Hankam

PKI dan Komunisme, Isu Tahunan Gatot Nurmantyo Jelang 30 September

Editor: Dwi Badarmanto

Jakarta, KABNews.id – Mantan Panglima TNI Jenderal (Pur) Gatot Nurmantyo sudah rutin mengangkat isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau bahaya komunisme setiap menjelang 30 September. Teranyar, Gatot melempar tudingan soal penyusupan komunisme ke tubuh TNI.

Dikutip dari detik.com, Senin (27/9/2021), pada 2016, Gatot menengarai isu PKI bisa saja diembuskan pihak tertentu untuk mengadu domba anak bangsa. Gatot kemudian mengaku merasakan kebangkitan PKI sejak 2008.

Gatot Nurmantyo menjabat Panglima TNI sejak 8 Juli 2015 hingga 8 Desember 2017. Gatot sebagai Panglima TNI hingga jenderal purnawirawan sudah berbicara soal isu PKI pada beberapa kali kesempatan.

Mantan Panglima TNI Jenderal (Pur) Gatot Nurmantyo. (Foto: CNBC Indonesia)


Gatot pernah menghubungkan perintahnya untuk menggelar acara nonton bareng film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ di institusi TNI pada 2017 dengan pemecatan dirinya dari jabatan Panglima TNI. Terbaru, Gatot menyebut ada paham komunis yang menyusup ke tubuh TNI.

Berikut catatan detik.com mengenai Gatot soal isu PKI, sejak menjabat Panglima TNI hingga sekarang:

16 Mei 2016: Duga ada adu domba

Saat itu, publik dihebohkan soal pesan berantai (broadcast message) soal kebangkitan PKI, 9 Mei disebut hari lahirnya PKI. Di sisi lain, ada orang yang ditangkap gara-gara memakai kaus bergambar palu-arit, pelesetan PKI, atau juga kaus bergambar ilustrasi kelompok musik genre metal luar negeri namun bergambar palu-arit. Ada pula demonstrasi anti-PKI.

Gatot menanggapi isu kebangkitan PKI dengan satu imbauan untuk tetap menjaga persatuan. Dia mengajak masyarakat tetap tenang tanpa terpengaruh isu yang mengarah ke perselisihan. “’Kan sudah disampaikan, bisa jadi itu adu domba ‘kan?” kata Gatot di Rupatama, Markas Besar Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/5/2016).

Dia mengingatkan jangan sampai peristiwa 30 September 1965 terulang. Peristiwa itu perlu diingat agar Indonesia tetap bersatu. “Jadi yang dilakukan kita semuanya adalah mari kita wujudkan persatuan. Itu sudah masa lalu, masa lalu sebagai peringatan, jangan sampai terjadi lagi di masa kini,” ujarnya.

2 Juni 2016: Neo-kapitalisme lebih berbahaya ketimbang PKI

Kala itu, ada simposium bertajuk ‘Mengamankan Pancasila dari Ancaman PKI dan Ideologi Lain’. Acara dihelat di Balai Kartini, Jakarta.

Saat itu Gatot berpendapat ideologi kapitalisme lebih berbahaya ketimbang PKI, yang dulu dikenal mengusung ideologi komunisme versi Marxisme-Leninisme. Gatot memberi contoh di negara-negara yang terimbas neo-kapitalisme dan neo-liberalisme. “PKI berbahaya, tapi yang lebih berbahaya neo-kapitalisme, neo-liberalisme,” jelas Gatot di Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Gatot memberi contoh di negara-negara yang terimbas neo-kapitalisme dan neo-liberalisme. Misalnya di Belanda, Perancis, dan Denmark, di sana gereja mulai kosong dan orang menjadi ateis. Namun entah bagaimana, Gatot lantas menghubungkan fenomena ini menjadi narasi pengantar masuknya komunisme.

“Komunis seperti setan diam-diam muncul. Di Eropa proses menuju ateis terjadi. Diawali dengan menjual gereja untuk properti. Tiap tahun gereja kehilangan 60 ribu jemaah. Kalau sudah ateis lalu komunis. Enggak terlihat, tapi proses ini terjadi. Itu bisa terjadi di negara kita,” kata Gatot.

Saat itu, Gatot menyampaikan bahwa komunis muncul saat kritis pada awal merdeka dari Belanda. Pada 1965, komunis melakukan pembantaian diawali krisis ekonomi dan kesenjangan sosial serta kepercayaan. Namun kini, bila Indonesia berhasil sejahtera, ideologi Pancasila akan tetap kuat. “Kalau kita sejahtera, apa pun ideologi di luar Pancasila, enggak akan masuk. Seharusnya bersatu utamakan berkarya,” ucap Gatot.

