Sport

PON Ajang Ideal Pencarian Bibit Atlet Kelas Dunia

Editor: Dwi Badarmanto

Jakarta, KABNews.id – Pekan Olahraga Nasional (PON) menjadi ajang paling ideal dalam mencari bibit unggul atlet nasional yang akan mewakili Indonesia di kancah internasional.

Pasalnya, para atlet dari berbagai macam cabang olahraga (cabor) yang tampil di PON pada hakikatnya adalah mereka yang dibina secara berjenjang oleh daerah untuk kelak berebut meraih prestasi puncak di level nasional. Hal itu membawa keyakinan bahwa sukses prestasi di PON akan berpengaruh pada pencapaian prestasi di kancah yang lebih luas.

Keyakinan itu diucapkan Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari. Meskipun digelar dalam kondisi yang extraordinary atau luar biasa di tengah pandemi Covid-19, ia yakin PON Papua dapat terlaksana dengan baik dan mampu melahirkan bibit-bibit potensial untuk mewakili Merah Putih di level internasional.

“Saya yakin PON Papua dapat terselenggara dengan baik sehingga nantinya multieven ini mampu melahirkan wajah-wajah baru yang akan mewakili Indonesia di kancah dunia, baik SEA Games, Asian Games, dan paling penting Olimpiade yang menjadi puncak prestasi tertinggi bagi seluruh atlet  di dunia,” ucap Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (1/10/2021).

PON diharapkan memunculkan atlet-atlet yang kelak bisa berprestasi di level internasional. (Foto: CNN Indonesia)

Bicara soal PON ideal, Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda Jabar) Setiawan Wangsaatmaja mengatakan sebetulnya banyak faktor dan sudut pandang untuk menilai letak ideal penyelenggaraan PON.

Menurutnya, PON adalah bagian dari rangkaian ajang multieven pencapaian prestasi bagi seorang atlet, mulai dari Kejuaraaan Nasional yang berakhir di PON, kemudian dilanjutkan ke level yang lebih tinggi, yakni SEA Games, Asian Games dan Olimpiade di level paling atas.

“Oleh karena itu, tentu saja yang diutamakan seharusnya adalah bagaimana atlet-atlet bisa meraih prestasi terbaik di PON. Idealnya, setiap daerah bisa menampilkan atlet terbaik untuk berkompetisi di ajang nasional melalui PON,” kata Setiawan melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Kamis (30/9/2021).

Untuk itu, daerah juga memerlukan peta kekuatan lawan untuk bisa menjadi tolok ukur kesuksesan pembinaan yang telah dilakukan. Sebab apabila ada suatu daerah yang meraih prestasi tertinggi, artinya daerah tersebut punya pembinaan atlet yang baik. Tapi sebaliknya, jika ada daerah yang raihan medali kurang di PON berarti memerlukan pembinaan.

“Tapi kita juga harus melihat faktor-faktor yang menyebabkan prestasi itu muncul. Apakah proses pembinaannya, fasilitasnya, infrastruktur dan frekuensi kejuaraan di daerah juga dibina dengan baik. Belum lagi bagaimana kemampuan sumber daya manusianya? Ini yang dimaksud dengan kesinambungan untuk mewujudkan prestasi di level puncak,” paparnya.

“Sebut saja pembinaan di Ibukota DKI Jakarta dengan faktor-faktor itu saya sebut relatif sudah terpenuhi, mulai dari fasilitas, infrastruktur memadai, pelatih kompeten, jumlah kejuaraan cukup, pasti hasilnya berbeda dengan daerah lain. Jawa Barat juga punya fasilitas cukup baik, tapi daerahnya lebih luas sehingga pemerataan berbeda. Tapi mungkin di luar Pulau Jawa belum tentu bisa terpenuhi,” jelasnya.

Kompleksitas dan banyaknya faktor disebut turut berpengaruh dalam pencapaian sukses prestasi ideal di PON. Menurut Setiawan, tidak mungkin sebuah prestasi dibuat secara instan.

Sementara itu, Ketua Harian KONI Jatim M Nabil mengatakan idealnya PON secara filosofi sejarah adalah alat pemersatu bangsa melalui olahraga. Sebagai sesuatu yang bersifat universal, olahraga tidak memiliki sekat baik itu dari agama, suku, etnis dan golongan, khususnya untuk Indonesia yang beragam.

Melalui nilai-nilai sportivitas, PON yang ideal itu adalah di mana negara hadir membantu daerah untuk pengembangan olahraga. Mulai dari perhatian sampai pembiayaan dan penguatan terhadap pengembangan olahraga di daerah.

“Sebab nantinya melalui olahraga para atlet terbaik dari daerah di level nasional itu akan membawa nama baik negara ke kancah yang lebih besar, ke kancah internasional. Ada negara yang mungkin secara ekonomi tidak bagus, tapi negaranya dikenal kuat dari bidang olahraga,” jelasnya.

“Kalau dibilang sudah ideal, saya berharap secara bertahap akan seperti itu. Ada kesungguhan orientasi, ada kesuksesan di tiap-tiap jenjang sehingga objektivitas dan sportivitas di PON yang harus dikedepankan untuk dapat hasil prestasi yang baik,” ujar M Nabil.

Sementara itu, Pengamat olahraga nasional, Tommy Apriantono mengungkapkan dari segi waktu sebenarnya penyelenggaraan PON yang empat tahun sekali terbilang ideal. Empat tahun dirasa menjadi waktu yang cukup untuk daerah melakukan pembinaan terhadap atletnya.

Namun menurut Tommy perlu ada regulasi jelas baik melalui undang-undang maupun KONI Pusat yang mengatur teknis pelaksanan supaya PON dapat berjalan sesuai harapan. Mulai dari pengaturan umur atlet yang bisa tampil, pembatasan prestasi atlet yang pernah tampil, sampai pembatasan bonus supaya tujuan PON sebagai pencarian bibit unggul atlet bisa tercapai.

“Sebaiknya atlet yang pernah tampil di Olimpiade ini tidak lagi turun di PON supaya bisa jadi ideal. Karena akan menutup peluang atlet junior untuk berprestasi ke atas jadi jenjangnya kelihatan. Di Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU SKN) berbunyi, setiap daerah harus membina atlet untuk ke level nasional dan internasional mewakili Indonesia. Sekarang kalau setiap daerah membina, muncul bibitnya. Ingat, atlet itu diciptakan tidak muncul begitu saja,” jelas Tommy.

Comment here