Politik

Meeting 2 + 2 Indonesia-Australia, Apa Manfaatnya Bagi Indonesia?

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Pertemuan Indonesia dan Australia yang disebut dengan istilah Meeting 2 + 2 Indonesia-Australia berlangsung pada Kamis (9/9/2021) ini di Jakarta, Indonesia. Apa manfaat pertemuan tersebut bagi Indonesia?

Berikut kutipan KABNews.id dari wawancara host KAB TV Rudi S Kamri dengan mantan Wakil Rektor Universitas Pertahanan Mayor Jenderal TNI (Purn) Jan Pieter Ate MBus MA yang tayang Rabu (8/9/2021) malam.

Mayor Jenderal TNI (Purn) Jan Pieter Ate. (Foto: dokumen pribadi)

Anda sepertinya paham benar tentang Austalia. Berapa lama Anda di sana?

Tiga tahun ambil master, kemudian 1 tahun, selain itu kursus-kursus, lalu sebagai delegasi pertahanan Indonesia, hilir-mudik ke Australia.

Anda aktif di IKHAN, apa itu IKHAN?

IKHAN itu Ikatan Keluarga Besar Pertahanan Indonesia Australia.

Berarti dalam pertemuan besok Anda terlibat?

Saya tidak terlibat pada Meeting 2 + 2, itu pertemuan yang sangat high level. Tapi saya juga mendapat undangan dinner bersama Menteri Pertahanan Australia besok malam (malam ini).

Mungkin publik belum banyak yang tahu mengenai format Meeting 2 + 2, apa itu?

Meeting 2 + 2 Australia-Indonesia itu adalah pertemuan high level antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara (Indonesia-Australia). Nah 2+2 meeting ini biasanya back to back dengan pertemuan kedua Menteri. Menteri Pertahanan dengan Menteri Pertahanan, lalu Menteri Luar Negeri dengan Menteri Luar Negeri. Yang pertama one to one dulu, setelah itu mereka digabung menjadi 2 + 2.

Konsep Meeting 2 + 2 ini mulai ada sejak kapan?

Sejak 2015 dibentuk 2+2 Meeting Indonesia-Australia. Meeting 2 + 2 ini Indonesia hanya punya 2 dengan semua negara yang ada di dunia. Hanya dengan Australia dan Jepang. Jadi ini sangat strategis, sangat penting. Sedangkan di Australia sendiri Indonesia adalah negara di dalam 6 negara yang termasuk 2 + 2 meeting-nya dia.

Berarti Indonesa juga dianggap penting?

Betul sekali. Karena Australia melihat Indonesia itu sangat penting, hendaknya Indonesia memperhatikan meeting ini, apa-apa yang akan dibicarakan terutama untuk kepentingan Indonesia.

Jadi pelaksanaannya setiap tahun?

Benar sekali. Jadi platform ini di-setting sekali dalam setahun. Di negara yang satu, tahun berikutnya di negara lainnya. Jika tahun ini di Indonesia, maka tahun depan di Australia.

Menurut pengamatan Anda sebagai pengamat militer sekarang ini, dalam setiap pertemuan 2+2 ini apa saja yang dibahas? Isu-isu aktual apa yang dibahas?

Yang jelas masalah-masalah politik, ekonomi dan aspek-aspek yang menjadi domain Menteri Luar Negeri. Kedua, aspek-aspek pertahanan, militer dan keamanan yang menjadi domain fungsi Menteri Pertahanan. Nah, di dalam platform ini apa-apa yang menjadi direction (perintah) dari leader (pemimpin) kedua negara, Perdana Menteri Australia dan Presiden Indonesia menjadi acuan bagi empat menteri ini untuk membahas.

Terkait platform Meeting 2+2, Indonesia pasti diwakili Menlu Retno Marsudi dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan partner mereka di sana, menurut Anda isu aktual apa yang akan dibahas?

