Politik

Profil Singkat 5 Tokoh yang Masuk dalam Bursa Ketua Umum PBNU

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id -Muktamar Nahdatul Ulama (NU) telah diputuskan digelar pada 23-25 Desember 2021 di Lampung. Dalam kegiatan akbar lima tahunan ini, akan dipilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027.

Sejauh ini ada lima nama yang masuk dalam bursa Ketua Umum PBNU. Masing-masing KH Marzuki Mustamar, KH Hasan Mutawakkil Alallah, KH Said Aqil Siraj, KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha, dan KH Yahya Cholil Staquf. 

Dikutip dari Sindonews.com, Ahad (10/10/2021), berikut profil singkat lima nama yang masuk dalam bursa Ketum PBNU:

1. KH Said Aqil Siradj
Said Aqil Siradj, petahana Ketua Umum PBNU kembali masuk dalam daftar calon di periode berikutnya. Said Aqil lahir  3 Juli 1953 di Cirebon, Jawa Barat. Ia merupakan putra dari pendiri Pondok Pesantren Kempek KH Soleh Harun. Tumbuh di tengah keluarga cendikiawan muslim, Said Aqil sudah mempelajari dasar-dasar ilmu sejak kecil.
Said berangkat ke Mekah, Arab Saudi, untuk kuliah di Universitas King Abdul Aziz dan Universitas Umm Al Qura bersama sang istri, di tahun 1980. Pendidikan sarjana hingga doktoral ia tempuh di universitas itu. Berbagai sumber menyebut, Said Aqil sempat bekerja di toko karpet, karena butuh lebih banyak biaya untuk keluarganya. Meskipun ia mendapat beasiswa dari pemerintah Saudi, namun tetap dirasa kurang karena Said Aqil harus pula membiayai anak-anaknya. Pendidikan doktoralnya ia selesaikan pada 1994.

Said Aqil. (Foto: SINDONews)

Pada 2010, ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, Sulawesi Selatan. Said Aqil memimpin PBNU hingga 2015. Ketika itu, ia yang mendapat 294 suara mengalahkan Slamet Effendi Yusuf dengan 210 suara.

Said Aqil kembali terpilih lagi sebagai Ketua Umum PBNU periode 2015-2020 saat Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur. Said unggul dengan menghimpun 287 suara. Sementara, calon lainnya As’ad Said Ali memiliki 107 suara, dan Salahuddin Wahid 10 suara.

2. KH Ahmad Bahauddin Nursalim
Ahmad Bahauddin Nursalim adalah ulama NU yang biasa disapa Gus Baha. Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 29 September 1970, Gus Baha merupakan putra pengasuh Pondok Pesantren Alquran di kota asalnya, yakni Kiai Nursalim.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim. (Foto: SINDONews)

Melansir laman ‘Ngaji Bareng Gus Baha’, sejak kecil ia sudah diharuskan menghafal Alquran oleh sang ayah. Bahkan, dirinya sudah khatam Alquran di usia yang masih sangat belia. Ayahnya memerintah Gus Baha untuk belajar di Ponpes Al Anwar, Rembang dan berada di bawah didikan KH Maimoen Zubair. Sejak belajar di sana, Gus Baha terlihat memiliki minat yang besar dalam ilmu tafsir, hadits dan fiqih. Meskipun sudah terkenal memiliki wawasan yang sangat luas sejak masih menjadi santri, namun Gus Baha tak pernah sombong dan tetap tampil sederhana. Penampilannya yang khas anak pesantren itu menjadi cirinya hingga kini. Banyak masyarakat yang meneladani penampilan dan perilakunya.

3. KH Yahya Cholil Staquf
Tokoh NU asal Rembang, Yahya Cholil Staquf atau Yahya Cholil Bisri masuk ke dalam daftar calon Ketua Umum PBNU. Ia lahir pada 16 Februari 1966 dan merupakan putra dari tokoh NU Jawa Tengah yang juga salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Cholil Bisri. Yahya yang lahir dan besar di kalangan pesantren, sudah digembleng ilmu agama sejak dini. Dirinya pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Gadjah Mada/UGM. Selain itu, ia juga menimba ilmu di Mekah.

Yahya Cholil Staquf atau Yahya Cholil Bisri. (Foto: SINDONews)

Yahya pernah menjadi Juru Bicara (Jubir) Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia membacakan dekrit presiden, menjelang lengsernya Gus Dur pada 2001. Setelahnya, Yahya aktif di partai besutan ayahnya pada 2005. Namun, silang pendapat yang ada di dalam tubuh partai menyebabkan keretakan. Yahya pun mundur dan memilih menekuni lebih dalam dunia pendidikan.

4. KH Marzuki Mustamar
Marzuki Mustamar adalah tokoh NU kelahiran Blitar, Jawa Timur, 22 September 1966. Mengutip informasi dalam situs PWNU (Pengurus Wilayah) NU Jatim, ayah Marzuki merupakan seorang kiai yang dihormati di wilayahnya. Marzuki sudah mendapat pendidikan agama Islam yang sangat intens sejak kecil. Bahkan, ia sudah diminta mengajar Alquran saat duduk di bangku Kelas 3 SMP. Pada jenjang perguruan tinggi, Marzuki menuntut ilmu di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Ia juga melanjutkan pendidikan tingkat magisternya di Universitas Islam Lamongan, Jawa Timur.

KH Marzuki Mustamar. (Foto: SINDONews)

Di tubuh PWNU Jatim, Marzuki dipecaya mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah periode 2018-2023, dan merupakan pimpinan Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad.

5. KH Hasan Mutawakkil Alallah
Pendakwah dari Jatim, Hasan Mutawakkil Alallah juga merupakan salah satu dari 5 calon Ketua Umum PBNU yang baru. Hasan lahir di Probolinggo, Jatim, 22 April 1959. Ia masuk ke dalam jajaran pengurus PWNU Jatim.

Hasan sempat menimba ilmu di pondok pesantren di wilayah Sarang, Rembang. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dan berada di bawah asuhan KH Mahrus Ali. Saat belajar di pondok pesantren itu, ia sudah sangat tertarik dengan ilmu tafsir, hadits, fiqih dan nahwu. Pendidikan sarjananya ditempuh di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Namun, di tengah perjalanan Hasan mendapat kesempatan untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir pada 1983.

KH Hasan Mutawakkil Alallah. (Foto: SINDONews)

Melansir laman NU Jatim, Hasan resmi menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim pada 2020. Dirinya terpilih secara aklamasi melalui Musyawarah Daerah ke-10 MUI Jatim, yang dihelat pada 22-23 Desember 2020.

Comment here