Opini

Ratu Kalinyamat, Perempuan Antikolonialisme, Pahlawan Panutan Bangsa Maritim

Oleh: Dr Connie Rahakundini Bakrie, Pakar Pertahanan dan Keamanan

Petualang Inggris abad XVI, Sir Walter Raleigh berkata, “whoever commands  the sea, commands the world.” Inilah “mantra” yang telah “menyihir” bangsa Inggris menjadi bangsa maju dan dihormati. Dengan spirit maritim pula, Amerika Serikat dan China tampil sebagai kekuatan adidaya

Portugis secara langsung tidak menguasai Jepara, namun aneksasinya atas  Malaka dan Maluku merupakan ancaman bagi Ratu Kalinyamat. Selain karena  mengganggu  perdagangan  Jepara,  juga telah mengancam  keberadaan kesultanan Islam di kawasan Asia Tenggara dan Nusantara. Hal  ini memperlihatkan kecerdasan dan kapasitas Ratu Kalinyamat dalam  menanggapi keadaan geopolitik pada waktu itu.

Perempuan Melampaui Zamannya

Ternyata negeri ini pernah memiliki tokoh perempuan yang bukan saja pemikiran,  tetapi keberanian dan wawasannya terkait kekuatan militer dan maritim melampaui  zamannya. Di bawah kepemimpinannya (1549-1579), Ratu Kalinyamat berhasil  membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Kemampuan industri dan kekuatan militer yang dibangun, mampu memimpin era industrialisasi maritim Asia Tenggara. Selain itu, sang ratu tampil sebagai leader (pemimpin) aliansi kekuatan di kawasan (Johor, Aceh, Maluku).

Visi Ratu Kalinyamat dalam aliansi itu adalah mencapai kesejahteraan bersama dan  menghilangkan ancaman/musuh yang besar kala itu, Portugis.

Perempuan pelopor indonesia sebagai negeri Poros Maritim dunia dari abad XVI  sekaligus perintis antikolonialisme ini dikenal begitu gagah berani, hebat, dan  digdaya sehingga Portugis pun memberikan gelar yang sangat menggetarkan  kepadanya: rainha de japora, senhora poderosa e rica, artinya Ratu Jepara,  Perempuan Kaya dan Sangat Berkuasa.

Tomé Pires-Suma Oriental

Ratu Kalinyamat dinobatkan menjadi Ratu Jepara, ditandai dengan candra sengkala  “trus karya tataning bumi”, 10 April 1549. Ia teramat sadar bahwa perang yang terjadi di wilayah sekitarnya akan berpengaruh pada Jepara, utamanya dalam aspek  perdagangan dengan negara-negara seberang lautan serta keamanan, kedaulatan  dan keutuhan Jepara

Menurut Tomé Pires dalam buku Suma Oriental, Jepara pada 1470 adalah sebuah kota  pelabuhan yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan. Pelabuhannya sangat indah dan menghadap ke tiga pulau yang melindungi Jepara dari amukan angin barat.

Jepara menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi. Pelabuhannya bisa  disinggahi kapal-kapal besar dan Jepara menjadi sebuah kekuatan naval besar.

Jepara terbukti memiliki andil besar karena pengaruh kekuasaan yang dipimpin oleh  Ratu Kalinyamat jauh lebih kuat dalam bidang ekonomi dan militer.

Industri & Pakta Pertahanan

Ratu Kalinyamat memandang pentingnya membangun armada laut yang sangat kuat untuk  melindungi kerajaannya yang bercorak maritime, sehingga memiliki posisi politik, ekonomi dan militer yang unggul dalam menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan- kerajaan lainnya hingga ke luar kawasan.

Lalu lintas perdagangan yang begitu pesat berdampak pada industri galangan kapal dagang  dan kapal perang di mana menurut HJ De Graff dan G. Th. Pigeaud (1974) berhasil menjadi  industri terbaik dan terbesar di Asia Tenggara. Ratu Kalinyamat mampu mengembangkan industri dengan analisis informasi atas Threats dan Oportunities yang dikumpulkan intelejen ekonomi dan pertahanan Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat mampu menyediakan analisis tentang tren ekonomi, jalur perdagangan, AGHT  (ancaman, gangguan, hambatan, tantangan), dan konflik serta implikasinya pada peralatan pertahanan dan teknologi yang berbeda (ketebalan kapal 60 cm).

Ratu Kalinyamat mampu memfasilitasi kontak dengan aktor ekonomi perdagangan kawasan  (Johor, Aceh, Hitu) serta pertahanan untuk berbagi pengalaman, operasional serta teknologi  terbaru; maka, Ratu Kalinyamat memperkuat dan menambah jumlah prajurit perangnya hingga  membangun armada maritim yang kuat diikuti pembangunan kekuatan pakta pertahanan dengan kerajaan dan kesultanan Banten, Cirebon, Aceh, Maluku, Malaka, Bangka, Tanjungpura, Lawe  dan Johor.

Kekayaan dan Pengaruh Regional & Internasional

Setelah dihancurkan Portugis, armada dagang Jepara mampu kembali pulih dan meniti hubungan dengan Lawe dan Tanjungpura di Borneo, Bangka dan Amboina dan  menaklukan daerah-daerah tersebut menjadi negeri bawahannya.