Memang, agenda meeting tidak di-disclose. Karena ada hal-hal yang belum perlu diketahui oleh public. Tetapi selesai meeting, empat menteri ini akan meng-address media. Itu menjadi pola yang disepakati di dalam platform 2 + 2. Tetapi justru kita lebih baik tidak tahu meeting-nya apa agendanya. Interview hari ini supaya bisa memberi kontribusi pada 2 + 2 meeting besok.

Jika kita belum tahu bocorannya, kira-kira dari pengamatan Anda yang mempelajari sejarah Indonesia terkait politik luar negeri, kira-kira isu-isu aktual apa yang ingin Anda sarankan untuk dibahas dan bagaimana prediksi Anda?

Indonesia adalah negara kunci di ASEAN. Demikian pula Australia, sesuai klaimnya Australia anchor di wilayah selatan. Kedua negara ini sesungguhnya adalah leader di kawasan ini. Kalau kita bicara lebih luas lagi, abad 21 adalah era Indo-Pasifik. Nah, Australia punya kepentingan kesejahteraan dan pembangunan itu terkait langsung pada security dan wilayah Indonesia menjadi bagian dari supply line (jalur supply) ekonomi dan pertahanan Australia. Karena itu sangat tepat Australia membangun hubungan komperhensif, strategis dan partnership dengan Indonesia. Pertanyaannya lalu, Indonesia bagaimana melihat Australia? Akhir-akhir ini kawasan di mana Indonesia berada, ada di dalam situasi yang sangat dinamis. Kita lihat beberapa waktu terakhir bagaimana antara Amerika dan China tentang Laut China Selatan, dan ketika bicara Laut China selatan intersection dengan Laut Natuna Utara dan itu wilayah Indonesia, itu poin pertama. Rencana latihan antara grup mereka, di mana Australia ada di situ, telah dikecam habis-habisan oleh China. Yang kedua, ini semua bangsa di dunia itu closely watching, jadi melihat terus menerus perkembangan di Afghanistan, ketika Taliban mengambil alih kekuasaan Istanbul, Lalu Amerika dan koalisinya itu pull out dari sana. Ini bukan persoalan sederhana. Indikasi dari perkembangan di Afghanistan itu sedang diamati semua negara di dunia. Kaitan dengan ISIS, kaitan dengan ekstremis, radikalisme dan yang paling soft adalah influence dari refugee (pengungsi) dari sana.

Refugee ini sangat krusial. Karena kalau mereka ke Australia, otomatis melewati Indonesia. Ini artinya mereka memang ada kepentingan untuk menahan supaya refugee itu tidak ada atau bagaimana?

Sebelum kasus Afghanistan, itu kasus dari Timur Tengah waktu itu ‘kan arahnya ke Australia. Mulai Perdana Menteri John Howard sampai ke perdana menteri berikutnya, Indonesia itu sangat penting bagi Australia dalam aspek pengungsi, belum aspek-aspek lain, non-traditional security, isu-isu yang lain, Nah, oleh karena itu Indonesia harus memahami bahwa Australia akan sangat memerlukan Indonesia. Pertanyaan kita, kita perlu Australia enggak? Karena dalam beberapa catatan kita lihat beberapa tahun terakhir, setidaknya lima tahun terakhir, bantuan Australia terhadap Asia Tenggara termasuk Indonesia tentu berkurang sekitar 30%. Alasannya? Ya ekonomi dia lagi menurun atau ada alasan lain dan juga perlu cek ke sana. Nah, oleh karena itu kalau seperti ini kondisinya para ahli strategi dan perumus kebijakan untuk hubungan bilateral dengan Australia harus betul-betul mendalami dan memahami sehingga treat off dengan Australia? Jangan yang receh-receh. Kayak Pendidikan, itu sudah pasti. Kalau perlu minta latihan-latihan militer untuk meningkatkan kapabilitas kita akan jauh lebih baik. Dalam lima tahun ke depan Australia meningkatkan anggaran pertahanan sekitar USD 270 miliar. Dalam lima tahun saja dari USD 32,4 miliiar menjadi sekitar USD 52,7 miliar. Peningkatan ini tentu harus ada implikasinya.

Kembali ke masalah 2 + 2, kira-kira selain masalah refugee, apa kekhawatiran baik dari Indonesia maupun Australia dengan dinamika politik yang ada di Afghanistan sekarang?

