Opini

Jokowi dan Era Baru Indonesia

Oleh: Ishadi SK

Jakarta, KABNews.id – Siapa yang tidak kenal orang nomor satu di Indonesia, Joko Widodo. Sapaan akrabnya seorang Jokowi kini mendunia. Ayah dengan tiga anak ini kelahiran Surakarta 21 Juni 1961. Istrinya bernama Iriana Joko Widodo. Jokowi menikah dengan Iriana di Solo pada 24 Desember 1986 dan menghasilkan tIga anak yakni Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep.

Jokowi sendiri sebelum berlayar di dunia politik hingga menjadi pimpinan negara, ia seorang pengusaha mebel. Ia lulusan Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada (UGM). Dengan berbekal ilmunya, ia gunakan untuk menjalankan usaha mebel yang berbahan dasar kayu yang diubah menjadi sebuah furnitur.

Awal Jokowi mengepakkan sayapnya di dunia politik ketika Jokowi dicalonkan sebagai Wali Kota Solo pada 2005 oleh PKB dan PDIP. Dengan sifatnya yang sederhana, ia mampu menata Solo hingga menjadi lebih baik. Masyarakat Solo sendiri pun mengagumi bagaimana ayah tiga anak itu merakyat dan menjadi pemimpin yang manusiawi.
Terkenal dekat dengan masyarakat Solo, Jokowi mengedepankan dialog dengan masyarakat saat ingin melakukan penataan kota. Atas kepemimpinannya itu, membuatnya kembali terpilih sebagai wali kota di pemilihan kepala daerah tahun 2010.

Menjabat lagi sebagai Walikota Solo, ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia versi Yayasan Wali Kota Sedunia (The City Mayors Foundation). Jokowi dianggap telah membentuk citra kota Solo sebagai kota seni budaya hingga bisa menarik wisatawan datang.

Keberhasilannya itu semakin dikenal publik dan berbagai tokoh, ia pun akhirnya dibawa untuk melenggang di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dengan pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Mereka terpilih menjadi gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Terkenal sebagai pimpin yang tak kenal lelah, prestasinya membawa Jokowi masuk ke bursa pemilihan presiden pada tahun 2014. Bersama wakilnya Jusuf Kalla, mereka memang atas pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa. Saat menjadi Presiden, yang terkenal dari kinerjanya adalah mempercepat dan membangun baru infrastruktur.

Empat tahun kemudian, Jokowi pun melenggang lagi di Pilpres 2019. Ia berpasangan dengan tokoh agama Ma’ruf Amin. Mereka memang atas lawannya Prabowo dan Sandiaga Uno.

Kini, berbagai infrastruktur terus dikebut Jokowi dan Ma’ruf Amin. Terbaru dan yang menjadi perbincangan semua pihak, Jokowi akan merealisasikan pemindahan ibu kota ke Kalimantan. Pemindahan ini sudah sangat serius, sebab sudah ada aturan lengkap dan road map dari tahap pembangunan hingga pemindahan aparatur sipil negara (ASN) yang akan bekerja di sana.

Jejak Jokowi sebagai pengusaha sebenarnya menurun ke anak-anaknya. Seperti anak sulung Jokowi yang diketahui memiliki bisnis kuliner. Kemudian bisnis itu dialihkan kepada adik terakhirnya Kaesang karena dirinya kini menjadi Wali Kota Solo. Gibran menjabat sebagai Wali Kota Surakarta yang dilantik pada 26 Februari 2021. Rasanya jejak Jokowi telah melekat kepada anak-anaknya.

Perkenalan dengan Jokowi

Joko Widodo yang akrab dengan sapaan Jokowi, telah dua periode menduduki jabatan tertinggi Republik Indonesia. Perkenalan saya dengan Jokowi sejak ia masih menduduki jabatan sebagai Walikota Solo. Pertemuan pertama saya dengan ayah tiga anak itu ketika harus menghadiri acara Ikatan Dokter Indonesia. Beliau meminta saya ikut dalam diskusi itu, kala itu posisi saya masih menjadi Direktur Utama Trans TV.

Sebelum ke tempat acara, uniknya saya tidak bertemu di acara tersebut. Namun, di tengah jalan menuju hotel. Sosok Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Walikota saya lihat berdiri di depan jalan yang rusak. Saat itu saya tidak tahu siapa pria yang ternyata dialah Jokowi.

Saya berhenti dan bertanya, “siapa Bapak dan kenapa yang berdiri di tengah berlubang itu? Ia menjawab, “Saya Jokowi, Walikota Solo dan saya sengaja berada di sini agar Dinas Pekerjaan Umum (DPU) setempat segera memperbaiki jalan ini”. “Saya terteguh bahwa seorang Walikota mau nongkrong dan menjaga agar jalanan yang rusak itu diperbaiki.

