Hukum

Pembobol Aplikasi PeduliLindungi Ditangkap, Pegawai Kelurahan Terlibat

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menangkap pelaku pembobolan data atau akses ilegal aplikasi PeduliLindungi.com. Dalam kasus ini, ada empat orang yang ditangkap, salah satunya adalah pegawai kelurahan.

“Terjadinya illegal access atau pencurian data aplikasi PeduliLindungi yang diatur dalam Pasal 30 dan 32 UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE,” ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Fadil Imran kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, dikutip dari detik.com, Jumat (3/9/30321).

Fadil mengatakan pelaku memanfaatkan situasi pandemi saat ini, di mana sertifikat vaksinasi menjadi salah satu syarat dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke tempat-tempat tertentu.

Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Fadil Imran. (Foto: CNN Indonesia)

“Pelaku yang ditangkap memanfaatkan situasi masyarakat yang ingin mendapatkan sertifikat vaksinasi yang dapat dipergunakan untuk melakukan perjalanan atau kunjungi ke tempat yang wajibkan gunakan platform PeduliLindungi,” ujarnya.

Modus operandi yang dilakukan pelaku adalah dengan mengakses secara ilegal data kependudukan. Salah satu pelaku bisa membobol data kependudukan masyarakat karena bekerja di Kelurahan Muara Karang, Kapuk Muara, Jakarta Utara.

“Mengapa dia miliki akses data NIK dan bisa akses? Karena yang bersangkutan adalah pegawai pada kelurahan di Muara Karang. Dia paham betul untuk bisa dapatkan sertifikat vaksinasi dan bisa dipergunakan dalam PeduliLindungi disyaratkan dua hal,” katanya.

Setelah mendapatkan NIK tersebut, pelaku kemudian membuat sertifikat vaksinasi palsu. Sertifikat vaksinasi itu kemudian dijual kepada masyarakat.

Dijual ke Publik

Fadil Imran mengatakan dua pelaku memiliki peran masing-masing. Salah satu pelaku, yakni FH (23), bertugas sebagai tenaga marketing.

“Petugas marketing menjual kepada masyarakat melalui akun Facebook dan setelah mendapatkan pesanan, pelaku berikutnya membuatkan,” katanya.

“Adapun identitas pelaku pertama adalah FH (23), karyawan swasta, pendidikan SLTA. FH ini pemilik akun Facebook dengan nama Tri Putra Heru memposting kartu vaksin,” tambahnya.

Total, sudah 93 sertifikat vaksin palsu yang dijual para tersangka. “Dari hasil pengakuan sementara dia sudah menjual sebanyak 93 sertifikat vaksin yang terhubung dengan aplikasi PeduliLindungi,” kata Fadil.

Fadil mengungkapkan, pelaku memasarkan sertifikat vaksin palsu itu dengan harga kisaran Rp 370 ribu. Pelaku memasarkan pemalsuan sertifikat vaksin itu melalui Facebook.

“Menjual sertifikat vaksin tanpa melalui vaksinasi dan bisa langsung terkoneksi PeduliLindungi dengan harga kartu satu sertifikat vaksin Rp 370 ribu,” ujarnya.

Adapun 4 orang yang ditangkap itu yakni FH sebagai marketing yang memasarkan pemalsuan sertifikat vaksin, HH yang merupakan pegawai Kelurahan Kapuk Muara berperan membuat sertifikat vaksin. Kemudian AN dan DI yang merupakan pembeli sertifikat vaksin.

“Kedua saksi ini berperan melakukan pembelian sertifikat tanpa divaksin kepada akun Facebook yang saya sebutkan di atas, Tri Putra Heru, dengan harga Rp 350 ribu yang satu dengan harga Rp 500 ribu,” ungkap Fadil.

Fadil mengatakan, saat ini pihaknya tengah mendalami 93 sertifikat vaksin palsu yang sudah dijual oleh para pelaku.

“Tim penyidik sedang mendalami 93 kartu vaksin yang sudah dapat dipergunakan di aplikasi PeduliLindungi agar itu bisa kita tarik kembali dan bisa kita amankan,” kata dia.

Comment here