Selain di pasar Malaka dan Musantara (Bouchon, 2007: 46), sumber kekayaan Ratu Kalinyamat berikutnya adalah perdagangan rempah-rempah.

Fakta bahwa rempah-rempah menjadi sumber penting kekayaan Kalinyamat adalah bahwa Jepara beberapa kali menggerakan perlawanan terhadap Portugis.

Jepara memiliki pengaruh besar di Hitu yang tidak mengakui Sultan Ternate sebagai pemimpin mereka.

Kesemuanya kembali menjadikan pelabuhan Jepara sebagai pelabuhan inti transaksi perdagangan timur–barat Nusantara berskala regional dan internasional kala itu.

Musuh Portugis yang Berani

Sumber-sumber Portugis menggambarkan bahwa sang ratu adalah musuh yang berani menyerang Portugis di tahun 1551, 1568, dan 1574 dengan mengirim 300 kapal, termasuk 80 jung dengan 15.000 pasukan. Jumlah dan ukuran armada kapal disetarakan oleh sejarawan besar Meilink-Roeloefsz (1962:149) dengan armada Adipati Unus, yang melakukan penyerangan Malaka pada tahun 1512-1513.

Untuk memahami sikap antikolonialisme Ratu Kalinyamat, harus membaca karya Jorge de Lemos, Cercos de Malaca (Pengepungan Malaka) dan kajian kritis dari John Villiers  terkait karya Lemos dalam artikel jurnal berjudul “Aceh, Malaka dan The Hystoria dos  Cercos de Malaca of Jorge de Lemos”.

Lemos berpandangan bahwa serangan yang dilakukan Aceh dan sekutunya menjadi sangat menonjol karena adanya bantuan dari Jepara. Lemos sangat menekankan peran Ratu Kalinyamat dalam terbentuknya aliansi antara Johor, Aceh, Maluku, dan Jepara.

Lemos menganggap Jepara sebagai sekutu yang kuat dan sangat diperlukan. Pada saat pengepungan Malaka 1574, Ratu Kalinyamat-lah yang memerintah dan bertanggung jawab. Bahkan, dalam Cercos de Malaca, Lemos memuji peran penting Ratu Kalinyamat dalam aliansi melawan dominasi Portugis di Selat Malaka.

Ratu Kalinyamat merupakan ratu yang kuat, seorang perempuan yang ditakuti, berdasarkan kekayaan produksi dan ekspor kerajaannya.

Peran Ratu Kalinyamat sangat penting dalam penyebaran dan penguatan politik/ekonomi di Jawa dan Nusantara.  Mulai dari Jepara hingga pesisir utara Jawa, bahkan memperkuat aliansi dengan Johor, Aceh, dan Hitu.

Ratu Kalinyamat memiliki strategi yang sangat jelas dan tegas yang beroreintasi menciptakan kesejahteraan bersama di antara Kesultanan Islam (Johor, Aceh, dan Hitu).

Sang ratu mengorganisasi serangan didasari niat untuk merebut kembali hegemoni perdagangan dan kekuasaan di Selat Malaka dan Nusantara.

Hampir setiap negara normal akan sadar tentang pentingnya urat nadi lautan dan  akan berusaha keras untuk memiliki kekuatan militer besar sekaligus modern untuk  mengantisipasi titik-titik strategis tersebut. Dalam sejarah militer dunia, kita dapat  menemukan bahwa masalah ‘teritorial’ baik darat, laut, dan udara menjadi  penyebab konflik paling sering antarnegara.

Untuk mengoptimalkan pembangunan kekuatan Poros Maritim di tingkat lokal, nasional, dan global, dibutuhkan arah, orientasi, strategi, dan antisipasi  pembangunan yang efektif.

Diperlukan segenap daya, upaya, keunggulan sumber daya, posisi strategis, dan geopolitik yang perlu diarahkan untuk menjawab tantangan global demi keunggulan Indonesia.

Pada era Presiden Soekarno, Indonesia dikenal sebagai negara terkuat di bumi bagian selatan serta memiliki efek deterrence (jera) yang kuat dari sisi politik dan pertahanan sehingga memungkinkan kebijakan politik, utamanya kebijakan luar negeri terkait akan harga diri, kehormatan martabat, pertahanan dan keamanan  bangsa, didukung oleh kekuatan pertahanan serta militer yang sangat mumpuni.

Meskipun kebijakan poros maritim dunia Presiden Jokowi sejak 2014 telah mencapai berbagai kemajuan, yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas melalui tol  laut, pembangunan 477 pelabuhan, memimpin kerja sama maritim di PBB  serta memajukan kerja sama kawasan Indo Pasifik, tetapi satu aspek yang masih tertinggal jika belajar dari kepemimpinan Ratu Kalinyamat adalah terkait pembangunan kekuatan militer. Kemampuan militer yang dibangun dari hasil ekonomi perdagangan Jepara ditujukan Ratu Kalinyamat sepenuhnya untuk memerangi segala bentuk kontrol & ‘kolonialisme warna baru’ di kawasan.

Comment here