Jaga Budaya

Local Wisdom Atasi Problem Kontemporer

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Artis senior yang juga psikolog Niniek L Karim mengapresiasi dan mendukung gerakan yang dilakukan Gentra Lestari Budaya dalam melestarikan kebudayaan nasional Indonesia. Antara lain dengan menggelar lomba kreasi seni tradisional Nusantara. Hasil pemenang lomba tersebut diumumkan malam ini secara live di KAB TV.

Disebut lomba kreasi seni tradisional, karena menggabungkan seni kontemporer dengan seni tradisional, baik seni musik, seni tari, seni suara, maupun seni peran. Jadinya, seni kontemporer yang berbasis tradisi,

“Saya percaya dengan local wisdom (kearifan lokal). Local wisdom itu dapat mengatasi berbagai persoalan, termasuk problem-problem kontemporer seperti penyalahgunaan narkotika, terorisme, dan sebagainya,” ujar Niniek L Karim saat mendampingi panitia lomba berkunjung ke Studio KAB TV dan Kantor Redaksi KABNews.id di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (10/9/2021) sore   

Kedahsyatan local wisdom dalam mengatasi problem-problem kontemporer itulah yang menurut Niniek tercermin dari lomba kreasi seni yang digelar Gentra Lestari Budaya dalam rangka HUT ke-76 Kemerdekaan RI.

Niniek L Karim. (Foto: Arsip FFI)

Menurut Niniek, di tengah serbuan budaya asing, aktualisasi seni dan budaya tradisional sangat diperlukan, terutama bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar tradisinya, serta dari local wisdom (kearifan lokal) yang dimiliki daerah masing-masing di Nusantara. “Budaya asing itu juga ada bahkan banyak yang bagus. Nah, itu kita kombinasikan dengan budaya tradisional. Saya kira ini jalan keluar yang bagus, supaya generasi muda yang sudah terlanjur menyukai budaya asing juga mencintai budayanya sendiri, supaya tidak tercerabut dari jatidirinya,” jelas Niniek, peraih Piala Citra untuk film Ibunda dan Pacar Ketinggalan Kereta ini.

Ia lalu merujuk local wisdom asal Minangkabau, Sumatera Barat, yang tercermin dari peribahasa, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” “Di Jakarta, misalnya, di Pasar Tanah Abang ‘kan banyak orang Minang. Tapi ketika terjadi konflik yang melibatkan etnis-etnis tertentu, tak ada orang Minang yang terlibat. Karena orang Minang menjunjung tinggi aturan di mana mereka berada,” papar wanita asal Minang ini.

Local wisdom lainnya, lanjut Niniek, karena di Minangkabau kondisi alamnya sering terjadi bencana, baik gempa bumi maupun tsunami, maka dianjurkan bagi pemuda-pemuda Minang untuk merantau. “Minang itu tanahnya subur. Tapi mengapa anak-anak muda dianjurkan merantau, karena di sana sering terjadi bencana alam,” tutur manita yang di usianya yang tak muda lagi itu masih terlihat ayu dan anggun.

Sementara itu,  Ketua Umum Gentra Lestari Budaya Ratu Ratna Dewi Kartika menjelaskan tujuan dari lomba yang mereka gelar. “Kami ingin men-trigger generasi muda agar mereka berkreasi dalam seni kontemporer yang berbasis seni tradisional. Barangkali mereka selama ini merasa terkungkung oleh kesenian tradisional. Nah, ini way out (jalan keluar)-nya,” ungkap Ike, panggilan akrabnya.

Comment here