Sport

MA Batalkan Vonis Bebas 2 Polisi Terdakwa Tragedi Kanjuruhan, Ini Kata Pentolan Suporter

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – “Kami menilai yang dihukum hanya para petugas lapangan. Sementara pengambil keputusan tidak terkena sanksi. Ini masih sangat memprihatinkan bagi keadilan bangsa ini, di mana 135 nyawa tidak dianggap sebagai hal penting. Penanggung jawab di tingkat PSSI juga masih ada yang menempati posisi strategis di sana,” kata Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro kepada KABNews.id, Kamis (24/8/2023).

Ia diminta komentar soal putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan vonis bebas dua anggota polisi di kasus Tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, 1 Oktober 2022, dalam putusan kasasi yang diketuk pada Rabu (23/8/2023) malam. Dua terdakwa dari unsur kepolisian itu adalah mantan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi dan mantan Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto.

Ilustrasi suporter sepakbola. (Foto: Tempo.co)

Indro mengapresiasi putusan MA yang mengoreksi putusan pengadilan sebelumnya yang membebaskan dua terdakwa itu yang dinilai MA keliru. “MA memperhatikan kalau keputusan pengadilan yang menyatakan terdakwa bebas ini adalah keputusan keliru,” cetusnya.

Selanjutnya, Indro berharap MA membuka kembali kasus ini agar hukum berpihak pada korban, sehingga penanggung jawab utama, termasuk yang kini masih bercokol di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), bisa dihukum dengan hukuman yang setimpal sesuai dengan tanggung jawabnya. “Bukan hanya yang di lapangan yang dihukum,” tegasnya.

Diketahui, Tragedi Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah menewaskan ratusan penonton pertandingan sepakbola Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya yang digelar pada Sabtu (1/10/2022). Tragedi bermula setelah laga bertajuk derbi Jawa Timur itu.

Pertandingan antara Arema FC versus Persebaya berlangsung ketat. Sejumlah Aremania yang kecewa berhamburan masuk ke lapangan dengan meloncati pagar, membuat situasi tak terkendali.

Aparat keamanan terlihat kewalahan menghalau kericuhan tersebut karena jumlah mereka tidak sebanding. Situasi semakin tak terkendali ketika aparat keamanan menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton. Banyak korban berjatuhan karena panik dan terinjak-injak hingga sesak napas saat hendak menyelamatkan diri usai gas air mata ditembakkan oleh petugas keamanan. Sebanyak 135 orang dinyatakan meninggal dunia dalam tragedi itu, dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Comment here