Ekonomi

Resensi Buku “The Art of Leadership in Crisis”: Ketika Karnoto Mohamad Menularkan Pengalaman dan Strategi Bisnis “Sembilan Naga”

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id– “The experience is the best teacher (pengalaman adalah guru terbaik),” kata pepatah.

“Strategi adalah senjata utama dalam perang,” kata Sun Tzu (544-496 SM), filsuf dan ahli strategi perang asal Tiongkok kuno yang menulis buku, “The Art of War” (Seni Berperang).

Mungkin terinspirasi oleh dua ungkapan itulah maka Karnoto Mohamad, Pemimpin Redaksi “The Asian Post” dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Infobank, menulis buku “The Art of Leadership in Crisis” (Seni Kepemimpinan di dalam Krisis) (2023). Ia ingin menularkan pengalaman dan strategi sembilan pemimpin bisnis senior, sebut saja “sembilan naga” dalam menghadapi krisis kepada para pembaca bukunya.

Karnoto Mohamad (kanan) dan Ridha Wirakusumah. (Istimewa)

Ya, peraih Magister of Economy dari Universitas Trisakti, Jakarta, ini mencoba menggali pengalaman “sembilan naga” yang kemudian ia tularkan kepada para pembaca, karena pengalaman adalah guru terbaik. Menurut KM, panggilan akrab Karnoto Mohamad, cara menyelesaikan krisis seperti yang ada di buku teks saja tidak cukup, tetapi harus berdasarkan pengalaman dan seni kepemimpinan dari seorang “leader” (pemimpin).

KM juga ingin berbagi rahasia yang dimiliki “sembilan naga” itu, mulai dari bagaimana mereka merespons masalah, mengidentifikasi penyebabnya, hingga kemudian menyusun strategi dan membangun tim untuk bersama-sama melewati krisis dan menyelamatkan perusahaan.

Seperti kata Sun Tzu, strategi adalah senjata utama dalam perang. Sebab itu, judul bukunya pun mirip dengan judul buku yang ditulis Sun Tzu.

Buku yang diterbitkan Infobank Publishing ini diluncurkan pada acara “Top 100 CEO and The Next Leader Forum 2023” yang digelar Infobank Media Group bersama Ikatan Bankir Indonesia di Jakarta, Selasa (5/12/2023).

Dengan gaya bertutur atau narasi khas seorang jurnalis, plus analisis serta pengalaman menjadi “ghost writer” sejumlah pemimpin bisnis yang berhasil, dalam bukunya KM menceritakan kisah dan praktik kepemimpinan “sembilan naga” yang berhasil menyelesaikan krisis di perusahaan masing-masing.

Adapun “sembilan naga” itu adalah Mochtar Riady (memimpin krisis 1966 dan BCA pada 1975), Dahlan Iskan (memimpin krisis di Jawa Pos pada 1982), Mu’min Ali Gunawan (memimpin PaninBank saat krisis 1998), Djohan Emir Setijoso (memimpin krisis di BCA pada 1998), Agus Martowardojo (memimpin krisis di Bank Mandiri pada 2005), Batara Sianturi (memimpin Citi Hungaria pada krisis global 2008), Elia Massa Manik (memimpin krisis di Elnusa pada 2011), Tigor Siahaan (memimpin krisis di Citibank pada 2011 dan Bank CIMB Niaga pada 2016) dan Ridha Wirakusumah (memimpin krisis di Permata Bank pada 2017).

Dalam bab “Pendahuluan”, KM memaparkan bahwa “bussiness leader” (pemimpin bisnis) dengan kualifikasi dan pengalaman seperti yang mereka miliki sangatlah langka sehingga sangat penting untuk ditulis bagaimana mereka berhasil mengimplementasikan kepemimpinan dalam krisis. Berdasarkan riset pustaka dan wawancara langsung, para pemilik perusahaan yang sedang krisis selalu mencari orang yang dipercaya mampu menyelesaikan krisis berdasarkan kemampuan dan pengalamannya. Umumnya sulit didapatkan, karena jarang dan kalaupun ada mereka pasti sedang memimpin, dan belum tentu bersedia. Kalaupun bersedia, bukan alasan uang, tapi soal tantangan, kehormatan dan kredibilitas, atau karena ingin memberi kontribusi yang lebih besar bagi industri atau negara (halaman xxvi).

Sejumlah chief executive officer (CEO) yang saat ini aktif memimpin perusahaan, ikut memberikan pengantar di buku ini, yaitu Jahja Setiaatmadja (CEO Bank Central Asia/BCA) dan Darmawan Junaidi (CEO Bank Mandiri). Sedangkan Eko B Supriyanto (Chairman Infobank Media Group) memberikan prolog.

“Sembilan pemimpin bisnis yang ditulis pengalamannya ketika menghadapi krisis di dalam buku ini ada benang merah yang dapat dijadikan pijakan, yaitu krisis merupakan bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Tidak menjadikan krisis sebagai sebuah ‘hantu’ yang menakutkan, melainkan di tengah krisis selalu ada peluang untuk tumbuh dan membangun reputasi. Krisis mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah, karena setiap masalah memiliki solusinya sendiri,” kata Eko B Supriyanto dalam prolognya (halaman xii).

“Saya percaya buku ini dapat menjadi sumbangsih nyata bagi para pelaku bisnis dan manajemen perusahaan dalam menghadapi berbagai potensi krisis yang dapat datang kapan saja. Terlebih lagi praktik dan pengalaman nyata yang diceritakan dalam buku ini adalah orang-orang dengan kapabilitas yang tak perlu diragukan lagi,” tulis Jahja Setiaatmadja dalam kata pengantarnya (halaman ix).

