Politik

Presiden Myanmar ke Junta: Lebih Baik Mati Daripada Mundur

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id -Presiden Myanmar Win Myint memberikan kesaksiannya akan upaya junta militer agar ia mengundurkan diri dari jabatannya. Win Myint, yang ditahan bersama dengan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, membuat komentar tersebut ketika dia bersaksi untuk pertama kalinya di pengadilan junta.

Pria 69 tahun itu menceritakan ketika dua perwira senior memasuki kamarnya pada 1 Februari 2021.

“(Militer) Myanmar mendesaknya untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden, dengan alasan kesehatannya buruk,” kata pengacara Win Myint, Khin Maung Zaw.

“Presiden menolak permintaan mereka, dengan mengatakan dia dalam keadaan sehat. Para perwira kemudian mengancam dia bahwa penolakan itu akan sangat merugikannya, tetapi Presiden mengatakan kepada mereka bahwa dia lebih baik mati daripada menyetujuinya,” tambah Zaw dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (12/10/2021).

Presiden Myanmar Win Myint memberi kesaksian di peradilan militer. (Foto: CNN Indonesia)

Win Myint, sekutu lama Suu Kyi, menghadapi sejumlah tuduhan. Menyusul Myint, Suu Kyi dijadwalkan bersaksi untuk pertama kalinya akhir bulan ini terkait tuduhan yang dijatuhkan kepadanya.

Junta, yang secara resmi dikenal sebagai Dewan Administrasi Negara, telah mengancam untuk membubarkan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Suu Kyi dan terus melancarkan kampanye berdarah melawan penentang kekuasaannya.

Para militer dan warga sipil terlibat perang. Militer sendiri menindak brutal siapa pun yang menentangnya, mulai dari menembak pengunjuk rasa, menangkap tersangka pembangkang dalam penggerebekan malam, menutup outlet berita, dan menangkap wartawan.

Lebih dari 1.000 warga sipil telah tewas, menurut kelompok pemantau lokal.

Akibat krisis Myanmar, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menawarkan bantuannya. Namun, bantuan yang ditawarkan ASEAN tak direspons dengan baik oleh pihak junta militer.Hal ini menuai kekecewaan beberapa negara ASEAN, seperti Indonesia dan Malaysia.

“Tidak ada perkembangan signifikan di Myanmar. Militer tidak memberikan tanggapan positif dari apa yang telah diupayakan oleh special in void,” ujar Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dalam Press Briefing, Senin (4/10/2021).

Selain Indonesia, Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah menyebutkan kekecewaannya.

“Pada Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN hari ini, saya menyatakan bahwa kami kecewa otoritas Myanmar tidak bekerja sama dengan Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar, dan kecuali ada kemajuan, akan sulit untuk meminta Ketua SAC (Dewan Pemerintahan Sementara Myanmar) di KTT ASEAN (26-28 Oktober 21),” demikian cuitan Abdullah di akun Twitter-nya. Senin (4/10/2021).

Selain mengancam tak akan mengundang pimpinan junta Myanmar ke KTT ASEAN, Malaysia juga berencana menggelar pertemuan dengan pemerintah bayangan Myanmar.

Ancaman ini dilontarkan akibat dari penolakan rezim junta Myanmar akan kunjungan Utusan Khusus ASEAN untuk Myanmar Erywan Yusof, yang berusaha menemui semua pemangku kepentingan dalam krisis negara itu, salah satunya Aung San Suu Kyi.

Yusof hanya ditawari untuk bertemu dengan mantan Wakil Presiden Henry Van Thio dan mantan Ketua Majelis Rendah T Khun Myat, kata sumber Irrawaddy di Myanmar.

Comment here