Opini

Mempertaruhkan Kedunguan Rocky Gerung

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id

Dungu! Rocky Gerung identik dengan ungkapan sarkastis itu. Ketika dia bicara, hampir dapat dipastikan kata dungu selalu meluncur dari mulutnya.

Rocky! Kata dalam bahasa Inggris ini berasal dari “rock” yang berarti batu. Rocky berarti berbatu.

Gerung! Kata ini bermakna raung, atau menangis keras.

Maka ungkapan populer pujangga Inggris, William Shakespeare (1564-1616), “What’s a name” (apalah arti sebuah nama) pun tidak berlaku bagi Rocky Gerung. Nama dia sarat makna. Dan maknanya ternyata klop dengan karakter dan perangainya. Bujangan yang keras kepala itu suka meraung, mengkritik siapa saja, terutama pemerintah.

Kali ini Gerung tengah meraung ke Sentul City. Pasalnya, lahan rumah tempat dia tinggal di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hendak diambil alih perusahaan pengembang itu. Gerung diusir. Rumahnya harus dirobohkan. Jika tidak, ia terancam humuman 7 tahun penjara. Sentul mengklaim sebagai pemilik sah lahan yang “ditanami” rumah Gerung itu. Sebaliknya, Gerung juga mengklaimnya sebagai pemilik sah, karena ia telah membelinya sesuai prosedur. Gerung berencana menggugat Sentul Rp 1 triliun.

Di sinilah kedunguan Gerung dipertaruhkan. Apakah ia benar-benar dungu, ataukah pintar seperti yang selalu ia pertontonkan selama ini.

Dibilang dungu, karena ia membeli lahan yang berstatus garapan, bukan hak milik, dari seseorang yang kemudian menjadi narapidana kasus mafia tanah pula.

Dibilang pintar, karena ternyata ia bisa membeli lahan tersebut yang diklaim sesuai prosedur dan kemudian mendirikan rumah di atasnya. Rumah itu bahkan pernah dikunjungi sejumlah tokoh seperti duo “Upin-Ipin”: Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Karena nilai “kesejarahan” itulah maka Gerung akan mengajukan gugatan imateriil senilai Rp 1 triliun.

Lalu, Rocky Gerung sebenarnya dungu atau pintar? Ulasan berikut ini, yang dihimpun dari berbagai sumber, barangkali bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Sentul melayangkan somasi atau surat peringatan ke Gerung untuk segera mengosongkan dan membongkar rumahnya sebanyak tiga kali, yakni pada 28 Juli 2021, 6 Agustus 2021, dan terakhir 12 Agustus 2021. Dalam somasinya, Sentul memperingatkan jika Gerung memasuki wilayah itu, dia akan ditindak tegas atas dugaan tindak pidana Pasal 167, 170 dan 385 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara. Sentul juga memberikan tenggat waktu 7 x 24 jam kepada Gerung.

Dasar somasi, Sentul mengklaim memegang hak atas bidang tanah bersertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor B 2412 dan B 2411 Bojong Koneng, Babakan Madang, Bogor. Sentul mendapatkan lahan tanah itu dengan cara pelepasan Hak Guna Usaha (HGU) milik PTPN XI Pasir Maung seluas 1.100 hektare di desa tersebut.

Tahun 1994, HGU beralih menjadi HGB Nomor 2 Bojong Koneng yang berlaku hingga 2013. Tahun 2012, pemecahan dan perpanjangan HGB pun dilakukan, salah satunya merupakan HGB Nomor 2411 yang diklaim Gerung.

Sentul pun mengklaim sebaga pemilik sah atas bidang tanah yang diklaim Gerung, berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960.

Gerung pun dituduh mendapatkan tanah oper-alih garapan dari pelaku tindak pidana kasus jual-beli tanah perseroan dan pemalsuan surat, Andi Junaedi. Andi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tersebut dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Cibinong Nomor 310/Pid.B/2020/PN Cbi Tahun 2020.

Di pihak lain, Gerung mengaku sudah tinggal di lokasi tersebut sejak 2009 dan mendapatkannya secara sah. Sejak Gerung memiliki tanah tersebut hingga sebelum Sentul melayangkan somasi, tidak pernah ada klaim dari pihak mana pun yang mengakui tanah tersebut adalah miliknya.

Gerung juga mengklaim punya surat keterangan tidak bersengketa yang ditandatangani kepala desa. Dalam surat itu, pemilik lama, Andi Junaedi menyatakan di bawah sumpah bahwa dia mempunyai garapan yang terletak di Blok 026 Kampung Gunung Batu RT 02 RW 11 Desa Bojong Koneng.

Merasa sebagai pemilik sah, Gerung pun berencana menggugat balik Sentul City dengan nilai gugatan imateriil Rp 1 triliun.

Siapa yang benar dan siapa yang salah? Akankah Rocky Gerung terusir dari rumahnya? Ataukah Sentul City yang justru harus membayar gugatan Rp 1 triliun jika Gerung menang di pengadilan?

Hari-hari ke depan adalah pertarungan menarik antara Gerung dan Sentul. Sentul adalah perusahaan besar. Gerung pun orang kuat seperti namanya. Apalagi Gerung sudah minta bantuan Presiden Jokowi.

Kalau bukan orang kuat, tentu Gerung sudah didemo berjilid-jilid ketika dia menyebut bahwa kitab suci adalah fiksi.

Tapi apa pun hasilnya, satu hal sudah pasti: kedunguan Gerung sedang dipertaruhkan!

Comment here