Hankam

Pangkostrad: Biaya Pembuatan Patung Soeharto Bukan dari Anggaran Negara

Editor: Dwi Badarmanto

Jakarta, KABNews.id – Bila sementara ini yang terungkap ke publik hanya soal keyakinan Letnan Jenderal TNI (Purn) AY Nasution yang melandasi mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu membongkar patung diorama Soeharto saat menyusun strategi pemberantasan Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia atau G 30 S/PKI, ternyata ada satu alasan lagi sehingga Pangkostrad saat ini, Letjen TNI Dudung Abdurachman mengizinkan patung itu dibongkar oleh penggagasnya, AY Nasution, di Museum Dharma Bakti di Markas Kostrad.

“Selain soal keyakinan, ternyata ada alasan lain yang tidak kalah krusial, yakni anggaran. Menurut Jenderal Dudung, pembuatan patung diorama itu tidak menggunakan anggaran negara, sehingga ketika penggagasnya, AY Nasution membongkar kembali patung itu, Pak Dudung tak bisa mencegah,” ujar Rudi S Kamri, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB) yang juga pegiat media sosial, menirukan ucapan Dudung ketika dirinya diterima Dudung di Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (28/9/2021).

Menurut Rudi, Dudung tak bisa mempertahankan keberadaan diorama itu tetap di tempatnya, mengingat patung tersebut bukan aset negara, melainkan aset pribadi AY Nasution selaku penggagasnya, karena pembuatan patung itu tidak atas biaya dari anggaran negara. “Kalau kita cegah, justru kita salah,” ungkap Rudi di Jakarta, Kamis (30/9/2021), menirukan ucapan Dudung.

Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman dan Rudi S Kamri. (Foto: Rudi S Kamri)

Sebelumnya, Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman memberikan respons soal pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo pada diskusi webinar bertajuk “TNI vs PKI” yang diselenggarakan Insan Cita, Ahad (26/9/2021) malam, mengenai diorama peristiwa G30S/PKI di Museum Darma Bhakti Kostrad yang dikatakan Gatot tak ada di tempatnya lagi.

Dalam penjelasan yang dikirim Letjen Dudung kepada KABNews.id, Selasa (28/9/2021), mantan Panglima Kodam Jaya itu menyatakan, pertama, patung tiga tokoh di Museum Darma Bhakti Kostrad, yakni Jenderal TNI AH Nasution (Menteri Koordinator/Kepala Staf Angkatan Bersenjata atau KSAB), Mayor Jenderal TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan Resimen Para Komando TNI Angkatan Darat atau RPKAD) memang sebelumnya ada di dalam museum tersebut. “Patung tersebut dibuat pada masa Panglima Kostrad dijabat Letjen TNI Azmyn Yusri Nasution (2011-2012),” ungkap Dudung.

Kedua, kata Dudung, kini patung tersebut diambil oleh penggagasnya, yakni Letjen TNI (Purn) AY Nasution yang meminta izin kepada dirinya selaku Panglima Kostrad saat ini. “Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan,” terangnya.

Ketiga, lanjut Dudung, jika penarikan tiga patung itu kemudian disimpulkan bahwa pihaknya melupakan peristiwa sejarah pemberontakan Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI, itu sama sekali tidak benar. “Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu,” cetusnya.

Keempat, tegas Dudung, jadi tidak benar tudingan bahwa karena patung diorama itu sudah tidak ada, lalu diindikasikan bahwa TNI AD telah disusupi oleh PKI. “Itu tudingan yang keji terhadap kami,” sesalnya.

Menurut Dudung, seharusnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo selaku seniornya di TNI terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan bisa menanyakan langsung kepada dirinya selaku Panglima Kostrad. “Dalam Islam disebut ‘tabayyun’ (klarifikasi, red) agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah, dan menimbulkan kegaduhan terhadap umat dan bangsa,” terangnya.

Kelima, masih kata Dudung, foto-foto peristiwa serta barang-barang milik Panglima Kostrad Mayjen TNi Soeharto saat peristiwa G30S/PKI 1965 itu masih tersimpan dengan baik di museum tersebut. “Hal ini sebagai pembelajaran agar bangsa ini tidak melupakan peristiwa pemberontakan PKI dan terbunuhnya pimpinan TNI AD serta Kapten Piere Tendean,” tukasnya. 

Penjelasan itu perlu Dudung berikan agar bisa dipahami dan tidak menimbulkan prasangka buruk terhadap dirinya sebagai pribadi, institusi Kostrad, maupun insitusi TNI AD.

Comment here