Hukum

IPW Teruskan Pengaduan Warga Pontianak ke Kapolri, Apa Isinya?

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Indonesia Police Watch (IPW) meneruskan pengaduan seorang ibu asal Pontianak, Kalimantan Barat, kepada pihaknya. Pengaduan itu dilakukan melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Kapolri. IPW berharap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan atensi atas pengadulan atau keluhan seorang ibu tersebut. Lalu apa isi pengaduan itu?

Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso pun mengirimkan draf surat pengaduan yang ditujukan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo itu. Intinya, demi tegaknya keadilan, seorang ibu yang mengaku bernama Ita yang memiliki 2 orang anak kecil, dengan kondisi hamil 8 bulan, dari suami yang 3 hari lalu masuk penjara di Polsek Pontianak Barat, Pontianak, Kalimantan Barat, meminta keadilan.

Seorang ibu bernama Ita asal Pontianak Barat, Kalimantan Barat. (Foto: tangkapan layar dari video yang dikirim Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso)

“Suami saya dipenjara dengan tuduhan telah melakukan pengrusakan di rumah warga (pintu rumah tripleks rusak). Hal itu dilakukan suami saya karena sebelumnya pihak pelapor mengeluarkan kata-kata kasar,” tulis Ita dalam surat yang dikirimkan Sugeng Teguh Santoso kepada KABNews.id, Selasa (12/12/2023) malam.

Menurut Ita dalam suratnya, ada dugaan oknum Kapolsek Pontianak Barat mengintervensi permasalahan suami dia, di mana seharusnya pihak pelapor sudah mau damai dan tidak melanjutkan kasus ini ke pihak kepolisian, dengan syarat harus mengganti rugi pintu yang rusak dan membuat surat pernyataan maaf serta tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut. “Dan kami menyanggupinya,” cetus Ita dalam suratnya.

Namun, kata Ita, setelah Kapolsek Pontianak Barat (Ita tak menyebut nama) ikut dalam mediasi tersebut, malah pihak pelapor diduga “diperintahkan” oleh diduga oknum Kapolsek untuk tidak mencabut laporan dan tidak damai. “Saya beberapa kali ke rumah pelapor dengan membawa anak-anak saya, dalam kondisi sakit asma yang saya alami, bolak-balik ke kantor Polsek dan ke rumah pelapor,” cetusnya.

“Ke Polsek saya mau ketemu suami saya, tidak dibolehkan oleh pihak polisi. Saya ke rumah pelapor berkali-kali, namun tidak pernah ketemu. Menurut anak pelapor, ada oknum polisi melarang saya bertemu dengan pelapor,” paparnya.

“Restorative justice yang Bapak (Kapolri, red) gaungkan tidak berlaku di sini. Di mana harusnya polisi menjadi penengah, menjadi solusi dari permasalahan warga, ini malah diduga menjadi ‘provokator’ dan mengintervensi. Tolong kami, Bapak,” lanjut Ita masih dalam suratnya.

“Bagaimana nasib saya yang sebentar lagi melahirkan, Bapak? Anak-anak masih kecil-kecil, sementara suami saya khilaf berujung penjara. Padahal pelapor mau damai, tapi kenapa berubah? Demi tegaknya keadilan, mohon bantuannya, Bapak. Sampai malam ini saya mau ketemu suami enggak bisa, anak-anak menangis sepanjang hari, sampai malam mau ketemu bapaknya tidak bisa. Saya percaya masih banyak polisi baik di negara ini,” tandas Ita.

“IPW berharap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan atensi atas pengadulan atau keluhan seorang ibu tersebut,” kata Sugeng Teguh Santoso.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan redaksi belum berhasil menghubungi pihak Polsek Pontianak Barat, Pontianak, Kalimantan Barat, untuk klarifikasi.

Comment here