Hukum

MKD DPR: Polisi Harus Izin Jokowi untuk Panggil Arteria Dahlan

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI Habiburokhman mengatakan bahwa pemanggilan anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan oleh kepolisian buntut insiden cekcok dengan istri Jenderal TNI harus seizin Presiden Joko Widodo.
Habib menerangkan prosedur pemanggilan terhadap anggota dewan itu telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3).

“Jelas-jelas di UU MD3 yang harus jadi pemahaman teman-teman kepolisian enggak bisa memanggil anggota DPR begitu saja, harus izin ke Presiden,” kata Habib kepada wartawan di kompleks Parlemen, Rabu (24/11/2021), dikutip dari CNNIndonesia.com.

Oleh karena itu, politikus Partai Gerindra itu menyebut pernyataan kepolisian yang berencana memanggil Arteria telah keliru. Kecuali, kata dia, Arteria datang hanya untuk menemani ibunya yang terlibat cekcok dengan perempuan mengaku orang dekat Jenderal TNI. “Tapi kalau anggota DPR dipanggil tanpa lewat Presiden, itu namanya melanggar undang-undang,” kata dia.

Habib menerangkan aturan pemanggilan anggota dewan oleh aparat kepolisian lebih jelas diatur dalam Pasal 245 UU MD3. Kecuali, katanya, untuk kasus tindak pidana khusus seperti korupsi atau narkoba.

Gedung DPR. (Foto: BeritaSatu)

Dengan demikian, katanya, seandainya Arteria datang untuk memenuhi panggilan, hal itu tak menunjukkan politikus PDIP itu setara di hadapan hukum. Justru sebaliknya, Arteria melanggar ketentuan undang-undang. “Saya katakan ke Pak Arteria, kalau Anda hadir berarti Anda merusak sistem. Ini bukan soal Arteria-nya, ini soal bagaimana kita mematuhi undang undang,” kata Habib.

Habib pun menawarkan agar persoalan tersebut diselesaikan melalui MKD. Menurut dia, MKD bisa memanggil kedua belah pihak, atau aparat kepolisian agar pemeriksaan bisa dilakukan melalui MKD. “Kami menawarkan kalau memang diminta keterangan, Pak Arteria kita periksa di sini, kita berikan keterangan, polisinya kita panggil, memberikan keterangannya di MKD,” katanya.

Polres Bandara Soekarno-Hatta telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Arteria Dahlan pada Rabu (24/11/2021) hari ini, buntut cekcok dengan perempuan yang mengaku sebagai kerabat jenderal. Insiden cekcok itu terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Ahad (21/11/2021).

Insiden dipicu karena Arteria dan rombongan, termasuk ibunya dianggap menghalangi jalan si perempuan yang hendak turun dari pesawat. Dalam video yang beredar, si perempuan sempat memaki dan menunjuk-nunjuk ibu Arteria.

Istri Jenderal Dipanggil

Sementara itu, Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta Kombes Pol Edwin Hariadja mengungkapkan pihaknya akan memanggil perempuan yang cekcok dengan Arteria Dahlan, Anggiat Pasaribu alias Rindu, Kamis (25/11/2021). “Jadi tetap, rencana besok Saudari Anggita Pasaribu, mohon maaf koreksi, besok akan kita minta klarifikasinya,” ujar Edwin kepada wartawan, Rabu (24/11/2021) di Kantor Polresta Soetta.

Edwin menyebut saat ini polisi masih menunggu konfirmasi kehadiran perempuan yang diduga istri eks-Komandan Distrik Militer (Dandim) Jakarta Pusat ini. Ia juga mengungkapkan kepolisian masih mengedepankan proses pemeriksaan dan klarifikasi dari kedua belah pihak. Hingga saat ini, belum ada rencana mediasi yang disampaikan. “Nanti untuk sementara kita periksa yang bersangkutan dulu. Pelapor dulu nanti yang kita minta keterangan, klarifikasi,” tambah Edwin.

Berdasar jadwal pemanggilan, Arteria Dahlan seharusnya menjalani pemeriksaan di Polres Soetta hari ini. Namun, Edwin mengungkapkan Arteria akan menunda pemeriksaan hingga minggu depan karena jadwal yang padat.

Kasus ini berawal dari cekcok antara anggota DPR RI Arteria Dahlan, ibunya, dengan seorang perempuan muda di Bandara Soetta. Kejadian ini diunggah anggota DPR RI Ahmad Sahroni lewat akun Instagram pribadinya. Perempuan itu mengaku sebagai keluarga dari Jenderal Bintang Tiga.

Arteria mengonfirmasi kejadian yang menimpanya dan meminta Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman bertindak tegas. Menurutnya, peristiwa berawal dari dalam pesawat saat pesawat yang mengantarkan dirinya dan keluarga serta perempuan tersebut dari Bali mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

Ia berkata, dirinya yang menaiki pesawat bersama ibunya dan stafnya dianggap menghalangi jalan saat perempuan tersebut hendak turun dari dalam pesawat. Padahal, katanya, pesawat baru mendarat dan pintu pesawat belum terbuka Ketika itu.

Comment here