Opini

Nestapa Perolehan Suara Mahfud MD di Madura

Oleh: Ach Fawaidi

Jakarta, KABNews.id – Mahfud MD adalah putra asli Madura. Namanya selalu menjadi buah bibir representasi orang Madura di kancah politik Indonesia. Sejak diumumkan sebagai calon wakil presiden mendampingi Ganjar Pranowo, nama Mahfud menjadi primadona di hampir setiap warung kopi hingga pos ronda di setiap desa di Madura.

Adanya putra Madura maju dalam kontestasi pilpres tentu sebuah sejarah. Namun, politik tak melulu soal kesamaan ras dan tempat kelahiran. Konstelasi politik dan simpati elektoral bisa berubah dalam sekejap. Hasilnya, berdasarkan real count sementara KPU per Senin (19/2) pukul 15.00 WIB, perolehan suara Ganjar-Mahfud di masing-masing kabupaten yang ada di Madura menjadi yang paling rendah.

Calon wakil presiden Pilpres 2024 Mahfud MD. (detikcom)

Di Kabupaten Bangkalan, Prabowo-Gibran meraup 53.752 suara. Sedangkan Anies-Muhaimin memperoleh 27.002 suara. Ganjar-Mahfud menyusul di urutan ketiga dengan perolehan 15.173 suara. Adapun progres penghitungan yang telah masuk di Bangkalan mencapai 18.66 persen.

Lalu di Sumenep, Prabowo-Gibran juga unggul dengan 138.724 suara. Di posisi kedua Anies-Muhaimin meraup 126.299 suara. Dan, Ganjar-Mahfud hanya dapat 35.499 suara. Progres penghitungan yang masuk di Sumenep mencapai 43.83 persen.

Di Sampang Prabowo-Gibran meraup 78.913 suara, sedangkan Anies-Muhaimin unggul dengan perolehan 81.196 suara, dan Ganjar-Mahfud 13.014 suara. Progres suara yang masuk di Sampang mencapai 28.28 persen.

Di Pamekasan Anies-Muhaimin unggul dengan raihan 147.530 suara, disusul Prabowo-Gibran 121.109 suara, dan Ganjar-Mahfud 17.982. Progres suara yang masuk mencapai 55.15 persen.

Lantas, apa yang menyebabkan perolehan suara Mahfud MD di Madura rendah berdasarkan hasil real count sementara KPU?

Bukan Basis PDIP

Sepanjang sejarah pemilu, jejak elektoral di wilayah Madura cenderung bukan menjadi basis PDIP. Dengan menjadi pendamping Ganjar sebagai cawapres yang diusung PDIP, tentu tidak mudah mendekati pemilih di Madura dengan simbol-simbol partai bermoncong putih tersebut.

Pengalaman Pemilu 2019, pasangan Jokowi-Amin yang juga diusung PDIP dengan koalisi partai politik lainnya gagal memenangi Madura. Saat itu, Jokowi-Amin tercatat hanya menang di Bangkalan, sedangkan di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep pasangan tersebut kalah.

Pengalaman pemilihan Gubernur Jawa Timur juga membuktikan pasangan calon yang diusung PDIP cenderung sulit memenangi wilayah Madura. Pada Pilkada 2018, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak menang di Madura atas lawannya, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno yang diusung oleh PDIP.

Pemilih Madura yang secara elektoral lebih dekat terhadap partai Islam membuat suara Mahfud MD tidak bisa dengan mudah mendapat insentif suara elektoral. Buktinya, berdasarkan real count KPU, suara pasangan Ganjar-Mahfud menjadi yang paling bawah dibandingkan dengan suara dua pasangan calon lain.

Relasi Akar Rumput

Sejak diumumkan menjadi calon wakil presiden, Mahfud MD tidak mampu menarik hati pemilih akar rumput di Madura. Selama kampanye, Mahfud MD memang mendatangi sejumlah tokoh kiai yang ada di Madura. Ia tahu warga Madura secara umum mayoritas NU dan secara kultural sama dengan kebanyakan warga NU lainnya, yang menempatkan kiai sebagai panutan dan sekaligus panduan.

Namun, Mahfud mungkin lupa, nahdliyin di Madura secara politik tentu tidak bisa linier dengan sosial kulturalnya. Sebab, sejarah merekam, secara politik sebagian warga NU di Madura cenderung lebih dekat dengan Sarekat Islam (SI), khususnya di wilayah Pamekasan dan Sampang.

Sejarah juga merekam bagaimana di Madura juga sudah masuk unsur Sarekat Islam beberapa tahun pasca-NU lahir pada 1926. Sejumlah pondok pesantren di Madura secara historis dan politis cenderung lebih dekat ke SI dibandingkan ke NU meskipun secara sosial kultural menyatu dan tidak terpisahkan dengan budaya masyarakat nahdliyin.

Mahfud juga jarang membuka relasi dengan basis masa di akar rumput. Relasi Mahfud dengan basis akar rumput di Madura tidak berjalan dengan baik. Ia dianggap belum bisa mempengaruhi sisi emosional pemilih di wilayah ini.

Pengalaman pada Desember 2020, ketika rumah Mahfud MD didemo sekelompok orang yang memprotes pernyataan Mahfud terkait Habib Rizieq Shihab, menjadi gambaran bagaimana memori tersebut menjadi ganjalan bagi Mahfud mendulang simpati pemilih di wilayah kelahirannya tersebut.

Ach Fawaidi, alumni Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Airlangga, lahir dan besar di Madura.

Sumber: detikcom, Kamis 22 Februari 2024.

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Comment here