Pertama, ISIS. Ketika Taliban berkuasa, apakah dia konfrontatif dengan ISIS atau kerja sama? Ini harus diteliti betul-betul. Otomatis dalam observasi dan analisis saya ketika Amerika ada di sana, praktis ISIS tidak punya ruang. Ketika Taliban berkuasa dan tidak ada lagi kekuataan lain, ISIS akan lebih berkuasa. Maka dari itu ketika ISIS berkuasa, itu influence-nya akan lebih ke Kawasan, dan yang punya koneksi-koneksi tentu itu menjadi channel-channel untuk dia masuk, termasuk Indonesia. Dulu para teroris Indonesia yang sudah ditangkap hampir semua alumni Afghanistan, waktu konflik Uni Soviet dengan Afghanistan. Begitu tidak ada perang, mereka tidak ada mainan, balik ke kampung masing-masing lalu menjadi jenggo-jenggo bikin teror. Jadi saya harap pertemuan 2 + 2 betul-betul membahas perkembangan di Afghanistan dan kaitannya dengan Kawasan, khususnya Indonesia dan Asia Tenggara. Itu kepentingan Indonesia.

Kemarin saya menulis artikel tentang bahaya Talibanisme. Itu merupakan potensi yang harus diwaspadai, karena bisa menjadi inspirasi sel-sel tidur yang ada di negeri ini. Apakah ini kira-kira diwaspadai oleh pemerintah dua negara ini?

Khusus Indonesia, itu harus benar-benar dibedah oleh ahli-ahli strategi di Kementerian Pertahanan, TNI, Polri dan intelijen lain. Bagi Australia, karena saya pernah sekolah di sana, mereka itu betul-betul membedah dan mereka siap. Untuk proteksi mereka. Lalu kita bagaimana? Nah, kalau isu ini menjadi kepentingan Australia juga sudah menjadi kepentingan Indonesia, maka hasil dari 2 + 2 itu saya pribadi penasaran, mau tahu apa hasilnya.

Mengenai Laut China Selatan. Seberapa besar kepentingan Australia dan Indonesia untuk memandang konflik Indonesia sekarang? Katanya sedang ada latihan perang besar-besaran Amerika bersama koalisinya, dan China sudah protes secara terbuka. Saya mau konfirmasi bahwa China sudah mendekati negara-negara yang mengklaim Laut China Selatan dan Indonesia bukan negara yang mengklaim. Anda melihat ini seperti apa?

Dari dulu Indonesia selalu mengatakan bukan pengklaim. Negara-negara lain agak kecewa, kok Indonesia dibilang bukan pengklaim, sementara wilayah Indonesia sebut saja wilayah maritim Indonesia di utara Pulau Natuna, itu kalau ditarik atau kita hubungkan dengan nine dies line dan Laut Natuna Utara, harusnya kita agak hati-hati untuk secara vulgar mengatakan kita bukan pengklaim. Karena beberapa waktu lalu bahkan dari pihak China sudah melarang aktivitas fishery (nelayan) dan pengelolaan sumber daya alam di dasar laut sampai wilayah kontinental. Secara UNCLOS 82 (United Nation Convention of Law of the Sea 1982), secara resmi itu di bawah kita. Tapi China sudah melarang, katanya itu wilayah mereka.

Apakah karena Indonesia tidak mau menyebut dirinya pengklaim? Apa karena hubungan ekonomi China dengan Indonesia sekarang mulai intensitasnya meningkat? Ada pengaruh enggak?

Kalau masalah kedaulatan harus bisa ditempatkan di tempat terpisah dari hubungan-hubungan yang value-nya itu di bawah. Karena itu semangat Indonesia itu, NKRI harga mati, tunjukkan bahwa betul NKRI harga mati.

Kalau begitu, apa yang ingin Anda sarankan atau harapan dari platform 2 + 2 terkait konflik Laut China Selatan?

