Jaga Budaya

Menag Yaqut: Agama Tidak Boleh Dipaksakan

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – “Jika Tuhan menginginkan agama satu, maka mudah bagi Tuhan menjadikan semua agama satu. Tuhan menginginkan kita berbeda agar kita bisa bersilaturahim, berhubungan, mengoreksi satu sama lain, saling berpikir kritis satu sama lain,” kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam acara Peluncuran Aksi Moderasi Beragama yang disiarkan di kanal YouTube Pendis Channel, dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (23/9/2021).

Menag Yaqut menegaskan bahwa agama tak boleh dipaksakan kepada yang lain. Hal itu tak lepas dari esensi utama bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan agama secara beragam di muka bumi ini. “Karena itu agama kemudian tidak boleh dipaksakan,” tegasnya.

Yaqut menyatakan ajaran Islam juga telah memerintahkan umatnya agar tak memaksakan agama kepada yang lain. Tak hanya itu, ia juga menyinggung ayat ke-6 surat Al Kafirun telah memerintahkan untuk tak memaksa orang lain dalam meyakini kebenaran suatu agama.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: TribunNews)

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Tak ada paksakan dan tidak ada intimidasi dalam meyakini kebenaran agama,” kata dia.

Yaqut menilai keberagaman telah menjadikan Indonesia tegak, kuat dan jaya sampai hari ini. Ia menilai Indonesia tak akan bisa berdiri bila tak ada agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan agama lokal lainnya.

Keberagaman, kata dia, menjadi sesuatu yang indah di Indonesia saat ini. Karena itu, ia tak ingin anak-cucu masyarakat Indonesia ke depannya justru diwarisi oleh kehancuran, bukan kejayaan dan keindahan. “Agar warisan yang indah ini juga kita bisa warisan ke anak cucu kita dengan keindahan yang sama,” kata dia.

Selain itu, Yaqut juga menegaskan orang Islam belum memahami ajaran agamanya dengan baik apabila masih mengaku paling benar di antara yang lain. Sebab, dalam Islam telah ditekankan bahwa agama adalah menyempurnakan akhlak, bukan membuat akhlak baru.

“Saya yakini ajaran agama saya yang benar. Tapi itu tak berarti agama yang tak sama dengan saya yang diyakini itu salah. Kita punya keyakinan sendiri-sendiri dan kita punya keyakinan masing-masing. Kita pegang keyakinan kita tanpa harus mempersalahkan yang lain,” kata dia.

Comment here