Hukum

Kasus Terbunuhnya 4 Anak di Jagakarsa, Polisi Disarankan Terapkan Pasal Pembunuhan Berencana

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Empat anak dari seorang pria berinisial P (41) ditemukan tewas di kontrakan Gang Haji Roman, Kebagusan, Jagakarsa, Pasarminggu, Jakarta Selatan, Rabu (6/12/2023) sekitar pukul 14.50 WIB. Keempat anak itu diduga dibunuh ayahnya sendiri beberapa hari sebelum ditemukan. Sebelumnya, P diduga juga telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya, D.

P ditemukan tergeletak karena mencoba bunuh diri dan saat ini dalam perawatan di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Sementara ibu keempat anak, D sebelumnya dianiaya P dan saat ini sedang dirawat di RSUD Pasar Minggu.

Ilustrasi pembunuhan berencana. (Tempo.co)

“Dalam berbagai pemberitaan, ditulis peristiwa ini sebagai KDRT. Namun demikian, polisi seyogyanya tidak hanya menjerat P dengan UU Penghapusan KDRT saja, tetapi juga mempertimbangkan KUHP, khususnya pasal pembunuhan berencana,” kata Halimah Humayrah Tuanaya, Dosen Hukum Pidana dan Perlindungan Perempuan dan Anak Fakultas Hukum Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, kepada KABNews.id, Jumat (8/12/2023.

P, kata Halimah, dapat dikategorikan melakukan KDRT terhadap istrinya D. Tetapi terhadap keempat anaknya, P bisa saja dikategorikan melakukan pembunuhan berencana atau setidaknya pembunuhan. “Oleh karena itu, saya menyarankan agar kepolisian juga mempertimbangkan Pasal 340 KUHP perihal pembunuhan berencana atau Pasal 338 KUHP perihal pembunuhan, selain Pasal 5 ayat (1) juncto Pasal 44 UU PKDRT (UU No 23 Tahun 2004, red) perihal KDRT fisik,” jelasnya.

Namun demikian, kata Halimah, KDRT yang dilakukan P terhadap istrinya D juga tidak menutup kemungkinan dikategorikan sebagai pembunuhan berencana. “Penyidik harus fokus menggali ‘original intention’ dari pelaku. Apakah tujuan pelaku hanya sebatas melakukan kekerasan pada korban, atau bahkan lebih dari itu, memang sejak awal memiliki ‘intention’ untuk membunuh D? Jadi, meskipun istrinya tidak mati, bukan berarti tidak bisa dijerat dengan delik pembunuhan berencana, jika niat awalnya membunuh. Hanya saja karena pelaku tidak mencapai tujuan, korban tidak sampai mati, bisa didakwa dengan percobaan pembunuhan berencana,” paparnya.

Menurut Halimah, penerapan Pasal 340 KUHP penting meninngat ancaman hukuman pembunuhan berencana adalah pidana mati, sedangkan Pasal 44 ayat (3) UU Penghapusan KDRT ancaman pidananya hanya 15 tahun penjara.

_

Comment here