Opini

Ketika Agama Menjadi Malapetaka

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Marbot Musala

Jakarta, KABNews.id – Agama (Islam) menjadi malapetaka. Kok bisa? Bukankah agama (Islam) merupakan sumber kedamaian dan kebahagiaan? Islam itu sendiri berarti damai, selamat, sejahtera dan sejenisnya.

Entah kebetulan atau tidak, di Mekkah, Arab Saudi, Ahad (13/8/2023), berlangsung Konferensi Internasional tentang Konsolidasi dan Koordinasi Tokoh Umat Islam. Dalam konferensi itu dibahas “Islam wasathi” (Islam moderat).

Keesokan harinya, Senin (14/8/2023), di Bekasi, Jawa Barat, terjadi penangkapan terduga teroris berinisial DE oleh Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri yang kemudian diketahui sebagai pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada pengikut Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) itu juga ditemukan 18 pucuk senjata api, baik laras panjang maupun laras pendek, serta puluhan amunisi. Terorisme adalah puncak dari radikalisme.

Diberitakan, Konferensi Internasional tentang Konsolidasi dan Koordinasi Tokoh Umat Islam yang dihadiri 83 negara itu, menurut Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis, pembahasan utamanya adalah tentang merekatkan persatuan umat Islam di seluruh dunia atas asas keagamaan Islam yang moderat (wasathi), toleran dan inklusif.

Ilustrasi terorisme. (Media Indonesia)

Menurut Kiai Cholil, tema dalam pertemuan tersebut diulas sedari awal pembukaan oleh para ulama agar bisa menyelaraskan antara ajaran Islam yang ideal dan kenyataan umat yang penuh dinamika.

Kiai Cholil menilai, persoalan yang muncul di masyarakat hingga memicu perpecahan akibat fanatik buta terhadap golongannnya sendiri dan terkadang disertai dengan mengkafirkan kelompok lain yang berbeda pendapat.

Dengan pemahaman seperti ini, kata Kiai Cholil, maka agama kemudian menjadi malapetaka karena kesalahan dalam memahami teks agama.

Dalam konferensi itu, kata Kiai Cholil lagi, juga didiskusikan soal “wasathiyatul Islam” (moderasi Islam) secara konsepsional dan praktiknya di beberapa negara. Adapun Indonesia memaparkan “wasathiyatul Islam” yang sudah menjadi arus utama paham keagamaan, yang menjadi tema Muktamar Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta Musyawarah Nasional (Munas) MUI.

Pada prinsipnya, Indonesia mampu menjaga kesatuan dan persatuan dengan banyak ragam etnis dan agama karena mayoritas umat berpaham “Islam wasathi” (Islam moderat).

Kiai Cholil menyebut, peristiwa terorisme dan ekstremisme bahkan pengeboman terjadi karena masih adanya sebagian umat Islam yang punya paham eksklusif dan biasanya tak berafiliasi dengan organisasi kemasyarakatan Islam besar di Indonesia.

Ekstremisme di tengah-tengan umat, katanya, menjadi tugas ulama dan tokoh umat untuk terus menyerukan perdamaian dan memahami Islam yang benar.

Sebenarnya, kata dia, sumber ekstremisme, baik kiri maupun kanan, itu karena paham agama yang tidak proporsional. Biasanya mereka memahami ajaran Islam yang salah antara keleluasaan agama (rukhshah) dan ketetapan yang pasti dalam agama (‘azimah).

Adanya ekstremisme kiri karena menggampangkan agama sehingga apa pun bisa dipahami di luar teks atas nama kemaslahatan. Sedangkan yang ekstrem kanan, karena terlalu ketat dalam memahami agama sehingga agama dipahami secara harfiah tekstual bahkan melupakan realita kehidupan. Sebab itu, kata Kiai Cholil, Rasulullah SAW mengingatkan, “Rusaklah orang-orang yang keterlaluan.”

Dalam konferensi tersebut, MUI menyampaikan 10 kriteria “wasathiyatul Islam” agar menjadi pegangan dunia Islam dalam memberi fatwa dan membimbing umat. Yaitu seimbang dalam memahami teks dan konteks, bisa membedakan mana wilayah penyimpangan (inhiraf) yang harus diamputasi dan wilayah perbedaan (khilafiyah) yang harus ditoleransi.

Pun, bisa berpikir dinamis yang menyeimbangkan antara ajaran agama yang baku dan ajaran Islam yang dinamis. Cara ber-Islam yang “wasathi” ini, kata Kiai Cholil, akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman dan mampu membangun peradaban.

Menurut Kiai Cholil, saat ini dunia Islam sedang menghadapi paham keagamaan yang ekstrem, dan saat bersamaan menghadapi sekularisasi, ateisme dan Islamofobia. Dunia yang mengecil dengan teknologi informasi yang membanjir dari berbagai penjuru menjadi tantangan berat tokoh agama dalam membimbing umat, pungkasnya.

Kita bersyukur, Indonesia bisa “mengekspor” paham “Islam wasathi” (Islam moderat) ke luar negeri, utamanya Timur Tengah. Namun di saat bersamaan, Indonesia tak kuasa menolak “impor” paham Islam radikal dari Timur Tengah. Keberadaan teroris-teroris di Indonesia itulah buktinya.

Di tangan para ekstremis dan terosis, agama (Islam) menjadi malapetaka, karena mereka salah dalam memahami teks agama.

Data Universitas Indonesia (UI), di Indonesia dari kurun waktu 2010 hingga 2017 tercatat terjadi 130 kasus terorisme. Sebanyak 896 pelaku telah ditangkap dan dijatuhi hukuman, 126 di antaranya dihukum mati, 674 sedang dalam hukuman dan 96 pelaku bebas.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), jumlah serangan teror selama periode 2018-2022 di Indonesia sebanyak 49 kali.

Alhasil, ektremisme dan terorisme masih menjadi masalah serius di Indonesia. Hal itu, mengutip pendapat KH Cholil Nafis, terjadi karena masih ada yang salah dalam memahami teks agama.

Comment here