Hukum

Mabes Polri Demosi Kombes Rachmat Widodo Imbas Kasus KDRT

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Polri menjatuhkan sanksi administratif atas pelanggaran etik yang dilakukan oleh Kombes Rachmad Widodo usai terseret dalam kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Rachmad dipindahkan ke suatu jabatan yang lebih rendah alias didemosi selama satu tahun.

“Sanksi bersifat administratif, dipindahtugaskan ke jabatan berbeda yang bersifat demosi selama satu tahun semenjak dimutasikan ke Yanma Polri,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono kepasa wartawan, dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (8/10/2021).

Ia menjelaskan bahwa sosok perwira menengah (pamen) itu diduga telah melakukan perbuatan tercela. Dalam hal ini, Polri merujuk pada pelanggaran Pasal 11 huruf c dan Pasal 11 huruf d Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Ilustrasi kekerasan. (Foto: KlikDokter)

Rachmat pun diharuskan meminta maaf secara lisan di hadapan sidang Komisi Kode Etik Profesi (KKEP) Polri usai dinyatakan bersalah pada 5 April 2021. “Kewajiban pelanggar untuk meminta maaf secara lisan di hadapan Sidang KKEP dan/atau secara tertulis kepada pimpinan Polri dan pihak yang dirugikan,” jelasnya.

Selain itu, kata Argo, Rachmad akan mendapat masa pengawasan selama satu bulan setelah menjalani sanksi etika dan administratif Polri.

Argo mengatakan, Rachmad sebelumnya merupakan Penyidik Utama Rowassidik Bareskrim Polri. Ia kemudian ditugaskan sebagai Pamen Yanma Polri selama pemeriksaan untuk kasusnya.

Belakangan diketahui, Rachmad sudah berstatus tersangka dalam kasus dugaan KDRT. Hanya saja sang anak, Aurellia Renatha juga menjadi tersangka usai dilaporkan oleh ayahnya itu.

Atas perkara itu, keduanya dijerat Pasal 351 dan 352 KUHP terkait dugaan penganiayaan. Rachmat yang sudah dilimpahkan ke jaksa kini tinggal menunggu proses persidangan.

Kasus itu sempat mencuat saat Aurellia menceritakan pengalamannya itu lewat sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya. Kala itu, ia merekam keributan orang tuanya tersebut. Dalam unggahannya, ia mengaku juga telah melakukan visum.

Dugaan KDRT dan penganiayaan itu terjadi pada 24 Juli. Kombes Rachmad disebut menyeret keponakannya. Namun, tak diketahui sebab Kombes Rachmad menyeret keponakannya.

Melihat tindakan ayahnya, Aurellia pun membela keponakannya agar tidak diseret dengan menggigit tangan ayahnya. Namun, Rachmat lantas menampar anaknya itu.

Comment here