Ekonomi

Pegawai Kimia Farma Ditangkap Densus 88, Saatnya Erick Thohir Bersih-bersih BUMN dari Radikalisme

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB) Rudi S Kamri menyarankan Menteri BUMN Erick Thohir menjadikan penangkapan pegawai Kimia Farma berinisial S terkait dugaan terorisme sebagai trigger dan momentum untuk bersih-bersih BUMN dari bercokolnya pegawai-pegawai berpaham radikal.

“Ini tampaknya fenomena gunung es. S itu pucuk kecil saja. Di bawah permukaan masih banyak. Sebab itu, penangkapan S tersebut hendaknya dijadikan trigger dan momentum bagi Menteri BUMN untuk bersih-bersih,” kata Rudi S Kamri di Jakarta, Senin (13/9/2021).

BUMN yang notabene lahan basah, kata Rudi yang juga pegiat media sosial, jangan dijadikan ladang subur bagi berseminya paham radikal. “Sudah bukan rahasia lagi bahwa BUMN-BUMN menjadi tempat bercokolnya orang-orang radikal. Nah, S itu salah satu buktinya. Tapi S itu bagian kecil saja. Yang lain masih banyak,” cetus pengamat politik dan sosial itu.

Masuknya paham radikal ke BUMN-BUMN, kata Rudi, bersifat laten, bahkan sulit terdeteksi, karena mereka menggunakan metode “thalab an-nushrah” (memperoleh pertolongan) seperti yang dikembangkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah. “Thalab an-nushrah itu tidak frontal,” tukas Rudi.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB) Rudi S Kamri. (Foto: KABNews.id)

Menurut Rudi, bagi HTI satu-satunya metode perjuangan yang sahih lagi syar’i atau sesuai syariat Islam untuk menegakkan Khilafah adalah melalui thalab an-nushrah. Bukan dengan cara-cara lain seperti mendirikan masjid, sekolah, menguasai ekonomi atau menolong kaum fakir-miskin atau mengajak berakhlak mulia. Itu semua adalah amal soleh, tetapi bukan metode menegakkan Khilafah.

Metode menegakkan Khilafah, lanjut Rudi, juga bukanlah dengan mengangkat senjata memerangi penguasa, bukan pula dengan jihad maupun kekerasan. Metode menegakkan Khilafah bukan juga dengan jalan demokrasi atau pemilu atau melalui parlemen atau bergabung dengan pemerintahan sekuler. Pun, lanjut Rudi, menegakkan Khilafah bukan pula dengan pengerahan massa (peoples power) untuk menggulingkan penguasa. “Cara yang paling tepat bagi mereka adalah thalab an-nushrah,” papar Rudi.

Sebab itu, pinta Rudi, semua pihak harus waspada dengan gerakan thalab an-nushra di BUMN-BUMN, karena keberadaan mereka sulit terdeteksi. “Erick Thohir harus jeli,” pintanya.

Apalagi, tutur Rudi, di awal-awal menjabat Menteri BUMN, Erick Thohir sudah mendapat masukan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud Md tentang bahaya paham radikalsme di BUMN-BUMN. “Kini saatnya Erick Thohir bangkit kembali untuk membersihkan BUMN dari paham radikal. Jadikan penangkapan S sebagai trigger,” tegasnya.

Selain di BUMN-BUMN, Rudi juga mendapat informasi paham radikalisme sudah menyusup ke Aparatur Sipil Negara (ASN), bahkan TNI dan Polri. “Ini pekerjaan rumah kita bersama, termasuk Menteri PAN-RB, Panglima TNI dan Kapolri untuk membersihkan instansi-instansi yang dipimpinnya dari bahaya radikalisme,” tandasnya.

Sebelumnya, Densus 88/Antiteror Polri menangkap tiga terduga teroris dari kelompok Jemaah Islamiyah atau Jamaah Islamiyah (JI), Jumat (10/9/2021) pagi. Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menyebut ketiganya ditangkap di kawasan Bekasi Utara, Jawa Barat dan Petamburan, Jakarta Barat. “Benar ada penangkapan terhadap tiga orang. Ini kelompok JI,” kata Ramadhan, Jumat (10/9/2021).

Ketiga terduga teroris itu masing-masing berinisial MEK, S, dan SH. S inilah yang kemudian diketahui sebagai pegawai Kimia Farma.

Comment here