), Dermaga Lima Sekoci (2000) dan Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975). Ada juga Otobiografi Navis seperti, Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994), dan Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986).

Selanjutnya, ada sejumlah cerpen seperti Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005), Bertanya Kerbau Pada Pedati: kumpulan cerpen (2002), Kabut Negeri si Dali: Kumpulan Cerpen (2001), dan Jodoh: Kumpulan Cerpen (1999). Serta ada Hujan Panas dan Kabut Musim: Kumpulan Cerita Pendek (1990), Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963), dan Robohnya Surau Kami (1955).

Sebagai sastrawan, Navis mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan dari majalah Kisah untuk cerpen “Robohnya Surau Kami”. Ia juga meraih penghargaan dari UNESCO (1967), Hadiah dari Kincir Emas (1975), Hadiah dari majalah Femina (1978), Hadiah seni dari Depdikbud (1988) dan SEA Write Awards (1992).

AA Navis meninggal di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Pusat, pada 2004. Ia meninggalkan satu orang istri, tujuh orang anak, serta 13 cucu. Navis dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.

Comment here