Hankam

Kolonel Latief 2 Kali Temui Soeharto Soal Rencana Menjemput Jenderal TNI AD

Editor: Dwi Badarmanto

Jakarta, KABNews.id – Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S yang menjemput para jenderal elite TNI Angkatan Darat (AD) pada 1 Oktober 1965 punya dimensi dan sudat pandang peristiwa. Ada versi kebenarannya masing-masing. Dari pelaku dan juga pihak-pihak lain.

Dikutip dari Tempo.co, Senin (4/10/2021), rezim Orde Baru dalam buku Tragedi Percobaan Kup G30S/PKI menyebut PKI sebagai dalang utama di balik peristiwa tersebut. Namun, Kolonel Abdul Latief  atau dikenal sebagai Kolonel Latief yang merupakan salah satu pimpinan utama G30S memgungkap fakta lain dari peristiwa tersebut.

Dalam pledoinya yang dibacakan di depan Mahkamah Militer Luar Biasa, Kolonel Abdul Latief menaruh curiga terhadap Soeharto. Pangkostrad tersebut tahu tentang rencana aksi tersebut.

Pledoi yang dirilis sebagai buku berjudul Pledoi Kol A Latief: Soeharto terlibat G 30 S tersebut menyebut Soeharto telah mengetahui rencana untuk menjemput para jenderal TNI AD yang ia tuduh telah membentuk Dewan Jenderal.

Gerakan 30 September atau G30S 1965 yang dipimpin Komandan Tjakrabirawa Letkol Untung ditumpas oleh TNI di bawah pimpinan Mayjen Soeharto. (Foto: Tempo.co)

Kolonel Latief bahkan mengaku sudah dua kali menemui Soeharto, yang kala itu berpangkat mayor jenderal dan menjabat sebagai Pangkostrad. Pertemuannya pertama dengan Soeharto terjadi pada 29 September 1965. Dalam wawancara dengan Majalah Tempo Oktober 1998, Latief mengaku datang langsung ke rumah Soeharto.

Kepada Soeharto ia mengatakan bahwa para jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal akan dijemput untuk menghadap Presiden Sukarno. Mereka para jenderal itu akan diminta menjelaskan tentang rencana kup. Alih-alih terkejut, Soeharto justu mengungkapkan bahwa ia telah mengetahui hal tersebut dari mantan anak buahnya, Subagyo.

Setelah hari itu, Kolonel Abdul Latief bahkan bertemu kembali dengan Soeharto pada malam 30 September 1965 beberapa jam menjelang G30S dilancarkan. Kali ini di RSPAD. Kala itu Soeharto sedang menunggu anaknya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang tengah dirawat.

Dikutip dari buku Dalih Pembunuhan Massal (2008), Kolonel Latief berbincang mengenai adanya Dewan Revolusi yang akan melakukan penculikan terhadap Dewan Jenderal. Soeharto hanya mengangguk-angguk saja mendengar cerita tersebut.

Dalam versi lain, Soeharto memberikan respons yang cukup berbeda terkait dengan kabar adanya Dewan Revolusi. Victor M Fic dalam bukunya yang berjudul Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Komparasi, mengungkapkan bahwa Soeharto menanggapi ucapan Latief dengan respons yang tidak diharapkan.

Latief yang kala itu mengajak Soeharto untuk ikut dalam operasi pembersihan terhadap Dewan Jenderal mendapat penolakan dari Soeharto. Soeharto mengungkapkan bahwa masalah terkait dengan Dewan Jenderal tersebut masih memerlukan penyidikan lebih lanjut.

Berbagai hal tersebut kemudian membuat Kolonel Latief menaruh curiga terhadap Soeharto. Ketika itu, Soeharto memegang kendali terhadap 60.000 anggota militer yang kemungkinan besar bisa menyerang balik G30S. Ajakan Latief untuk mengikutsertakan Soeharto dan 60.000 pasukannya tersebut untuk menghalangi upaya kup justru mendapat penolakan.

Comment here