Opini

Perdagangan Orang Berkedok Magang Mahasiswa

Oleh: Waode Nurmuhaemin, Praktisi pendidikan, penulis buku dan novel pendidikan.

Jakarta, KABNews.id – Dunia pendidikan tinggi Indonesia kembali terguncang. Sebanyak 1.047 mahasiswa Indonesia dari 33 kampus diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus magang di Jerman.

Program magang tersebut disebut masuk dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan dapat dikonversi menjadi 20 satuan kredit semester (SKS). Setelah ditelusuri, program tersebut bukanlah magang, melainkan ferienjob yang meliputi kerja fisik paruh waktu saat musim libur. Adapun tujuan Jerman memberlakukan ferienjob adalah untuk mengisi kekurangan tenaga kerja fisik.

Pengalaman mahasiswa bernama Nita saat magang di Jerman tidak seindah yang dijanjikan. (Dok. Nita via BBC News Indonesia)

Salah satu mahasiswa mengaku membayar seluruh biaya sebesar Rp 9,4 juta untuk ikut tawaran magang tersebut. Begitu tiba di Jerman, para mahasiswa disodorkan perjanjian kerja dalam bahasa Jerman. Ternyata kebanyakan dari mereka ditempatkan untuk bekerja di pabrik, konstruksi, jasa ekspedisi, dan tempat lain yang tidak sesuai dengan tujuan magang mahasiswa. Mereka bekerja hingga 12 jam. Ketika kembali ke Indonesia, mereka masih harus membayar dana talangan ke agen sampai puluhan juta rupiah.

Kemdikbud Ristek menegaskan bahwa magang tersebut bukan bagian dari Program MBKM. Menurut Kemdikbud Ristek, program itu telah dihentikan sejak Oktober 2023. Jadi, program magang yang mereka ikuti tidak bisa dikonversi menjadi mata kuliah. Sehingga ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Migrant care sudah mewanti-wanti bahwa kasus ini adalah lagu lama yang selalu berulang. Banyak kampus Indonesia tertipu program TPPO berkedok magang dari tahun ke tahun. Sungguh memprihatinkan para penjahat TPPO bahkan kalangan akademisi sebagai korban dan calon korban. Garda terdepan pendidikan tinggi kita masih bisa jadi korban para mafia TPPO.

Untuk menghindari agar kasus serupa tidak lagi berulang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pihak kampus. Pertama, riset yang teliti. Sebelum menerima tawaran magang, pihak kampus dan mahasiswa harus melakukan riset dengan teliti tentang perusahaan atau organisasi yang menawarkan program magang. Periksa reputasi perusahaan, tinjau ulasan dari mantan magang atau mahasiswa yang pernah magang, dan pastikan perusahaan tersebut memiliki jejak rekam baik.

Kedua, periksa detail program. Teliti semua detail program magang, termasuk durasi magang, tanggung jawab pekerjaan, kompensasi (jika ada), dan fasilitas yang disediakan. Waspadai tanda-tanda penipuan, seperti janji yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan atau informasi yang tidak jelas.

Ketiga, bicarakan dengan alumni atau mahasiswa yang sedang kuliah di negara yang dituju. Jika memungkinkan, minta tolong mereka untuk melakukan penelusuran ke tempat-tempat tujuan magang, apakah betul memiliki kerja sama dengan perusahaan yang bersangkutan untuk menerima mahasiswa magang dari kampus-kampus Indonesia? Informasi yang mereka dapatkan dapat membantu untuk mengevaluasi apakah program tersebut sesuai dengan harapan atau tidak.

Keempat, perhatikan biaya. Waspadai program magang yang meminta biaya pendaftaran atau biaya lainnya. Program magang yang sah biasanya tidak meminta mahasiswa untuk membayar untuk berpartisipasi. Jika ada biaya yang diminta, maka pastikan biaya tersebut masuk akal dan memahami sepenuhnya biaya-biaya apa yang dibayar.

Kelima, verifikasi informasi. Pastikan untuk memverifikasi semua informasi yang diberikan oleh perusahaan atau organisasi. Periksa apakah informasi kontak yang diberikan valid, dan pastikan bahwa pihak kampus dan mahasiswa dapat menghubungi orang yang bertanggung jawab untuk program magang mereka dan memiliki penjelasan lengkap atas pertanyaan atau kekhawatiran.

Memilih program magang yang tepat dapat memberikan manfaat besar bagi pengalaman mahasiswa selama kuliah. Namun, penting bagi kampus dan mahasiswa untuk waspada terhadap penipuan magang dan melakukan riset yang teliti sebelum menerima tawaran magang.

Dengan mengikuti langkah-langkah yang disebutkan di atas, kampus dan mahasiswa dapat memastikan bahwa mereka memilih program magang yang aman, bermanfaat, dan sesuai dengan tujuan studi mereka. Tentu saja upaya polisi mengusut tuntas kasus ini patut diapresiasi. Perlu segera membekukan seluruh perusahan yang terlibat dan menjerat para pelaku dengan pasal TPPO.

Sumber: Kompas.com, Senin 25 Maret 2024.

Comment here