18 September 2017: Gatot Akui Perintahkan TNI Nobar Film G30S/PKI

Pada September 2017, muncul informasi soal rencana TNI menggelar acara nonton bareng (nobar) film G30S/PKI. Saat itu, Gatot mengakui memerintahkan institusinya untuk menggelar nonton bareng film karya sutradara Arifin C Noer itu.

“Iya, itu memang perintah saya, mau apa? Yang bisa melarang saya hanya pemerintah,” kata Jenderal Gatot saat ditemui seusai ziarah di Makam Bung Karno (MBK), Bendogerit, Blitar, Jawa Timur, Senin (18/9/2017).

Gatot menyatakan Mendagri sudah mengizinkan dia memerintahkan seluruh anggotanya menonton film garapan era Orde Baru tersebut. Ini adalah upaya pelurusan sejarah. Dia tidak peduli soal polemik akurasi sejarah perihal film itu.

“Biarin saja, saya enggak mau berpolemik. Ini juga upaya meluruskan sejarah. Saya hanya ingin menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena anak-anak saya, prajurit saya, masih banyak yang tidak tahu,” jelasnya.

22 September 2017: Gatot tepis tudingan berpolitik via nobar

Perintah Gatot kepada TNI untuk menggelar nobar film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ dinilai politikus PDIP Effendi Simbolon sebagai langkah politik. Beberapa parpol, seperti PKS dan PAN, jadi ikut-ikutan menggelar nobar film G30S/PKI. Namun Gatot menilai persepsi seperti itu wajar saja.

“Kalau politik, apa saja dipolitisasi, kamu-kamu saja bisa dipolitisasi. Jadi biarin saja,” kata Gatot di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (22/9/2017).

Gatot santai menanggapi tudingan itu. Menurutnya, wajar saja bila langkahnya itu dicurigai.

“Saya bilang orang kawin bisa politik, apalagi nonton film. Ya wajar-wajar saja, orang curiga wajar, orang punya persepsi wajar, sekarang komentar apa pun wajar,” ucapnya.

27 September 2017: Anak PKI sudah masuk DPR

Dia berbicara di Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Fraksi PKS, bertajuk ‘Pancasila dan Integrasi Bangsa’. Mahfud Md Turut menjadi pembicara. Gatot Nurmantyo mulai bicara soal anak anggota PKI yang kini sudah bisa diterima masyarakat sama seperti anak anggota masyarakat lainnya. Bahkan ada anak PKI yang menjadi anggota DPR.

“Kalau kita lihat G30S/PKI, dendam yang luar biasa. Tapi begitu selesai, tidak,” ujar Gatot di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Menurut Gatot, bangsa Indonesia saat ini sudah cukup dewasa. Dia lalu memberi contoh ada keturunan PKI yang kini duduk di parlemen. “Buktinya jelas, siapa yang berkubu ‘aku bangga sebagai anak PKI’. Orangnya ada di sini, ya kan? Masuk parlemen ya, diapa-apakan enggak sama umat muslim? Diapa-apakan enggak? Tidak,” tutur Gatot.

22 Maret 2018: Bicara kebangkitan PKI

Gatot sudah tidak lagi menjabat Panglima TNI. Di acara detik.com, dia mengatakan isu kebangkitan PKI selalu ia kemukakan untuk memberikan peringatan. “(Soal isu PKI) bukan dibangkit-bangkitkan. Tapi, manakala ada indikasi ‘saya bangga jadi anak PKI’, itu kan warning seharusnya. Jangan sampai kejadian itu terulang,” kata Gatot.

21 September 2020: Gatot bicara pencopotan dirinya

Video berjudul ‘Jenderal Gatot Endus PKI Gaya Baru Sejak 2008’ diunggah oleh kanal YouTube Hersubeno Point. Gatot banyak bicara soal PKI di kanal YouTube itu.

Gatot curhat soal seorang ‘sahabat di PDIP’ yang memintanya menghentikan perintah nonton bareng film G30S/PKI pada 2017. Bila tidak mau menghentikan acara itu, Gatot bakal dicopot dari jabatan Panglima TNI saat itu.

“Pada saat saya menjadi Panglima TNI, saya melihat itu semuanya, maka saya perintahkan jajaran saya untuk menonton film G30S/PKI. Pada saat itu, saya punya sahabat dari salah satu partai, saya sebut saja partai PDI, menyampaikan, ‘Pak Gatot, hentikan itu, kalau tidak pasti Pak Gatot akan diganti’,” kata Gatot saat bicara di kanal YouTube Hersubeno Point.

Isu ini kontroversial, ditepis oleh anggota PDIP yang duduk di DPR, Mayjen TNI (Purn) Tb Hasanuddin. Gatot juga dinilai melakukan pencitraan menuju Pilpres 2024 lewat isu PKI itu.

