Ekonomi

Respons Kemenkeu Usai Bambang Trihatmodjo Keukeuh Berkelit Soal Utang SEA Games

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – “Argumen dari debitor merupakan hak yang bersangkutan,” kata Direktur Piutang Negara dan Kekayaan Lain-lain Kementerian Keuangan Lukman Effendi dikutip dari Tempo.co, Ahad (19/9/2021).

Lukman merespons sikap Bambang Trihatmodjo yang terus berkelit memiliki utang SEA Games XIX/1997 ke negara. Putra mantan Presiden Soeharto itu berkilah, bukan dia yang berutang tapi pihak lain. Kementerian Keuangan mempersilakan Bambang menyampaikan pandangannya tersebut.

Menurut Lukman, Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) hanya menerima penyerahan piutang macet terhadap Bambang dari Kementerian Sekretariat Negara. Sehingga, kata dia, konsekuensi hukum yang menimbulkan piutang ini tentu sudah dilakukan pengkajian matang oleh Kemensetneg. “Sehingga, PUPN melakukan proses hukum sesuai data dan informasi dari Kemensetneg,” kata dia.

Bambang Trihatmodjo. (Foto: detikcom)

Sebelumnya, suami dari Mayangsari itu pada 25 Agustus lalu kembali mengajukan gugatan ke pengadilan atas tagihan ini untuk kesekian kalinya. Kali ini, dia mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta.

Dalam gugatan itu, majelis hakim diminta untuk menyatakan Bambang yang notabene ketua konsorsium tidak memiliki kewajiban ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta 1. Sebaliknya, hakim diminta menetapkan pihak lain sebagai pelaksana konsorsium, yang bertanggung jawab atas utang piutang yang terjadi.

Di sejumlah pemberitaan disebutkan Menteri Keuangan Sri Mulyani menagih utang sebesar Rp 50 miliar kepada Bambang. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu membantah dan menyatakan tidak pernah mempublikasikan angka tersebut. Sebab, nilai utang termasuk daftar informasi yang dikecualikan.

Di sisi lain, aneka gugatan oleh Bambang sudah dilayangkan sejak 2020. Salah satunya karena Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sempat mencekal Bambang. Sampai hari ini, proses penagihan belum sampai pada penyitaan aset.

Meski demikian, Lukman menyebut bentuk eksekusi oleh PUPN sebenarnya cukup beragam. Pencekalan pun adalah salah satu bentuk eksekusi. Selain itu, ada penyitaan dan pelelangan aset, bahkan penyanderaan.

PUPN sebagai pengurus piutang negara, kata dia, tentu akan mempelajari langkah yang tepat untuk menerapkan kewenangannya. “Semua opsi memungkinkan untuk dilaksanakan,” ujarnya soal penagihan utang di antaranya ke Bambang Trihatmodjo.

Comment here