“Krisis tidak mengenal waktu, tempat atau pun aspek kehidupan. Krisis datang silih berganti memberikan tantangan sulit bagi semua pihak. Dari buku ini, kita dapat menggali hikmah dan pelajaran dari setiap pengalaman tersebut, sehingga kita akan menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian,” tulis Darmawan Junaidi, juga dalam kata pengantarnya (halaman xi).

Sejumlah CEO ternama di sektor jasa keuangan ikut memberi testimoni di sampul halaman buku berukuran 15 cm x 23 cm ini, di antaranya Royke Tumilaar (CEO Bank Negara Indonesia/BNI), Darmawan Prasodjo (CEO PLN), Meliza Rusli (CEO Permata Bank), Juliati Boddhiya (CEO Asuransi Central Asia), Yuddy Renaldi (CEO Bank BJB), Haryanto T Budiman (Ketua Umum Ikatan Bankir Indonesia), dan Fathan Subchi (Wakil Ketua Komisi XI DPR RI).

“Praktik kepemimpinan dalam krisis oleh 9 ‘corporate leaders’ yang diceritakan dalam buku ini sangat inspiratif. Di antara mereka ada Pak Agus Martowardojo saat memimpin krisis di Bank Mandiri pada 2005. Saya menyaksikan bagaimana kepemimpinan beliau yang sangat berani dalam mengambil keputusan dengan cepat meskipun berisiko hingga berhasil menyelamatkan Bank Mandiri,” tulis Royke Tumilaar dalam testimoninya.

“Kepemimpinan seorang ‘leaders’ diuji ketika sebuah korporasi berhadapan dengan situasi sulit. Kisah 9 pemimpin hebat dalam buku ini yang berhasil menyelesaikan krisis sangat menginspirasi khususnya bagi para CEO dan eksekutif. Saya sangat merekomendasikan buku ini bukan hanya bagi para CEO, melainkan para ‘future leaders’ (pemimpin masa depan), untuk membaca buku yang menginspirasi ini,” tulis Yuddy Renaldi, juga dalam testimoninya.

Data buku
Judul: The Art of Leadership In Crisis: Kisah 9 Corporate Leaders yang Berhasil Menyelesaikan Krisis
Penulis: Karnoto Mohamad
Jumlah Halaman: 248
Ukuran: 15 cm x 23 cm
Penerbit: Infobank Publishing
ISBN: 978-979-8338-23-6

Profil Penulis

Karnoto Mohamad menyelesaikan Strata 1 (S1) di bidang manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) Jakarta pada 2000 dan menyelesaikan Magister (S2) di bidang ekonomi di Universitas Trisakti, Jakarta, tahun 2020.

Keaktifannya di bidang jurnalistik dimulai pada masa kuliah dengan menjadi reporter hingga pemimpin redaksi di majalah kampus. Kariernya sebagai wartawan profesional dimulai dengan menjadi reporter Majalah Infobank pada 2001 dan sampai saat ini sudah menulis lebih dari 1.000 artikel dan “news analysis” di bidang keuangan dan perbankan, moneter, fiskal, sektor riil, hingga manajemen, korporasi, dan kepemimpinan.

Selain karier jurnalistiknya berkembang dengan menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Infobank pada 2008 dan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi sejak 2013, KM juga mendapatkan tugas manajerial lain perusahaan dengan menjadi Direktur Produksi sampai sekarang dan sempat merangkap sebagai Direktur Human Capital 2015-2019 lalu, dan sejak 2019 sampai sekarang memimpin direktorat produksi sekaligus direktorat bisnis di Infobank Media Group yang memiliki lini bisnis media, advertising, digital, research, event management, komunikasi, dan pendidikan.

Sambil memegang tanggung jawab di bidang pengembangan bisnis, KM masih sangat aktif melaksanakan tugas jurnalistik seperti wawancara dan menulis maupun diskusi dengan jabatan redaksional sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Infobank, dan sejak awal 2023 hingga sekarang juga menjadi Pemimpin Redaksi The Asian Post, salah satu media yang bernaung di bawah payung Infobank Media Group.

Kelemahan

Kalaupun ada sedikit kelemahan dalam buku ini adalah tidak semua disertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia ketika muncul istilah-istilah dalam bahasa asing (Inggris). Tapi mungkin penulisnya menyadari bahwa istilah-istilah itu sudah familiar bagi kalangan ekonom dan perbankan, dan juga masyarakat Indonesia saat ini sudah banyak yang melek bahasa Inggris.

Begitu pun judul buku ini yang menggunakan bahasa Inggris, tidak disertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, apalagi isi buku pun berbahasa Indonesia. Tapi, sekali lagi, mungkin penulisnya menyadari bahwa masyarakat Indonesia sudah banyak yang melek bahasa Inggris.

Dan satu hal lagi, mungkin penulis terpengaruh judul buku karya Sun Tzu yang dikaguminya itu: “The Art of War”. Apalagi “sembilan naga” yang diangkat dalam buku ini sesungguhnya mereka sedang berperang ketika menghadapi krisis.

Pendek kata, buku ini enak dibaca karena gaya penulisannya naratif dan analitis, dan perlu karena mengandung rahasia berupa pengalaman dan strategi dalam mengatasi krisis di dunia bisnis yang bisa dijadikan pelajaran, karena guru terbaik adalah pengalaman, dan senjata utama dalam perang adalah strategi.

Selamat membaca!

Comment here