Gatot juga bicara soal kebangkitan PKI. Dia mengaku mengetahui kebangkitan PKI gaya baru sejak 2008. “Memang gerakan ini tidak bisa dilihat bentuknya, tetapi dirasakan bisa. Contohnya kenapa 2008, karena sejak 2008 itulah seluruh sekolah, pelajaran soal G30S/PKI ditiadakan. Ini suatu hal yang sangat berbahaya,” ujar Gatot.

27 September 2021: Paham komunis menyusup ke TNI

Terbaru, Gatot mengklaim paham komunis telah menyusup ke tubuh TNI. Dia menyampaikan hal tersebut lewat acara webinar yang berjudul ‘TNI Vs PKI’ pada Minggu (26/9/2021). Awalnya Gatot menceritakan terkait sejarah pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia.

Dia menyebut pemberontakan PKI sebetulnya sudah dimulai pada 1948 atau tiga tahun setelah Indonesia merdeka. Dia menyebut, di usia Indonesia yang semuda itu, PKI di Madiun, Jawa Timur, sudah berupaya mengambil alih Indonesia.

“Bayangkan bagaimana suasana kebangsaan kita tahun 1948, negara masih dalam usia sangat belia, terjadi megapolitik sangat tinggi, dan hadapi agresi militer Belanda, peluang ini dimanfaatkan (PKI) untuk kudeta pada tahun 1948. Disertai tiga ciri khas, menculik, menganiaya warga sipil, polisi dan ulama. Tapi melalui suatu operasi militer, terutama pasukan Siliwangi, pada akhir November 1948, pemberontakan PKI Madiun berhasil ditumpas,” kata Gatot.

Kemudian Gatot Nurmantyo menyebut, setelah ditumpas, PKI ternyata muncul kembali pada Pemilu 1955. Dia menyebut kala itu PKI menjadi partai terbesar kedua setelah PNI.

Upaya pemberontakan PKI, kata dia, menjadi yang terbesar pada peristiwa G30SPKI. Dia menyebut saat itu ada 7 Pahlawan Revolusi yang gugur akibat peristiwa tersebut.

Atas beberapa sejarah itu, Gatot lantas menyinggung terkait masih ada-tidaknya PKI saat ini. Dia menegaskan komunisme saat ini di Indonesia masih ada meski selalu dibantah berbagai pihak.

Gatot lantas memberikan bukti-bukti masih adanya PKI di Indonesia lewat insiden perusakan museum Kostrad. Dia menyebut dalam museum tersebut terdapat sejumlah bukti peristiwa penumpasan komunisme, seperti patung yang dihilangkan.

“Bukti nyata jurang kehancuran itu adalah persis di depan mata, baru saja terjadi adalah Museum Kostrad, betapa diorama yang ada di Makostrad, dalam Makostrad ada bangunan, bangunan itu adalah kantor tempatnya Pak Harto (Soeharto) dulu, di situ direncanakan bagaimana mengatasi pemberontakan G30SPKI di mana Pak Harto sedang memberikan petunjuk ke Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO,” tuturnya

Dia lalu meminta agar TNI AD, TNI AL, dan TNI AU bersatu untuk membersihkan penyusupan PKI di tubuh TNI. Dia meminta agar TNI membersihkan jajaran dari indikasi penyusupan itu.

“Saya ulangi Ini berarti sudah ada penyusupan di dalam tubuh TNI, dalam kesempatan ini saya mengetuk jiwa patriotisme dan ksatria prajurit TNI AD, TNI AL, dan TNI AU agar bersama-sama membersihkan jajaran TNI dari penyusupan maupun pengaruh akan merusak jiwa-jiwa prajurit TNI dan bisa menyebabkan pengkhianat minimal atau pun menjual institusi hanya untuk sekadar jual jabatan dan akan bermuara pada ingkar, pada sumpah pada Allah,” ungkapnya.

Sementara itu, Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) buka suara soal tudingan Gatot itu. Kostrad mengatakan inisiatif pembongkaran patung-patung tersebut bukan berasal dari pihaknya.

“Bahwa tidak benar Kostrad mempunyai ide untuk membongkar patung Pak Harto, Pak Sarwo Edhie, dan Pak Nasution yang ada di dalam ruang kerja Pak Harto di Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad,” ujar Kepala Penerangan Kostrad Kolonel Inf Haryantana dalam keterangan tertulis, Senin (27/9/2021).

Haryanta menerangkan pada Senin (30/8/2021), mantan Panglima Kostrad (Pangkostrad), Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution menemui Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman. Pertemuan kala itu juga dihadiri Kaskostrad dan Irkostrad. “Yang bertujuan meminta untuk pembongkaran patung-patung tersebut,” ucap Haryanta.

Comment here