Politik

Rudi S Kamri: Seruan Jihad Hanya Pengalihan Isu

Editor: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, KABNews.id – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB) Rudi S Kamri menilai, seruan jihad yang dikumandangkan sejumlah organisasi kemasyarakatan seperti Front Persaudaraan Islam (FPI), Persaudaraan Alumni (PA) 212, dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) hanyalah sekadar pengalinan isu.

“Itu cuma pengalihan isu. Biasa, setiap bulan September jualan mereka adalah isu PKI. Nah, isu PKI ini lambat-laun tidak laku lagi. Sebab itu, mereka melakukan seruan yang sama, berulang-ulang, dari tahun ke tahun.Tapi tujuannya hanya untuk pengalihan isu,” ungkap Rudi S Kamri di Jakarta, Kamis (23/9/2021).

Tragedi kelam pemberontakan Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia sehingga kemudian disebut sebagai G 30 S PKI, kata Rudi, memang patut disesalkan bahkan dikutuk, supaya hal tersebut tidak terulang kembali. “Tapi jualan isu bahwa kini PKI bangkit kembali, ada neokomunisme, itu sekadar isapan jempol belaka, tak ada faktanya,” jelas Rudi yang juga pegiat media sosial.

Komunisme, jelas Rudi, adalah ideologi yang sudah bangkrut di seluruh dunia, sehingga negara-negara di dunia sudah meninggalkan ideologi tersebut, termasuk Rusia, China, dan Kuba, yang “judul” ideologinya tetap komunisme, tapi “isi” atau perekonomiannya sudah menggunakan sistem pasar bebas. “Hanya Korea Utara yang hingga kini masih setia dengan ideologi komunismenya,” cetus Rudi.

Rudi S Kamri. (Foto: Dokumen pribadi)

Sebab itu, kata Rudi, hanya bangsa atau orang-orang bodoh yang masih berpegang pada komunisme. “Makanya di Indonesia isu komunisme juga tidak laku. Tapi mereka memandang masih ada kader atau simpatisan PKI di Indonesia. Itu pandangan yang mengada-ada. Tidak faktual dan tidak realistis. Kalau ada orang yang menyebarkan ajaran komunisme, satu saja, silakan tangkap dan serahkan kepada polisi,” pinta Rudi.

“Kalau ada seruan jihad, jihad untuk apa dan kepada siapa? Siapa yang mau dilawan atau diperangi?” tanya Rudi.

Pria dengan ciri khas kumis tebal ini bahkan menengarai jihad dan isu PKI sengaja diserukan kembali untuk mengalihkan isu bangkitnya radikalisme dan ektremisme di Indonesia.

Radikalisme dan ektremisme di Indonesia bangkit, kata Rudi, dipicu oleh sejumlah peristiwa. Pertama, kemenangan kelompok radikal Taliban atas pemerintah Afghanistan. Kedua, terbunuhnya Ali Kalora, pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) baru-baru ini di Poso, Sulawesi Tengah. Ketiga, ditangkapnya lebih dari 53 terduga teroris oleh Densus 88/Antiteror Polri. Keempat, aksi kamuflase Irjen Napoleon Bonaparte menganiaya M Kace, tersangka penistaan agama, di Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Napoleon berdalih aksi konyolnya itu demi membala Islam. Rudi menilai dalih Napoleon hanya alibi dan kamuflase belaka. “Isu-itu itulah yang kini hendak dialihkan mereka dengan isu kebangkitan PKI,” tandas Rudi.

Diberitakan, Front Persaudaraan Islam (FPI), Persaudaraan Alumni (PA) 212, dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) membuat seruan jihad. Seruan ini ditandatangani oleh ketiga ketua umum ormas masing-masing.

Dalam seruannya, ketiganya mengingatkan bahwa pada bulan ini ada kejadian kelam yang menimpa bangsa Indonesia. Yakni, pemberontakan G 30 S/PKI yang menewaskan enam jenderal dan 1 perwira TNI, serta ulama dan santri.

Oleh karena itu, ketiga ormas ini menyerukan, khususnya umat Islam untuk kampanye menolak lupa atas insiden tersebut. Adapun tema yang diambil ialah “Komunis Itu Nyata, Tolak Karena Kita Pancasila”.

“Pertama, jihad melalui media sosial dan media online. Kedua, mengajak keluarga dan sahabat menonton film G 30 S/PKI dengan prokes,” tulis seruan bersama seperti dilansir sejumlah media, Jumat (17/9/2021).

Ketiga, mengadakan diskusi, talk show, simposium virtual, dan napak tilas dengan menghadirkan pelaku dan saksi sejarah G 30 S/PKI di daerah.

Keempat, seruan pada 30 September 2021 mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang untuk penghormatan Pahlawan Revolusi.

Kelima, melantunkan doa kepada para pahlawan dan keluarganya yang menjadi korban peristiwa tersebut.

Ketiga ormas ini lantas mengingatkan agar masyarakat waspasa terhadap bangkitnya kembali neo-komunisme.

Comment here