Keesokan harinya saya menghadiri acara yang diprakarsai oleh Ikatan Dokter Indonesia. Dalam agenda itu yang menjadi pembicara adalah Saya dan Jokowi. Dalam agenda itu, saya menyampaikan kepada hadirin bahwa saya sangat terkesan pada Pak Jokowi dan dedikasinya.

Langkah yang dilakukan oleh Jokowi menunjukkan bahwa ia memang bertanggung jawab terhadap kesalahan yang terjadi. Sejak itu saya jadi kenal dengan Pak Jokowi dan bisa berkomunikasi setiap saat saya ke Solo.

Kemudian dua tahun berikutnya Pak Jokowi terpilih sebagai Walikota untuk kedua kalinya. Setelah selesai dalam dua periode Walikota, ia terpilih menjadi Gubernur Jakarta. Jokowi pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 hingga 16 Oktober 2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur.

Meski menjadi Gubernur Jakarta, hubungan saya dengan Jokowi malah semakin dekat. Kami berdua hampir setiap 2 minggu sekali bersepeda keliling Jakarta. Kami bersepeda berbarengan dengan petinggi lainnya, seperti Duta Besar Finlandia dan Duta Besar Denmark. Saya juga mengajak beberapa rombongan dari Trans TV.

Kegiatan berlanjut, biasanya Pak Jokowi yang memimpin kegiatan ini. Yang paling sering dilakukan adalah mampir dulu di tukang bubur di Cendana. Bubur yang dijual sangat enak dan selalu ramai pengunjungnya. Saya baru tahu bahwa gerobak bubur ini berada di depan rumah Bambang Trihatmojo. Rupanya Bambang Trihatmojo pernah terlena dengan bubur ini.

Suatu ketika saya berbisik pada tukang bubur, “Mas sampeyan tahu Pak Jokowi? Kalau dia jadi Presiden gimana?”

Ia pun menjawab, “Setuju, Pak!”

Pernah juga kami dibawa masuk ke Kawasan Glodok untuk makan bubur juga. Ada warung bubur yang selama ini menjadi favorit Pak Jokowi dan juga pejabat-pejabat lain. Kami blusukan ke warung bubur itu. Ada seorang ibu-ibu menyapa pak Jokowi. Saya tanya lagi, “Bu, kalau Pak Jokowi jadi Presiden gimana?”

“Setuju!”

Rupanya orang-orang suka dengan sosok Jokowi.

Suatu hari kami perjalanan pulang dari bersepeda kembali ke Balai Kota, di sana sudah tersedia makanan. Saya bilang ke beliau, “Pak Jokowi, masa dari dulu makanannya begini aja, Pak?”

Katanya, “Ini juga udah cukup, Pak Is.”

Pembahasan di kalangan masyarakat bawah itu sangat kuat, menunjukkan Pak Jokowi pada masa itu memang diharapkan masyarakat untuk menjadi Presiden. Setelah dua kali jadi Gubernur Jakarta, ketika ada Pemilu memang akhirnya pak Jokowi terpilih menjadi Presiden.

Nah, kalau kita lihat perjalanan beliau menjadi Walikota Solo, Gubernur Jakarta, dan Presiden RI. Semuanya bertahap. Jadi saya juga tertarik ketika ramai dibahas mengenai Presiden tahun 2024.

Ada dua hal yang sangat strategis yang dilakukan selama ini. Pertama, selama pemerintahannya ia gencar sekali membangun jalan tol hampir di seluruh Provinsi di Indonesia. Sepuluh tahun menjadi Presiden, menurut saya belum ada yang seaktif Pak Jokowi membangun infrastruktur begitu banyak. Kedua, kedekatan beliau yang luar biasa terhadap masyarakat luas.

Barangkali saya salah, tapi saya melihat bahwa dia konsisten dalam mendekati masyarakat, dan hal ini sikap yang terbuka dalam pendekatan ke masyarakat pada saat perjalanan di luar kota, menjadi ciri utama Jokowi.

Tahun 2024 Presiden Jokowi akan menjadi pusat perhatian tentang konsep jangka panjang yang akan ditetapkan dalam memasuki era baru Indonesia. Seperti apakah ibu kota negara yang akan didesain kelak menjadi hal yang dinanti-nantikan. Menkopolhukam secara berani mengatakan, “Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan dimulai 17 Agustus 2024.”

Ishadi SK, Komisaris Trans Media.

Dikutip dari detik.com, Jumat 17 Juni 2022.

Comment here