Opini

Misteri Ganjar di Tanah Papua

Oleh: Rudi S Kamri, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Entah apa yang berkecamuk di benak warga Papua, sehingga begitu Ganjar Pranowo menginjakkan kaki di tanah mereka, langsung disambut dengan hangat dan antusias layaknya seorang saudara. 
Mereka langsung mengajak Gubernur Jawa Tengah itu berfoto ria. Mereka juga menyambut Ganjar dengan tarian tradisional mereka. Bahkan puluhan noken, tas khas mereka, diterima Ganjar sebagai hadiah.
Ganjar tiba di Bandara Sentani, Jayapura, Papua, Jumat 1 Oktober 2021. Bersama sang istri, Ganjar menghadiri acara pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 Papua oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu 2 Oktober 2021.
Kalau memang karena Ganjar seorang pejabat, mengapa Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Ketua DPR RI Puan Maharani tidak mendapatkan sambutan spontan yang sama? Inilah misteri Ganjar di tanah Papua.
Entah apakah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang juga seorang kepala daerah dari Jawa akan beroleh sambutan yang sama bila datang ke Papua?
Misteri lainnya, sebenarnya Ganjar sedang mendapat serangan bernuansa rasisme dari tokoh Papua, Natalius Pigai. Apakah para warga Papua itu tidak tahu serangan itu sehingga dengan spontan dan antusias mereka menyambut Ganjar?
Di era media sosial ini kecil kemungkinannya mereka tidak tahu. Sebab Ganjar populer di mata mereka pun karena media sosial, di samping pemberitaan di media massa mengingat Ganjar seorang kepala daerah.
Misteri berikutnya adalah para mahasiswa asal Papua di Jateng dan DI Yogyakarta bahkan membela Ganjar di satu pihak, dan di pihak lain justru menyerang balik Natalius Pigai yang mereka sebut sedang “caper” (mencari perhatian).
Aspirasi
Mengapa Ganjar mendapat sambutan hangat dan antusias dari rakyat Papua? Sejumlah catatan perlu dipaparkan.
Pertama, karena Ganjar populer di mata mereka. Ganjar adalah pejabat milenial yang piawai bermedia sosial di berbagai platform: Facebook, WhatsApp, Instragram, dan sebagainya.
Kedua, bukan hanya popularitas, tingkat keterpilihan atau elektabilitas Ganjar sebagai kandidat calon presiden 2024 juga tinggi. Di berbagai survei, nama Ganjar selalu bertengger di tiga besar capres potensial selain Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Bahkan di kalangan milenial Ganjar-lah jawaranya.
Pertanyaannya, mengapa Prabowo tidak beroleh sambutan yang sama di tanah Papua? Sekali lagi, inilah misteri yang meliputi Ganjar.
Ketiga, Ganjar dianggap sebagai “next Jokowi” oleh rakyat Papua. Ganjar yang seorang pluralis dianggap sebagai penerus kepemimpinan Jokowi ke depan. Apalagi Jokowi banyak membangun Papua. Berbagai infrastruktur jalan dan infrastruktur PON, termasuk Stadion Lukas Enembe yang menjadi lokasi pembukaan PON XX/2021 Papua, adalah bukti kecintaan Jokowi terhadap rakyat Papua. Sehingga mereka pun mengaspirasikan Ganjar menjadi Presiden RI berikutnya setelah Jokowi. Ganjarlah yang mereka anggap bisa meneruskan kepemimpinan model Jokowi yang pluralis. Dalam Pilpres 2014 dan 2019, Jokowi menang di Papua.
Keempat, dengan mengaspirasikan Ganjar sebagai Presiden RI berikutnya, rakyat Papua ingin kebinekaan atau pluralitas Indinesia benar-benar dijaga. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dipertahankan. Jangan sampai NKRI jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, apalagi mereka yang anti-pluralisme.
Kelima, apa yang dilakulan Natalius Pigai dengan menyerang Ganjar dan Jokowi dengan isu rasisme merupakan ulah individu yang bersangkutan, bukan aspirasi rakyat Papua, apalagi mewakili perasaan orang Papua.
Ada banyak misteri di Papua. Kali ini terkait Ganjar.

Comment here