Opini

Ketika Anies Baswedan Mencari “Akar” Jawa

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id

Kemarin berkunjung ke Vihara, kini pamer keris. Tampaknya Anies Baswedan sedang mencari “akar” darimana dia berasal. Maklum, ia terlanjur terstigmatisasi sebagai sosok intoleran yang mendukung politik identitas. Anies pun tercerabut dari akarnya.

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta itu, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969. Tapi ia tumbuh dan besar di Yogyakarta. Citra Yogyakarta yang lekat dengan tradisi Jawa dan pluralisme (kebinekaan), semestinya lekat dengan dirinya, meskipun ia keturunan Arab. Sayangnya, itu tak terjadi. Anies terlanjur terstigmatisasi sebagai sosok intoleran yang memanfaatkan, atau sekurang-kurangnya “menikmati”, politik identitas sebagai kendaraannya ke kursi DKI-1.

Ya, ketika mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2017, Anies didukung oleh kelompok-kelompok intoleran. Ketika ada pendukungnya melakukan black campaign dengan mengusung isu bahwa para pendukung Ahok tidak akan disalatkan jika meninggal dunia, misalnya, Anies diam saja. Anies tidak melarang aksi intoleran itu. Bahkan mungkin diam-diam ikut menikmati situasi tersebut sembari berharap dukungan terhadapnya terus membuncah.

Kini, ketika kontestasi elektoral Pemilihan Presiden 2024 sudah di depan mata, Anies tampaknya ingin menghapus stigma negatif semacam itu. Ia tidak ingin dipersepsikan intoleran. Ia tidak mau diasumsikan sebagai pendukung politik identitas. Maka apa pun ia lakukan.

Diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenang kembali pertemuan dengan mendiang dalang kondang, Ki Manteb Sudarsono pada 25 April 2021. Anies menceritakan saat itu dirinya menerima keris yang diberi nama Luk 7 dari almarhum. Kenangan itu dibagikan Anies melalui video yang diunggah di akun Instagram miliknya @aniesbaswedan bertepatan dengan 100 hari wafatnya Ki Manteb Sudarsono. 

Dalam video itu, Anies menunjukkan keris Luk 7 pemberian Ki Manteb Sudarsono sekaligus menerangkan secara detail makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Sejarahnya, kata Anies, keris jenis ini dimiliki beberapa tokoh sejarah seperti Sultan Hadi Wijaya, pendiri Kerajaan Pajang (1549-1582) yang dikenal sebagai Joko Tingkir, penakluk buaya di Sungai Kedung Srengenge. Keris ini dibawa Sunan Kalijaga saat membawa kayu untuk tiang Masjid Agung Demak lewat Sungai Kreo.

Sebelumnya, Anies berkunjung ke Vihara Dharma Jaya Toasebio Jakarta Barat, Ahad (5/9/2021). Yang memantik kontroversi, dalam foto yang beredar, Anies terlihat memasang hio sebagai perlengkapan sembahyang.

Sebelumnya lagi, Anies berziarah ke makam Kyai Ageng Besari, perintis padepokan Gebang Tinatar sekitar tahun 1700-an, di Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (27/4/2021).

Anies juga mencoba mendekat ke gereja. Pada 30 April 2021, misalnya, ia meresmikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung di Penjaringan, Jakarta Utara. Gereja ini berdiri setelah melewati proses panjang selama 37 tahun.

Pada 29 Agustus 2021, Anies melalui akun Facebook-nya juga menginformasikan perkembangan proses revitalisasi Gereja Immanuel, Jakarta, yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Keris, vihara (hio), ziarah dan gereja adalah sesuatu yang lazimnya dijauhi kelompok-kelompok intoleran. Namun mengapa semua itu Anies lakukan? Mungkin karena ia sedang mencari “akar”. Sejak Pilkada DKI 2017, Anies tercerabut dari “akar”-nya. Anies kini ingin kembali ke “akar”-nya. Anies kemudian menampilkan citra dirinya sebagai seorang pluralis dan “Jawa”. Selain Jawa, “akar” lain yang dicari Anies adalah “pluralisme” atau kebinekaan.

Teori Kompensasi

Jadi, apa yang dilakukan Anies erat kaitannya dengan teori kompensasi. Ia terlanjur terstigmatisasi sebagai intoleran dan pendukung politik identitas. Sebagai kompensasinya, ia kini mendekat ke hal-hal yang dijauhi kelompok intoleran. Itu sebuah kompensasi.

Selain itu, terlepas dari soal suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), selama ini yang berhasil terpilih menjadi Presiden RI adalah mereka yang beretnis Jawa. Kecuali BJ Habibie yang memang saat itu kondisinya darurat, tidak lewat pemilihan. Soekarno, Soeharto, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan kini Presiden Joko Widodo semuanya beretnis Jawa.

Inilah salah satu pemicu mengapa Natalius Pigai kesal dengan Jokowi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang kemudian ia serang dengan isu rasis. Di dalam politik, menurut Pigai, ada kesenjangan antara Jawa dan non-Jawa.

Di luar isu rasial, Pigai tidak salah. Namun, orang Jawa yang terpilih menjadi Presiden RI pun tidak salah. Sebab, penduduk terbesar Indonesia memang beretnis Jawa. Orang Jawa memilih orang Jawa.

Terlepas dari Jawa dan non-Jawa, sesungguhnya faktor terpilihnya mereka sebagai Presiden RI adalah kualitas, integritas, leadership serta visi, misi dan program mereka. Kalau orientasi mereka Jawa dan non-Jawa, lalu apa bedanya dengan yang mengusung politik identitas? Di sinilah kekesalan Pigai tak menemukan relevansinya.

Pemimpin itu bukan soal Jawa atau non-Jawa, melainkan soal kualitas, integritas dan leadership.

Ketika kini Anies Baswedan mencoba menampilkan diri sebagai “Jawa”, mungkin ia ingin menggaet pemilih Jawa dalam Pipres 2024. Apalagi calon-calon rival terkuatnya beretnis Jawa, yakni Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Keris akhirnya dipilih Anies sebagai sarana mencitrakan diri sebagai Jawa. Sebab keris identik dengan Jawa. Keris adalah senjata tradisional Jawa.

Tapi, kalau Anies berorientasi etnis, ia akan kembali terjebak politik identitas. Tanpa kualitas, integritas dan leadership mumpuni, jangan harap akan terpilih kendati sudah menemukan “akar” Jawa.

Comment here