Saya ingin Ibu Retno yang punya domain, tapi Menteri Pertahanan juga punya kepentingan dan punya peran yang sangat strategis pada keamanan Laut China Selatan. Indonesia harus bisa menyampaikan posisi Indonesia yang jelas, tidak perlu malu-malu, sebagai pesan kepada China karena hasil nanti pun tidak harus ditutupi, supaya publik tahu. Publik pertama itu bangsa Indonesia, publik kedua masyarakat regional dan yang ketiga pesan untuk China harus jelas dan tegas. Kita negara berdaulat, sedangkan hubungan investasi itu hubungan yang levelnya di bawah. Saya berharap 2 + 2 menghasilkan hasil-hasil yang terkait dengan kepentingan fundamental dari Indonesia.

Apakah platform 2 + 2 terkait juga dengan isu Papua?

Ya, kalau bisa Indonesia harus terus menyampaikan itu pada Australia, walaupun saya tahu Australia sekian kali mengatakan itu mengakui wilayah Papua adalah bagian dari wilayah integral Indonesia, tetapi dalam setiap pertemuan level tinggi seperti besok itu harus disampaikan karena hasil dari level itu menjadi referensi bagi semua.

Beberapa kali aktivis yang menyuarakan anti-Papua difasilitasi Australia. Apakah perlu sikap tegas Indoneai untuk menekan Australia?

saya berharap itu betul-betul dibicarakan secara terbuka, tidak usah di tutup-tutupi karena menjaga perasaan. Karena hubungan Indonesia dan Australia sudah masuk ke dalam hubungan bilateral yang tertinggi, dan itu didasarkan pada pentingnya kepentingan Indonesia pada Australia, demikian pula Indonesia melihat kepentingan Australia dari Indonesia. Maka dugaan bahwa difasilitasi Australia itu bisa disampaikan secara terbuka, lebih rileks dan jujur. Sehingga kalau memang pemerintah Australia tidak terlibat di dalamnya, bisa menjelaskan dugaan itu bagaimana menurut Australia. Australia dan Indonesia akan menjadi tetangga seumur hidup.

Terkait platform 2 + 2 tadi Anda menyebut di mata Indonesia, Australia merupakan negara anchor. Artinya apa?

Begini, Amerika tidak mungkin menguasai seluruh dunia. Maka lalu ada merger power-merger power yang juga punya kepentingan yang merasa harus mandiri, yang harus terlepas dari bayang-bayang Amerika. Nah, Australia salah satunya. Jepang kedua. Oleh karena itu di wilyah selatan tidak ada lagi negara. Maka kepentingan di wilayah selatan yang disebut Hindia ini adalah kepentingan strategis Australia, dan Australia melihat dia punya kapabilitas, dia punya kepentingan dengan keamanan dan kestabilan di wilayahnya. Di situ tanggung jawab dia. Walaupun Amerika ada, tetapi tidak selalu akan ada terus, maka dia sedang membangun dirinya untuk menjadi anchor di wilayah selatan. Indonesia mestinya menjadi anchor di tengah-tengah Indo-Pasifik ini.

Hubungan Australia-Indonesia saat ini seperti apa?

Hubungan sedang baik-baiknya. Jadi, pernah ada fase di mana hubungan kita sangat rendah, yaitu ketika masalah Timor Timur, dan kedua ketika ada kebocoran informasi pada masa Presiden SBY. Tetapi kedua negara selalu punya semangat didasarkan pada tetangga abadi. Maka mereka punya cara untuk membangun kembali seperti hari ini, sangat baik. Karena sangat baik itulah Indonesia harus betul-betul memainkan peran bagaimana hubungan ini dikelola, jangan hanya retorika. Karena beberapa waktu lalu Perdana Menteri Scott Horisson mengatakan Asia Tenggara itu satu komunitas dengan Australia. Pada hubungan bilateral itu Indonesia adalah tetangga yang paling utama di kawasan ini. Itu kan retorik, operasionalnya bagaimana? Itu yang teman-teman dari delegasi Indonesia 2 + 2 maupun platform lain, harus sungguh-sungguh pandai mengelola hubungan yang sangat tinggi saat ini.

Comment here