Hukum

Kriminolog UGM: Ragam Aliran & Medsos Picu Penyerangan Ustaz

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Kriminolog Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Suprapto mengatakan fenomena penyerangan terhadap tokoh agama beberapa waktu terakhir ini tidak terlepas dari banyaknya paham atau aliran dalam Islam. Hal itu membuat empat kemungkinan, kata dia, yakni ustaz menyampaikan hal benar dan didukung orang lain, ustaz menyampaikan hal benar namun diserang, ustaz menyampaikan hal keliru tapi didukung, dan ustaz menyampaikan hal keliru kemudian diserang.

“Jadi meskipun sama-sama Islam tapi banyak sekali aliran ataupun kelompok-kelompok tertentu yang kadang kala tidak bisa menoleransi kelompok-kelompok yang lain,” kata Suprapto dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (22/9/2021).

Menurut Suprapto, seorang tokoh agama mesti memahami audiens dalam forum ceramahnya yang bisa terdiri dari berbagai aliran yang berbeda-beda. Dengan demikian, kata dia, ceramah tokoh agama harus bersifat umum dan tidak menyinggung kelompok lain ataupun SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).

Pemakaman korban penembakan ustaz A oleh orang tak dikenal di RT 02/05 Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. (Foto: CNN Indonesia)

Faktor selanjutnya adalah masyarakat yang saat ini semakin kritis serta keberadaan media sosial yang membuat ceramah di suatu forum tersebar ke kelompok lain yang bisa saja berseberangan.

“Makin banyak orang yang kritis jadi ketika menyampaikan sesuatu tidak tepat misalnya dianggap mengarah pada adu domba apalagi kalau ajaran agamanya tidak masuk akal itu, itu akan bisa menimbulkan friksi,” tuturnya.

Adapun mengenai pelaku penyerangan terhadap ustaz atau ulama yang dalam banyak kasus disebut gila, menurut Suprapto, harus melalui tes medis yang menyatakan bahwa orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan.

Menurut Suprapto, hari ini terdapat banyak sekali orang yang menyatakan dirinya sakit jiwa. Ia tidak menampik bahwa keadaan hari ini juga mengakibatkan orang-orang terkena gangguan kejiwaan. Meski demikian, dalam persoalan hukum, hal itu harus dibuktikan secara medis.

“Ketika ini bisa dibuktikan secara medis bahwa dia sakit jiwa ya memang perlakuannya akan berbeda dengan orang yang sebetulnya sehat tapi dia ngaku-ngaku sakit jiwa,” ujar Suprapto.

Menurut Suprapto, penjelasan atau klarifikasi dari pihak berwenang mengenai alasan seseorang menyerang sosok ustaz atau ulama menjadi sangat penting. Hal ini dilakukan agar isu tersebut tidak berkembang menjadi liar dan dianggap seperti fenomena pembunuhan dukun, guru ngaji, dan kiai pada masa Orde Baru.

Comment here