Opini

NU Antara “Nunut Urip” dan “Nahdatul Ummah”

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pemimpin Redaksi KABNews.id

Nahdatul Ulama (NU) kini di persimpangan jalan. “Nunut Urip” di satu sisi, “Nahdatul Ummah” di sisi lain. Bola ada di tangan nahdiyin, apakah akan menjadikan NU sebagai kendaraan “nunut urip”, ataukah menjadikan NU sebagai “nahdatul ummah”.

Bila dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung, 23-25 Desember 2021 nanti nahdiyin yang diwakili muktamirin memilih petahana KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) 2020-2025, berarti nahdiyin “nunut urip” (menumpang hidup). Nahdiyin “nunut urip” ke Kiai Said, sementara Kiai Said “nunut urip” ke pemerintah. Berarti status quo.

Namun jika nanti nahdiyin yang diwakili muktamirin memilih calon lain sebagai ketua umum, berarti terjadi “nahdatul ummah” atau gerakan umat untuk melakukan pembaharuan dan regenerasi.

Dalam survei yang digelar Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), muncul sedikitnya lima kandidat calon Ketua Umum PBNU. Mereka adalah Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur Marzuki Mustamar; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim Hasan Mutawakkil Alallah; Ketua Umum PBNU saat ini Said Aqil Siradj; kiai muda asal Rembang, Bahaudin Nursalim alias Gus Baha; dan Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf.

Urutan penulisan nama-nama tersebut juga mencerminkan dukungan responden, yakni Marzuki di peringkat teratas, Hasan runner up, Kiai Said di urutan ke tiga, Gus Baha di urutan ke empat, dan terakhir Gus Yahya.

Namun secara faktual, posisi Kiai Said masih sangat kuat. Apalagi umaroh (pemerintah) sudah terlihat nyaman dengan kiai asal Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, ini. Jadi, para penantangnya memerlukan energi ekstrakuat untuk mendongkel Kiai Said dari kursi Ketua Umum PBNU yang sudah diduduki 10 tahun sejak 2010. Harus ada gerakan umat atau “nahdatul ummah” untuk menumbangkan Kiai Said.

PWNU Jatim dan PCNU se-Jatim sudah deklarasi mendukung Gus Yahya. PWNU Sumatera Selatan dan PCNU se-Sumsel juga sami mawon (sama saja). Menyusul PWNU dan PCNU yang lain. Ikatan Gus-Gus Indonesia (IGGI) juga sudah menyatakan penolakannya terhadap Kiai Said untuk maju kembali.

Pun, Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang juga sudah minta Kiai Said Aqil tidak maju lagi untuk memberi jalan kepada kader muda NU. Namun seruan GP Ansor ini mungkin bisa diabaikan, karena ketua umumnya adalah Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Agama yang tak lain adik kandung Gus Yahya. Jadi vested interest-nya sangat kental.   

Pertanyaannya, apakah dukungan sementara dari sejumlah PCNU dan PWNU terhadap Gus Yahya akan mampu menggulingkan Kiai Said?

Selama memimpin PBNU, di luar sikap personalnya yang terkadang kontroversial, Kiai Said terbilang sukses. Termasuk dalam kaderisasi. Terbukti kini banyak yang siap menggantikan posisi Kiai Said.

Pemerintah pun terlihat nyaman berhubungan dengan Kiai Said. Terbukti ia diberi jabatan Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Kini, yang dibutuhkan adalah kesadaran Kiai Said sendiri. Maukah ia melakukan regenerasi dan memberikan jalan bagi kader-kader muda NU?

Di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU memang tidak ada pembatasan periodesasi jabatan ketua umum. Mau sekali, dua kali, tiga kali atau bahkan lebih, sepanjang dipilih oleh muktamirin, sah-sah saja saja. KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur contohnya, yang menjadi Ketua Umum PBNU selama tiga periode, dari 1984 hingga 1999.

Regenerasi

Dengan posisinya sebagai Komisaris Utama KAI, tak heran bila ada yang mempersepsikan Kiai Said “nunut urip” ke pemerintah. Posisi yang demikian juga mendegradasi NU secara kelembagaan. NU tak lagi bisa kritis ke pemerintah. Dan ini sudah terbukti.

Berbeda dengan era Gus Dur. Meski pada awal terpilihnya menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Dur yang kelak terpilih menjadi Presiden RI ini direstui Presiden Soeharto, namun dalam perjalanannya kemudian Gus Dur selalu kritis terhadap rezim Orde Baru. Di sinilah peran penting ulama untuk selalu memberikan nasihat kepada umarah (pemimpin). Gus Dur memang sempat menjadi anggota DPR RI, bahkan dari Golkar. Tapi itu ranah legislatif, bukan eksekutif.

Berbeda dengan Kiai Said kini yang menjadi Komisaris Utama KAI, sehingga dengan demikian ulama itu menjadi bagian tak terpisahkan dari umarah, dan akhirnya tak bisa bersikap kritis lagi.

Bahkan lebih sempit lagi Kiai Said disebut “nunut urip” ke pemrintah. Mereka yang berniat kembali memilih Kiai Said dengan demikian juga dipersepsikan “nunut urip” ke Kiai Said.

Mengapa pemerintah, khususunya Presiden Joko Widodo merasa nyaman dengan Kiai Said? Bahkan Jokowi rela membatalkan Mahfud Md sebagai calon presiden 2019 gara-gara ditentang Kiai Said, lalu menggantinya dengan KH Ma’ruf Amin? Tak dapat dipungkiri, di bawah Kiai Said, serangan-serangan bernuansa agama yang menyasar Jokowi dapat dipatahkan PBNU. Mungkin itu sebabnya Kiai Said perlu diberi “kursi”.

Mengingat posisi Kiai Said masih sangat kuat, dan jika Kiai Said tetap ngotot maju lagi, jika calon lain hendak menggantikannnya demi sebuah regenerasi dan menjadikan NU sebagai “nahdatul ummah”, maka mereka harus berjuang ekstra-keras. Mereka harus bergabung menjadi satu dan menyatu dengan umat untuk melakukan gerakan bersama-sama menolak Kiai Said di muktamar. PC-PC dan PW-PW NU di seluruh Indonesia harus dilobi supaya tidak memilih Kiai Said lagi. Di sisi lain, mereka harus menyiapkan jagoan yang layak pilih.

Bagi Kiai Said, atau siapa pun yang nanti terpilih menjadi Ketua Umum PBNU periode 2020-2025, agenda paling mendesak adalah melakukan pembatasan periodesasi jabatan ketua umum. Lazimnya maksimal cukup dua periode. Ini dilakukan dengan mengamandemen AD/ART ormas Islam terbesar di Nusantara ini. Semua demi regenerasi kepemimpinan.

Kalau periode jabatan Presiden RI dibatasi hanya dua periode, mengapa Ketua Umum PBNU tidak? Ketua Umum PP Muhammadiyah pun sudah dibatasi hanya dua periode saja. Masak NU kalah dengan Muhammadiyah?

Agenda berikutnya yang tak kalah penting adalah menjadikan NU sebagai “nahdatul ummah”, tidak sekadar nahdatul ulama. Umat di grass roots (akar rumput) harus ikut bergerak bersama-sama dengan ulama.

Comment here