Hankam

RI Khawatir, AUKUS Tingkatkan Ketegangan di Indo-Pasifik

Editor: Dwi Badarmanto

Jakarta, KABNews.id – “Saya singgung mengenai AUKUS dan keputusan Australia untuk pengadaan kapal selam bertenaga nuklir,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi ketika menyampaikan keterangan pers secara virtual dari New York, Amerika Serikat (AS), dikutip dari Beritasatu.com, Rabu (22/9/2021).

Ya, Pemerintah Republik Indonesia (RI) mencermati dan mengkhawatirkan meningkatnya ketegangan di antara negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik, menyusul pengumuman inisiatif pertahanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AS),yang disingkat AUKUS.

Melalui kemitraan baru tersebut, Australia akan mendapatkan teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir guna memperkuat angkatan lautnya. Kesepakatan AUKUS dianggap bertujuan untuk menyaingi kekuatan Tiongkok yang semakin meningkat di kawasan.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. (Foto: Tempo.co)

Selain itu, kesepakatan baru Australia dengan Inggris dan AS itu juga telah memicu kemarahan Perancis, yang sebelumnya memiliki perjanjian dengan Australia soal pembelian kapal selam konvensional.

Ketika berbicara pada forum Asia Society yang berlangsung secara virtual pada Selasa (21/9/2021), Menlu Retno mengatakan bahwa Indonesia mencatat komitmen-komitmen yang dinyatakan Australia, termasuk janji negara itu untuk terus menghormati prinsip nonproliferasi nuklir dan hukum internasional.

“Tetapi saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection (unjuk kekuatan) di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan,” kata Menlu RI.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga memperingatkan soal meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan AS. Ia khawatir persaingan antar-kedua negara adidaya tersebut akan membawa dunia menuju dua setelan aturan ekonomi, perdagangan, keuangan, dan teknologi yang berbeda, dua pendekatan yang berbeda dalam pengembangan kecerdasan buatan, dan pada akhirnya dua strategi militer dan geopolitik yang berbeda pula.

“Ini mungkin menjadi bencana. Ini akan jauh lebih sulit diprediksi daripada Perang Dingin,” ujar Guterres pada pembukaan Sidang ke-76 Majelis Umum PBB di New York, Selasa (21/9/2021).

Comment here