Opini

Nadiem Makarim, yang Muda yang Berulah

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id

Hanya ada satu kata: memalukan! Maka merataplah kaum muda Indonesia yang punya wakil milenial di Kabinet Indonesia Maju: Nadiem Makarim.
Yang muda yang berulah.Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi berusia muda itu disebut hendak merenovasi ruang kerjanya dengan anggaran cukup fantastis: Rp 6,5 miliar!
Ulah Nadiem ini sungguh menampar nurani. Dia tidak punya sense of krisis. Di tengah krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, di tengah banyaknya gedung sekolah rusak, SD ratusan ribu dan SMP puluhan ribu, tega-taganya Nadiem merenovasi ruang kerjanya dengan anggaran fantastis.
Ini adalah ulah Nadiem yang kesekian kalinya. Sebelumnya, sederet ulah Nadiem juga memantik kontroversi, mulai dari mata pelajaran Pancasila dan Bahasa Indonesia yang hilang dari Standar Nasional Pendidikan (SNP), hingga hilangnya nama KH Hasyim Asy’ari dari Kamus Sejarah Indonesia jilid I.
Lalu, draf visi pendidikan 2020-2035 dalam Peta Jalan Pendidikan RI yang tidak memasukkan frasa agama di dalamnya.
Pun, pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diskriminatif, karena sekolah-sekolah yang jumlah siswanya kurang dari 60 orang tidak mendapatkan BOS, sebagaimana disebut Pasal 3 ayat (2) huruf d Peraturan Menteri Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOS Reguler.
Di bawah Nadiem, hal ihwal pendidikan di Indonesia kian carut-marut. Masyarakat dibuat pusing tujuh keliling. Termasuk dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDK) yang menafikan sistem kompetisi di satu pihak dan mendewakan usia siswa di lain pihak. Entah bodoh atau pintar, kalau usianya sudah lebih, siswa dapat masuk sekolah negeri. Nadiem menjadi masalah, bukan solusi.
Pihak Kemendikbud Ristek berdalih, anggaran renovasi Rp 6,5 miliar itu untuk seluruh ruangan di Blok B, bukan hanya ruangan bosnya BOS. Renovasi disebut sebagai konsekuensi digabungkannya Kemendikbud dengan Kementerian Ristek. Diperlukan ruangan-ruangan baru untuk menampung pejabat-pejabat baru hasil penggabungan.
Kalau cara berpikirnya normatif, konvensional dan linear seperti itu, lalu apa bedanya Nadiem Makarim dengan menteri-menteri lainnya yang sudah berumur? Buat apa anak muda yang katanya inovatif ini dipilih jadi menteri kalau berpikirnya tidak out of the box?
Di Kemendikbud Ristek mungkin banyak bercokol birokrat-birokrat gaek yang mentalnya jelek. Mikirnya cuma proyek. Tapi bukankah Nadiem sebagai panglima tertinggi bisa menertibkan komandan-komandannya?
Mundur
Lalu, apakah pendiri platform Gojek itu akan mundur, mengikuti jejak kedua koleganya dari kursi Staf Khusus (Stafsus) Presiden, yakni Belva Devara (CEO Ruangguru), dan Andi Taufan Garuda Putra (CEO Amartha), 17 April 2020?
Mundurnya Belva tak lepas dari pemberitaan seputar Kartu-Prakerja, di mana Ruangguru yang ia dirikan menjadi salah satu platform yang dipilih oleh pemerintah untuk melaksanakan program yang ditujukan kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Ibaratnya, jeruk makan jeruk.
Andi Taufan Garuda Putra membuat heboh karena surat kepada camat. Andi pun mengklarifikasi surat yang dikirimkan kepada para camat di seluruh wilayah Indonesia itu terkait dukungan kepada relawan PT Amartha Mikro menanggulangi Covid-19.
Pendek kata, keduanya punya conflict of interest (konflik kepentingan), sehingga sebelum dimundurkan, mereka mundur dengan sendirinya.
Apakah Nadiem mau mundur? Kalau tidak mau, ya dimundurkan. Sekalian reshuffle kabinet untuk mengakomodasi Partai Amanat Nasional (PAN), sekutu baru Presiden Jokowi.
Nadiem Makarim, riwayatmu kini. Engkau bukan solusi, melainkan masalah. Engkau bukan harapan, melainkan penyesalan. Terutama bagi kaum milenial.

Comment here